“Memoles” Berita

Sat, 06/24/2017 - 20:07

Berita yang selintas terbaca OK, terkadang memerlukan perbaikan uraian, bukan berdasarkan selera, melainkan atas dasar pertimbangan kepatutan dalam memakai bahasa. Berikut ini salah satu contohnya.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/23/17180101/tiup.peluit.anies.lepas.pemudik.di.stasiun.senen

*

Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan, melepas keberangkatan Kereta Api Gumarang di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Jumat (23/6/2017) sore. Peristiwa ini menjadi cerita di media massa, soft news, kejadian yang tidak bernilai penting tetapi menarik perhatian publik.

Dalam laporan itu antara lain terbaca kalimat “Ketika tiba di stasiun, Anies menyempatkan diri berinteraksi dengan pemudik di luar stasiun yang berjejalan menunggu keberangkatan kereta.” 

Seberapa penting kata “menyempatkan diri” muncul dalam kalimat itu? Rasanya tidak begitu penting. Menyapa orang-orang di stasiun ketika tiba di sana adalah hal yang sangat biasa. Di situ tak perlu kata “menyempatkan diri”. Kata “menyempatkan diri” selayaknya dipakai untuk sesuatu yang sangat jauh atau tak ada hubungannya dengan kegiatan utama. Misalnya; X dari Jakarta datang ke Yogyakarta untuk berseminar. Sehabis seminar, sebelum kembali ke Jakarta X “menyempatkan diri” (menyediakan waktu) menengok mantan dosennya di UGM, Y yang kini tinggal di Green Hills, Sleman.

Untuk penulisan laporan, kepada wartawan disarankan agar memakai bahasa sehari-hari dan kata yang pengertiannya spesifik. Kata “berinteraksi” bukan kata yang bemakna spesifik. “Interaksi” bermakna sama-sama melakukan aksi (dan bersifat saling), berhubungan, memengaruhi; antarhubungan. Jika Anies menyapa orang-orang yang hendak mudik, itu dapat dikatakan sebagai kegiatan sambil lalu. Akan lebih baik dan lebih jelas jika dinyatakan dengan “menyapa”. “Menyapa” mengandung pengertian yang lebih spesifik dibandingkan dengan “berinteraksi”. Kalimat itu akan lebih sederhana --tanpa pengurangan fakta-- jika ditulis; “Ketika tiba di sana, Anies menyapa pemudik yang berjejalan di luar stasiun.

Coba perhatikan rangkaian dua kalimat berikut ini:

 "Mau mudik ke mana nih?" tanya Anies kepada sejumlah pemudik, Jumat. Namun pemudik di stasiun nampak riuh melihat kehadiran Anies.

 + Kata “Jumat” tak ada gunanya di situ karena unsur when sudah ada dalam lead berita.

 + Apa perlunya mengawali kalimat kedua dengan kata “namun”? Jika pertanyaan Anies (Mau mudik ke mana nih?) tidak dijawab orang-orang yang berjejal itu karena suasananya riuh, kata “namun” layak muncul di awal kalimat kedua. Tapi dengan kalimat yang memang pantas diawali dengan “namun”. Misalnya; "Mau mudik ke mana nih?" tanya Anies kepada sejumlah pemudik. Namun sapaan itu tidak dijawab, karena suasana riuh setelah para pemudik itu melihat kehadiran Anies. Jika dijawab, tapi jawabannya tidak terdengar, katakan saja; "Mau mudik ke mana nih?" tanya Anies kepada sejumlah pemudik. Jawaban orang yang ditanya tenggelam dalam suasana riuh ketika para pemudik itu melihat kehadiran Anies. 

+ Tidak dapat disebut “pemudik di stasiun nampak riuh”, karena yang riuh bukan manusia, melainkan suasana. 

+ “Riuh” adalah kata yang menunjukkan keadaan (tentang suara/bunyi). “Riuh” tidak tampak, tapi terdengar. 

Oleh karena itu klausa “pemudik di stasiun nampak riuh melihat kehadiran Anies” sebaiknya berbunyi “suasana di stasiun jadi riuh ketika para pemudik melihat kehadiran Anies”.

Kalimat berikutnya antara lain; “Anies langsung masuk ke Gerbong 3 KA Gumarang dan bersalaman dengan para pemudik yang sudah siap berangkat.” 

Para pemudik yang berada dalam gerbong itu adalah penumpang, dan KA Gumarang memang akan berangkat. Anies justeru akan memberikan komando keberangkatan untuk kereta itu sebentar lagi. Karena itu, frase “yang sudah siap berangkat” tak perlu muncul. Katakan saja; “Anies masuk ke Gerbong 3 KA Gumarang dan bersalaman dengan para penumpang.”

Kalimat selanjutnya; “Saat turun dari kereta, Anies kemudian menuju lokomotif dan terlihat berbincang dengan masinis yang akan membawa pemudik ke Jawa Timur.” Kalimat ini aneh. Bagaimana mungkin “kemudian menuju ...” pada “saat turun dari kereta”.  Kalimat itu sebaiknya berbunyi, “Setelah turun dari kereta, Anies menuju lokomotif dan berbincang dengan masinis yang akan membawa pemudik ke Jawa Timur.” Atau; “Anies turun dari kereta, kemudian menuju lokomotif dan berbincang dengan masinis yang akan membawa pemudik ke Jawa Timur.” Kata “terlihat” sama sekali tak perlu ada di situ.

Berita

*

Jika uraian dipoles dan bahasa dibuat lebih hemat, berita yang sebelumnya terdiri dari 966 karakter (spasi tidak dihitung) dapat menjadi 868 karakter. Hasil polesan seperti berikut ini.

Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan, melepas keberangkatan Kereta Api Gumarang di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Jumat (23/6/2017) sore.

Ketika tiba di sana, Anies menyapa pemudik di luar stasiun yang berjejalan menunggu keberangkatan kereta.

"Mau mudik ke mana nih?" Anies bertanya. Tapi jawaban orang yang ditanya tenggelam dalam suasana riuh setelah para pemudik itu melihat kehadiran Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu kemudian masuk ke area peron didampingi sejumlah pejabat PT KAI.

Anies masuk ke Gerbong 3 KA Gumarang dan bersalaman dengan para penumpang.

Setelah turun dia menuju lokomotif dan berbincang dengan masinis yang akan membawa pemudik ke Jawa Timur.

Anies kemudian diberi kesempatan mengisyaratkan semboyan 40, tanda kereta diizinkan berangkat.

Dia juga berbincang dengan anggota Pramuka yang membantu para penumpang KA Brantas.

"Ini bawa anak sama keluarga besar semua. Jadi ingat saya dulu mudik. Pokoknya sampai rumah jangan lupa dibagi kebahagiannya," kata Anies.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook penulis pada tanggal 24 Juni 2017.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.