Tupai Yang Beruntung

Tue, 08/22/2017 - 09:21

meme oleh Tupai 

Tupai 100

Felisia: Apakah pasangan kita termasuk milik kita, Pai?

Tupai: Tergantung pada pengertian Liz akan kata “milik”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia versi daring, milik mempunyai dua arti, 1. kepunyaan; hak 2. peruntungan, nasib baik. Pasanganku, artinya pasangan milikku, peruntunganku. Jangan diartikan, pasanganku adalah milikku, aku berhak untuk mengatur hidupnya, memintanya melakukan apa saja yang aku mau, bukan begitu memperlakukan pasangan, itu pendapat saya.

Rose: Saya setuju, Pai. Pasangan kita bukan “barang”, tapi manusia yang mempunyai perasaan dan pikiran. Kecuali orang aneh yang memilih berpasangan dengan boneka.

Felisia: Iya, ha ha ha. Sekarang makin banyak orang yang aneh. Saya pikir mereka mau gampangnya saja. Berpasangan dengan boneka tidak perlu stres menghadapi konflik yang biasanya dihadapi oleh orang yang hidup bersama. Banyak teman saya yang gak tahan dan suka bilang, ingin cerai saja.

Lilian: *Ingin cerai? Tunggu dulu… Banyak hal yang perlu dipertimbangan sebelum mengambil keputusan; misalnya, bagaimana dengan anak-anak?

Felisia: Ya, anak-anak akan jadi milik siapa? Nah, apakah anak-anak itu peruntungan kita juga? 

Rose: Ya dong, kan kata orang tua, banyak anak, banyak rezeki. Itu bukan berarti banyak anak akan mendatangkan banyak rezeki, tapi merekalah yang menjadi rezeki kita. Dulu ada teman yang sudah lumayan berumur tapi belum resmi menikah. Kebetulan ada seorang anak remaja yang berbicara kurang sopan, jadi teman saya bilang, “Kalau bicara yang sopan ya. Kalau peruntungan saya baik, kamu bisa jadi anak saya.” Maksudnya jika dia beruntung, dia sudah lama menikah dan punya anak seusia anak itu.

Tupai: *Apanya yang jadi resmi, Rose? Menikah itu sudah pasti resmi. Nikah itu artinya ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Orang terlalu rajin memakai kata “resmi”. Coba Rose google kata “resmi dilantik”, bakal keluar banyak berita menggunakan frasa itu. Dilantik itu upacara peresmian, tidak memerlukan kata resmi lagi, sama juga dengan menikah.

Lilian: Ya sudah, kalau tidak boleh memiliki, punya rasa memiliki saja, supaya tumbuh kesadaran untuk merawat. Rasa memiliki, jangan nafsu memiliki. Rasa memiliki negara dan budaya, membuat kita ingin merawat… seperti di Sumba dengan *rumah budaya Sumba.

Felisia: Kalau nafsu untuk memiliki kekayaan mah bikin orang jadi penipu.

Rose: Dan jadi koruptor...

SaveSave

SaveSave

SaveSave

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.