Kenangan Rumah Pertama

Thu, 06/08/2017 - 20:45

Sudah tiga bulan lebih pindah rumah, baru sekarang aku sempat mengeluarkan dan menyusun kotak berisi foto-foto ini. Kutaruh di dalam laci di bawah televisi kecil yang baru kemarin dibeli, hitam putih. Kata suamiku itu yang paling murah yang ada di toko. Foto saja sudah berwarna, walau foto lama yang hitam putih tetap menarik, seperti foto suamiku dengan temannya di atas sepeda motor yang dia impi-impikan tapi tak mampu beli. Waktu berjalan… bukan, bukan berjalan… berkelebat mungkin lebih tepat. Kalau tidak ada foto-foto ini, bagaimana aku bisa ingat masa lalu? Setiap hari sibuk mengurus anak-anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ditambah membuat kue untuk dijual, semua berkelebat, tanpa dinikmati. Hanya waktu memandangi foto-foto lama, memainkan ulang kejadian-kejadian saat foto itu diambil, peristiwa lama terbayang bagaikan menonton adegan film yang diputar lambat. Rasanya saat melihat foto itu barulah aku menikmati detik-detik dalam kenangan.

Papa dan Sepeda Motor
Bergaya di atas sepeda motor punya orang.

*

Tadi aku ke dapur sebentar karena sayup-sayup kudengar rintihan Bandit. Aih…. kesalku kembali memuncak. Memang sih anak anjing putih kecil itu sangat lucu menggemaskan, anak-anak senang bukan main waktu bapaknya bawa pulang. Yang bikin aku kesel itu karena dia membayar sangat mahal untuk anak anjing itu. Orang lain hanya perlu memberikan imbalan sebungkus gula jika diberi anak anjing. Suamiku yang royal itu membelinya dengan uang sepuluh ribu! Sepuluh ribu! Itu lebih dari sepertiga gajinya sebulan lima tahun yang lalu. Selain marah sama suamiku, aku juga marah sama temannya. Teman apa itu? Menjual anak anjingnya kepada temannya sendiri dengan harga begitu mahal. Menjual anak anjingnya saja sudah satu dosa, dengan harga mahal kepada teman sendiri, itu dosanya sudah dobel. A Sia beri nama anjing itu Bandit. Karena dia merintih terus, aku ke dapur melihatnya. Ternyata dia menjatuhkan mangkuk kecil tempat air minumnya, mungkin terlalu tinggi bagi dia, jadi kuganti dengan piring kaleng. Dia minum dengan lahap, kemudian tidur kembali. 

Kuambil satu album dan mulai membukanya. Ah… satu-satunya foto dari rumah tempat kami tinggal ketika pertama pindah ke kota Padangsidimpuan ini. Itu pun rumah kami tidak kelihatan, yang kelihatan hanya bagian depan rumah Uni. Terimakasih Uni sudah memberikan foto ini kepadaku… Maafkan aku sudah lama tidak mengunjungi kalian. Kapan-kapanlah aku usahakan singgahi kalau belanja ke pajak. 

Rumah lama
Jalan K.H. Agus Salim. Aku bersarung duduk depan jendela memangku A Chui.

Walau hanya setahun tinggal di rumah itu, tapi kenangan selama tinggal di sana tidak terlupakan. Setiap dini hari antara pukul empat dan lima, aku akan terbangun oleh teriakan “satu, dua, tiga!!!” dari para penjual ikan di pajak Batu yang menaik-turunkan tong-tong besar berisi ikan. Beberapa orang lain menghancurkan balok es batu untuk menjaga kesegaran ikan. Rumah kami yang berjarak hanya beberapa meter dari pajak Batu itu terdiri dari dua tingkat... tiga, jika dihitung “bawah tanah”nya yang berfungsi sebagai dapur dan kamar mandi. Dinding bawah tanah itu tidak disemen, penuh lubang dan dari lubang itu sering keluar masuk semut-semut raksasa. Itu pertama kalinya aku melihat semut sepanjang hampir dua sentimeter. Lantai satu adalah gudang toko barang pecah belah Asia Raya. Kami tinggal di lantai dua, ada 2 kamar tidur dengan satu pintu penghubung dan satu ruangan di depan dengan meja kursi yang kami jadikan ruang makan sekaligus tempat anak-anak belajar. Perabot kami hanya meja kursi itu, satu kasur, dan satu lemari setinggi satu meter tempat makanan disimpan. Pakaian yang tidak seberapa disusun dalam koper butut dan kotak karton. Setiap malam A San berdiri di tangga bawah tanah menunggu aku menyerahkan nasi dan lauk yang telah kumasak kepadanya, lalu dia bawa makanan itu ke tangga di lantai pertama di mana A Sia sudah menunggu. A Sia akan bawa ke lantai dua… demikian mereka estafet makanan itu. Makan bersama ini kami lakukan setiap malam sambil mendengarkan radio yang menyiarkan lagu-lagu pop dari Malaysia. Aih… sekarang tidak ada yang mendengar lagu Malaysia lagi. Belakangan yang kudengar terus adalah lagu-lagu Kenny Rogers atau One Way Ticket to the Blues. Aku sudah lama tak mendengar suara merdu Sharifah Aini mendendangkan lagu Seiring Jalan. Biasanya A Sia yang paling rajin mencatatkan lirik lagu-lagu kesukaan kami. Entah menunggu berapa kali lagu itu mengudara baru selesai tercatat. 

Teringat A Sia mencatatkan lagu, jadi ingat dia juga yang rajin membacakan komik yang kami pinjam dari kios Dahlena di pajak Batu. Bang Golom, begitu anak-anak memanggilnya, sangat baik. Kiosnya selalu ramai. Ada yang duduk membaca di kursi yang dia sediakan di samping kios, dan ada yang membawa pulang buku sewaan. 

Melalui pajak Batu ini juga adalah jalan potong dari rumah ke toko besi tempat suamiku kerja. Rumah itu memang disewa oleh majikannya untuk kami tinggali. Suamiku kemudian berhenti kerja untuk mengejar hidup yang lebih layak. Penghasilannya tidak mencukupi lagi untuk menghidupi kami apalagi sejak kelahiran Noni. Aku juga tidak ingin dia hidup mengandalkan gaji. Uangnya setengah habis untuk bayar utangku belanja di toko Tian Bao di pajak Batu.

SMP Katolik

Selembar foto terjatuh ke pangkuanku. Foto A San dan A Sia tamat SMP. A Sia berdiri paling kiri di belakang A San. Kuamati satu persatu wajah teman-teman mereka. Wajah yang kukenal baik di situ tentu saja Efi boru Regar di sebelah A Sia, lalu ada Mei yang duduk di sebelah Baginda Batubara, teman A San main badminton. Sayang sekali mereka tidak melanjut ke SMA yang sama.

Aaah…. A Hai nangis… wah, sudah hampir pukul sebelas, pasti digigit nyamuk lagi dia. Lebih baik aku tidur sekarang, besok pukul empat sudah harus bangun buat cakwe.

Baca juga: Menjelang Pindah Kontrakan

SaveSave

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.