“Batu Api” Kakek

Senin, 12-6-2017

Kakek saya --ayah dari ibu-- pada masa mudanya berdagang ternak (sapi dan kerbau) bolak-balik antara Payakumbuh, Sumatera Barat, dengan Mandailing, Sumatera Utara. Tak ada kendaraan. Semuanya dilakoni dengan berjalan kaki, berombongan bersama pedagang lainnya. Konon waktu itu masih ada penyamun di lintasan jalan setapak, dalam belukar yang dilewati.

Entah bagaimana riwayatnya usaha Kakek kemudian berganti. Dia berdagang kayu --papan dan balok-- bahan untuk rumah, di sebidang tanah miliknya yang kemudian dikenal sebagai pasa (pasar) papan. Tempat itu mendapat nama “pasar” karena ada beberapa pedagang kayu lainnya yang mendirikan bangunan dan berjualan kayu di situ. Usahanya ini ditutup ketika balatentara Jepang datang. Pada waktu itu pulalah dia ditinggal oleh isterinya, nenek saya, yang wafat pada tahun 1944.

Kakek pernah bercerita, ketika berdagang ternak itulah dia mulai kenal udut -- berupa tembakau yang dilinting dengan daun nipah. Pada umur berapakah itu? Saya tidak tahu. Tapi umur kakek saya cukup panjang. Dia meninggal dunia pada hari Kamis sore, Januari 1957, dalam usia 96 tahun. Saya beruntung dapat hidup bersama beliau selama tujuh tahun, dan menyaksikan hanya ada belasan uban di kepalanya sampai dia tutup usia. Orang-orang di kampung kami menyebut dia sebagai “urang gaek buatan Jerman”. Namanya Muhammad Tamin. Karena dia penghulu adat di belakang namanya dipasang gelar: Datuak Kayo.

Walau para perokok pada tahun 1950-an sudah mengenal pemantik (korek api) bersumbu kapas dan memakai bensin sebagai bahan bakar, kakek saya bertahan dengan “batu api”. Batu api itu adalah batu yang sangat keras, tak bisa tergores sama sekali. Bentuknya tidak beraturan dengan ukuran kira-kira 4 CM x 3 CM dengan ketebalan 2 CM. Batu itu diketuk dengan besi kecil berbentuk huruf T hingga memercikkan api. Percikan api akan menyambar rabuk yang ditaruh di atas batu itu, dan terbakar. Api rabuk itulah yang dipakai buat membakar udut.

Pemantik

 

Rabuk itu adalah bulu halus, lembut, bewarna cokelat, yang selalu ada di kulit pohon aren. Rabuk itu sendiri disimpan dalam sebuah wadah kecil, oval, lebih kecil dari telur ayam kampung. Itu sebetulnya adalah tempurung buah (entah buah apa) yang isinya sudah dikeruk. Tempurung buah kering itu keras seperti tempurung labu, apik, mengkilap, dan ujungnya dilubangi sebesar jari untuk mengeluarkan rabuk yang disimpan di dalamnya.

Pemantik atau “batu api” itu tampaknya dibuat oleh pengrajin yang terampil. Besi leter T buat pengetuk dibuat simetris, apik, dan dihubungkan dengan batu oleh rantai perak. Pada ujung tempat batu dikaitkan ada “mangkuk” kecil, juga dari perak, berdiameter satu CM, yang diukir. Dari mana kakek saya mendapatkan batu api itu? Saya tidak tahu, dan menyesal tidak pernah bertanya. Tapi penyesalan yang terasa lebih menyakitkan adalah ketika saya mencari “batu api” itu kembali pada awal 1960-an, dan tidak ketemu. Benda kuno nan elok itu raib bersama barang-barang kami yang lain ketika rumah kami tinggalkan karena harus mengungsi di masa pergolakan daerah: PRRI/Permesta. Saya coba menggambarkan kembali si “batu api” itu, benda zaman lampau yang mungkin tak dikenal lagi oleh orang-orang zaman sekarang.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook penulis pada tanggal 11 Juni 2017.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.