AHOK

Senin, 8-6-2015
Ahok

Kontroversi mengenai langgam dan cara Gubernur DKI Jakarta Raya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memimpin management kota Jakarta disadari khalayak luas, sampai ke masyarakat bawah. Suka vs tidak suka; itu benar vs sebaiknya tidak begitu; setuju vs menolak. Siapa saja dapat berpendapat dan membuat kesimpulannya masing-masing.

Dalam kerumunan ratusan pengunjung Mal Maywalk, Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2015) malam, seorang ibu berbisik sembari menyeringai kepada anaknya, “ ... itu loh ternyata Ahok yang suka marah-marah itu.” Dia menyaksikan kehadiran Ahok yang datang ke sana untuk membuka Festival Jakarta Great Sale 2015. (Sumber)

Kita tak tahu, apa arti “berbisik sembari menyeringai” yang diperlihatkan si ibu itu. Tapi frase “suka marah-marah” yang dia katakan pastilah menyangkut langgam dan cara Ahok bekerja dan bertindak sebagai Gubernur DKI. Mudah-mudahan saja si ibu dan anaknya itu menjadi bagian dari orang yang sadar bahwa yang hari ini terasa pahit, sangat mungkin menjadi manis kelak kemudian.

*

Hampir setengah abad yang lampau, pada 28 April 1966 Presiden Soekarno melantik perwira tinggi KKO (sekarang Marinir) berumur hampir 39 tahun, Ali Sadikin, menjadi Gubernur DKI Jaya. Pada pidato pelantikan itu Bung Karno yang dalam orasinya sering terbuka lepas, berkata, “Ada ... ada yang ditakuti dari Ali Sadikin itu. Apa? Ali Sadikin itu orang yang keras. Dalam bahasa Belanda ada yang menyebutnya, een koppige vent, koppig.”
Bung Karno mengingatkan, orang takut dengan pria keras kepala --sedikit keras kepala-- itu. “Saya kira, dalam hal mengurus Kota Jakarta Raya ini baik juga een beetjekoppigheid,” katanya lagi.

Soekarno mengingatkan bahwa menata Jakarta bukan pekerjaan mudah, dan akan menemui banyak hambatan. Dia memberi contoh, untuk menghadapi warga yang tak tahu aturan diperlukan ketegasan. “ ... perlu dihadapi oleh orang yang sedikit keras ... yang sedikit koppig,” katanya dalam pidato pelantikan itu.
“Tapi, insya Allah,” demikian Bung Karno kepada Ali Sadikin, “doe je best, agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar ... juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, ditheeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin. Inilah yang dilakukan oleh Ali Sadikin.”
Kerjakan yang terbaik, sehingga kelak orang tahu dan berkata, ini adalah hasil kerja Ali Sadikin.

*

Soekarno bukan jurunujum. Tapi perkataannya terbukti. Ali Sadikin menjadi “Bang Ali Kota Jakarta”, gubernur yang jasanya diapresiasi banyak orang, dan model kepemimpinannya dirindukan.
Ahok belum ada ketika Ali Sadikin dilantik menjadi Gubernur DKI Jaya. Dia baru lahir --di Belitung Timur-- dua bulan setelah itu. Untuk memangku jabatan Gubernur DKI Jaya bukan Presiden Soekarno pula yang melantik dia. Masalah Ibu Kota yang dia hadapi lebih rumit dibandingkan dengan tahun 1966. Karena itulah, doe je best yang dikatakan Bung Karno kepada Ali Sadikin berlaku untuk dia. Begitu pula dengan “dalam hal mengurus Kota Jakarta Raya ini baik juga eenbeetje koppigheid”, sehingga sekian tahun lagi orang akan berkata “dit heeft Ahok gedaan” juga menjadi kenyataan.

*Artikel ini ditulis sebagai note di account Facebook, dan dipetik Patahtumbuh atas izin yang bersangkutan...

SaveSave

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.