Backpacking di China - Guangzhou

Mon, 07/31/2017 - 09:22

Foto oleh Clement Tanaka

Liburan pertengahan tahun 2017, saya dan putera saya merancang perjalanan santai ala backpacker dan anti mainstream. Rute Tiongkok bagian selatan menjadi pilihan setelah mempertimbangkan total waktu, jarak, transportasi dan biaya perjalanan.

Sebenarnya dulu saya tidak antusias jika diajak jalan-jalan ke Tiongkok karena membayangkan toilet yang  jorok, bau, dan tidak ada air untuk bilas. Namun kali ini saya memutuskan untuk mencoba lagi. Kembali menapakkan kaki di Tiongkok setelah kunjungan terakhir delapan tahun yang lalu, membuka mata saya tentang kondisi Tiongkok sekarang ini. Guangzhou menjadi kota persinggahan saya sebelum melanjutkan perjalanan ke kota-kota lainnya dan kembali mampir satu hari satu malam sebelum kembali ke Kuala Lumpur.

Guangzhou, ibukota propinsi Guangdong adalah kota terbesar ketiga di Tiongkok dengan jumlah penduduk sekitar 3 juta jiwa. Pusat perdagangan yang ramai ini merupakan salah satu kota terpadat di Tiongkok. Berada di  Guangzhou terasa seperti di Hongkong. Hiruk pikuk sudah dirasakan begitu tiba di bandar udara Baiyun. 

Kemampuan bahasa Mandarin yang pas-pasan membuat saya sulit berkomunikasi dengan orang lokal karena kebanyakan mereka berbicara dengan logat daerah. Putera saya bersikeras menjemput di bandara Baiyun karena khawatir  saya tersesat di bandara yang luas dan ramai, sementara komunikasi sangat terbatas. Perjalanan kami masih berlanjut ke kota Guilin, dengan naik metro satu jam ke Guangzhou West Station dan  kereta api cepat 2 jam 40 menit ke Guilin North Station.

Time Tunnel
Time Tunnel di bandar udara Baiyun

Tempat Menarik di Guangzhou

1. Canton Tower

Perjalanan malam itu kami teruskan ke Canton Tower di distrik Haizhu, Guangzhou. Terletak di sisi selatan Pearl River menghadap ke pulau Haixinsha, menara dengan tinggi 600 meter ini adalah menara televisi tertinggi di Tiongkok dan ketiga tertinggi di dunia. Canton Tower menjadi landmark kota Guangzhou. Disain menara sangat unik karena berbentuk seperti wanita yang sedang meliukkan badannya untuk melihat ke arah belakang. Mark Hemel, sang disainer, terinspirasi oleh tulang panggul wanita dan pinggang yang langsing. Bagian menara yang paling ‘langsing’ memiliki diameter sekitar 30 meter. 

Canton Tower
Canton Tower

2. Shamian Island

Dulu Shamian dikenal dengan sebutan Zhongliusha atau Shicuizhou yang berarti permukaan berpasir. Pada masa dinasti Ming dan Qing, tempat ini merupakan  pusat perdagangan luar negeri Guangzhou. Ketika terjadi Perang Opium pada tahun 1856 – 1860, Shamian dijadikan sebagai tempat perlindungan orang Inggris dan Perancis. Mereka menggali sungai buatan di utara Shamian sehingga menjadi seperti pulau. Tahun 1861, Inggris dan Perancis memaksa pemerintah Guangdong dan Guangxi untuk menandatangani kontrak yang menyatakan Shamian sebagai pemukiman mereka. Tahun 1946, Shamian kembali ke tangan pemerintah China. 

Shamian Island
Shamian Island

Ada sekitar 150 bangunan bergaya baroque, gothic maupun neoklasikal. Pada akhir tahun 1996, bangunan di Shamian resmi masuk dalam daftar monumen bersejarah yang dilindungi.

Harmonika
Saya dan beberapa orang lain duduk di bangku taman  di depan kafe Starbucks sambil menikmati alunan musik harmonika yang ditiup seorang bapak.

Shamian adalah tempat yang nyaman untuk menghabiskan sore hari dengan menyusuri jalan sepanjang 900 meter dari timur ke barat dan 300 meter dari selatan ke utara.

Kedutaan Polandia berada di lokasi ini dan dijaga cukup ketat. Tidak boleh mengambil foto di sekitar bangunan kedutaan.

3. Sun Yat-sen Memorial Hall

Bangunan berarsitektur khas Tiongkok yang berada di sayap selatan bukit Yuexiu ini dibangun antara tahun 1929–1931 sebagai penghormatan bagi Dr. Sun Yat-sen- pejuang revolusi Tiongkok. Bangunan yang terlihat masih baru dan terawat karena telah direnovasi pada tahun 1998 ini sering digunakan untuk tempat konferensi atau pertunjukan besar karena dapat menampung ribuan orang dan memiliki sound system yang bagus.

Sun Yat Sen Memorial Hall
Sun Yat-sen Memorial Hall
Foto oleh Winnie Tidore

4. Yuexiu Park 

Dari Sun Yat-sen Memorial Park kami berjalan kaki menuju ke Yuexiu Park- taman paling luas di Guangzhou yang dibangun tahun 1952 dan diberi nama sesuai dengan lokasinya di gunung Yuexiu. Taman seluas 860 ribu meter persegi ini bersih dan terawat, suasananya sangat teduh karena banyak pohon rindang. Ada beratus anak tangga menuju ke puncak. Kenakanlah sepatu yang nyaman ke tempat ini karena akan banyak jalan kaki. 

Yuexiu Park
Yuexiu Park

Di dalam kompleks Yuexiu Park ada tempat-tempat bersejarah yang terawat dengan baik. Tembok tua dari zaman Dinasti Ming, monumen Zhongsan, menara Zhenhai. Yang paling populer adalah patung lima kambing jantan (the five-ram sculpture) yang menjadi emblem kota Guangzhou.

Ancient City Wall
Ancient City Wall (Tembok kuno)

Legenda lima kambing ini berawal dari cerita 2000 tahun yang lalu ketika kota Guangzhou masih berupa tanah tandus yang sangat gersang dan penduduknya kelaparan. Suatu hari ada lima orang suci yang mengenakan pakaian lima warna datang dengan menunggangi kambing jantan sambil memainkan musik. Masing-masing kambing itu mengcengkram seikat padi-padian dengan mulutnya. Kelima orang suci itu memberkati kota, meninggalkan ikatan padi itu untuk penduduk, kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Kambing-kambing jantan itu kemudian berubah menjadi batu. Sejak saat itu kota Guangzhou menjadi makmur dan semakin ramai. Itu sebabnya Guangzhou sering juga disebut sebagai City of Rams (Kota Kambing) atau City of Ears (Kota Kuping)

Five Rams Statue
Five Rams Statue (Patung Lima Kambing)

5. The Sacred Heart Cathedral (Katedral Hati Kudus)

Kateral yang terletak di jalan Yide ini dibangun pada tahun 1800 oleh Kaisar Perancis, hasil kerja sama pemerintah Perancis dengan gereja Katolik. Kemegahan gereja, yang desainnya diilhami oleh interior Basilika St. Clotide di Perancis, masih terjaga hingga kini karena beberapa kali direnovasi. 

Katedral
The Sacred Heart Cathedral (Katedral Hati Kudus)

Bangunan katedral yang bergaya gothik dengan luas sekitar 2.754 meter persegi ini adalah gereja terbesar di Tiongkok. Menara di bagian tengah gereja tingginya mencapai 27 meter. Dua menara di kiri kanannya memiliki tinggi 58,5 meter. Di menara sebelah barat terdapat jam besar buatan Tiongkok, sedang di menara sisi timur ada lonceng gereja. Lonceng terbuat dari perunggu yang dikirim langsung dari Perancis pada abad ke-19. 

Katedral ini dibangun dari batu-batu granit yang diimpor dari Hongkong. Itulah sebabnya katedral Hati Kudus ini sering disebut juga dengan nama the Stone House. Pada masa itu katedral ini adalah bangunan paling megah di Guangzhou. Katedral dibuka untuk umum pada tahun 2007 setelah renovasi besar-besaran yang menelan biaya sekitar RMB 24 juta. Katedral terbuka untuk umum dari jam 8 pagi hingga jam 18.30. 

SaveSave

SaveSave

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.