Aku Mau Jadi Anak Sulung

Kamis, 26-11-2015

Ayooo, siapa yang menduduki posisi anak sulung, anak tengah atau anak bungsu dalam keluarga? Atau anda justru menjadi anak satu-satunya? Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Jarak usia dengan kakak sekitar 4 tahun dan dengan adik 5 tahun. Yang saya ingat, sejak TK saya sudah harus menjaga adik, menyuapinya jam 5 sore saat teman-teman saya asik bermain kasti, petak umpet, loncat tali. Makannya diemut lama, jadi acara makan  selesai ketika jam bermain juga selesai. Ahaa….serunya jadi kakak perempuan dan punya adik meskipun kadang kala saya sedih juga karena tidak bisa ikut bermain dengan teman-teman. Selain itu, saya sering jadi penengah antara kakak dan adik atau jadi humas antara kakak dengan orang tua jika ia suatu waktu ingin dibantu ’melobby’orang tua untuk mendapatkan sesuatu, dari minta tambahan uang saku hingga keinginan beli motor.

Beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, putera bungsu saya tiba-tiba memeluk dari belakang dan berkata: “Ma, kenapa aku ga dilahirkan duluan? Aku maunya jadi Koko, jadi anak paling gede. Ga enak jadi adik.” Lho???? Saya tidak bisa menahan tawa mendengar protes si kecil. Ternyata dia merasa kurang power karena jadi anak bungsu dengan dua kakak yang berjarak usia 10 tahun dan 8 tahun. Selalu jadi anak bawang dan kerap dijahilin dan diuwel-uwel oleh kakak-kakaknya.

Urutan Kelahiran

Seberapa penting posisi urutan kelahiran dalam keluarga? Beberapa ahli percaya bahwa urutan kelahiran punya peranan penting dalam membentuk kepribadian, bagaimana kelak seseorang akan bertindak ketika dewasa. Menentukan bagaimana melihat dan menilai lingkungan, bagaimana ia ingin diperlakukan oleh lingkungannya.

Alfred Adler, psikiater (1870 – 1937), adalah orang pertama yang mengemukakan teori tentang pengaruh urutan kelahiran pada kepribadian. Kepribadian adalah cara kita menghadapi atau menangani tugas-tugas dalam hidup (tasks of life), termasuk pekerjaan, pergaulan, dan bahkan bagaimana menghibur diri sendiri.
Persepsi tentang urutan kelahiran juga akan mempengaruhi pilihan karir seseorang. Eckstein dan Kaufman melakukan studi di Polandia dan hasil penelitiannya orang cenderung percaya bahwa anak sulung akan menempati posisi pekerjaan yang bergengsi.

Selain urutan kelahiran, perlu disimak juga beberapa aspek:

  • Jarak usia kelahiran anak
  • Tempat tinggal (demografis)
  • Status sosial
  • Perubahan tatanan dalam keluarga
  • Jumlah anak yang tinggal serumah

Jika jarak kelahiran lebih dari 6 tahun, nampaknya ada gap antar anak karena anda akan berhadapan dengan anak dari dua generasi. Ini berlaku juga ketika kita punya pasangan yang berbeda usia lebih dari 6 tahun. Bagaimana dua orang dari dua generasi harus beradaptasi dan hidup bersama dalam satu rumah.

Teori Adler Tentang Urutan Kelahiran

Alfred Adler mengeksplorasi pengaruh urutan kelahiran dan berapa lama seseorang hidup bersama saudara-saudaranya karena dianggap setiap urutan kelahiran memiliki sisi unik, baik dari segi positif maupun negatif.

Tabel yang disederhanakan dari teori Adler tentang urutan kelahiran:

POSISI SITUASI DALAM KELUARGA KARAKTERISTIK ANAK
ANAK TUNGGAL

Anak yang sangat berharga dalam keluarga dan memperoleh perhatian penuh dari kedua orang tua.  Bisa menjadi  saingan dari salah satu orang tua. Cenderung dimanjakan dan orang tua  sangat protektif (over-protective).

Suka menjadi pusat perhatian orang dewasa. Sering sulit untuk berbagi (sharing) dengan teman sebaya. Lebih suka bergaul dengan orang yang lebih dewasa dari dirinya dan mengikuti gaya bicara orang dewasa.
ANAK SULUNG  Harus belajar berbagi karena punya saudara yang lebih muda. Harapan orang tua biasanya sangat tinggi. Sering diberi tanggungjawab lebih dan diharapkan menjadi panutan adik-adiknya. Bisa jadi otoriter, merasa paling berkuasa.  Suka membantu orang lain jika diberi dukungan atau merasa dihargai.
ANAK TENGAH Terjepit di antara kakak dan adiknya. Lebih kompetitif dan ingin mengalahkan si kakak. Bisa jadi pemberontak karena merasa dikesampingkan dan sulit mendapatkan perhatian.  Cenderung keras dan tegas: take it or leave it.
ANAK BUNGSU  Punya banyak ‘ayah dan ibu’ karena kakak-kakaknya mencoba jadi mentor.  Tidak pernah ‘turun tahta’, selalu jadi raja kecil di rumah. Ingin menjadi lebih dewasa dan berkuasa dari  kakak-kakaknya.  Selalu jadi adik kecil dan dimanja.
ANAK KEMBAR Biasanya salah satu lebih aktif  dan orang tua akan membedakan mana yang dianggap sebagai kakak. Bisa timbul masalah identitas. Yang lebih kuat akan menjadi pemimpin (leader)
“ANAK HANTU” Anak yang lahir setelah kematian anak di atasnya, seperti ada ‘hantu’ di depannya. Ibu akan cendrung over-protective. Anak bisa jadi mengeksploitasi sikap ibu yang over-protective. Mungkin juga jadi pemberontak dan protes jika dibanding-bandingkan dengan anak yang sebelumnya.
ANAK ADOPSI  Orang tua merasa beruntung mendapatkan anak ini dan cenderung memanjakannya. Mencoba mengkompensasi ketiadaan orang tua kandung si anak. Anak bisa menjadi sangat manja dan banyak menuntut.  Suatu ketika ia mungkin akan membenci atau justru mengidolakan orang tua kandungnya.
ANAK LAKI-LAKI SATU-SATUNYA Jika ayah tidak di rumah, ia akan selalu berada di tengah saudara-saudara perempuannya. Bisa menunjukkan kuasanya sebagai laki-laki di rumah atau juga menjadi lebih lembut dan feminin.
ANAK PEREMPUAN SATU-SATUNYA Saudara laki-laki yang lebih tua menjadi ‘pengawalnya’. Bisa menjadi sangat feminin atau tomboi dan lebih ‘hebat’ dari saudara-saudaranya.  Ingin menyenangkan ayahnya.
SEMUA ANAK LAKI-LAKI Jika ibu menginginkan anak perempuan, bisa jadi anak didandan seperti perempuan. Anak mungkin akan menurut pada peran yang ditunjuk atau memprotes keras.
SEMUA ANAK PEREMPUAN Mungkin didandan seperti laki-laki. Anak mungkin akan menurut pada peran yang ditunjuk atau memprotes keras

Menurut Adler, perbedaan situasi dan karakteristik urutan kelahiran akan hilang jika sistem dalam keluarga lebih demokratis dan kooperatif, kompetisi dan juga perang kekuasaan antar anak akan berkurang.

  • Situasi psikologis tiap anak dalam keluarga berbeda satu sama lain.
  • Pandangan anak terhadap dirinya sendiri dan situasinya akan menentukan bagaimana ia akan bersikap.
  • Jika ada kesempatan, posisi urutan kelahiran dapat ‘dikudeta’ oleh anak yang lain.
  • Kompetisi akan muncul jika ada perkembangan karakter atau kepentingan lain.

Dalam tulisan ini kita akan fokus pada posisi anak sulung, anak tengah, anak bungsu dan anak tunggal. Jika dalam suatu keluarga ada 5 anak, anak kedua, ketiga dan keempat dimasukkan dalam kategori anak tengah.

Karakteristik Umum

Alan E. Stewart, psikolog dari University of Georgia, menerangkan perbedaan karakter tiap anak dengan menggunakan kerangka Adler sebagai berikut:

Anak Sulung:

Sulung

 

  • Goal-oriented
  • Agresif
  • Konservatif, taat aturan, agak kaku
  • Tanggungjawab
  • Teratur (well-managed)
  • Kompetitif
  • Harga diri tinggi dan cenderung arogan
  • Tegas
  • Berjiwa petualang, suka mencoba hal-hal baru
  • Suka membantu, melindungi atau menjadi pemimpin dalam kelompoknya.
  • Ingin dipuji terus dan takut kehilangan pamor dengan hadirnya kompetitor (adik)
  • Sering takut dan cemas
  • Iri hati

Anak Tengah:

Sulung
  • Punya kepribadian yang lebih beragam.
  • Bukan menjadi pusat perhatian, cenderung menjadi penghibur
  • Punya perasaan tidak dimiliki (sense of not belonging), merasa diabaikan. Kalah pamor dari kakak atau adik.
  • Mencari perhatian
  • Sering merasa kesepian
  • Menjadi mediator dalam kelompok
  • Menghindari konflik agar disukai teman
  • Banyak teman
  • Social skills bagus dan gampang beradaptasi
  • Sering merasa bingung dan tidak ada panutan. Cenderung mengikuti aliran saja.
  • Pilihannya: take it or leave it

Anak Bungsu

  • Tipe penggembira
  • Selalu dianggap anak bawang dan dimanja
  • Tidak mandiri, akibat dimanja dalam keluarga.
  • Manipulatif dan berusaha mengontrol orang lain
  • Bossy

Anak Tunggal

  • Karakter mirip dengan anak sulung.
  • Tidak ada saingan dalam keluarga untuk meraih perhatian orang tua
  • Terbiasa dimanja jadi ada kemungkinan agak sulit dalam hubungan interpersonal dengan orang lain jika dewasa nanti.
  • Ingin terus dilayani
  • Kurang mandiri
  • Bisa jadi pemberontak karena sikap over-protective orang tua dan merasa terkungkung.

Pada intinya, menurut Stewart, kita tidak perlu berkutat pada ‘nasib’ karena terlahir sebagai anak keberapa dalam keluarga. Kita tidak bisa memilih kapan kita dilahirkan, namun kita bisa merubah cara pandang pada apa dan bagaimana harus berperan dalam keluarga. Jadi tidak perlu terintimidasi oleh stereotip peran dari urutan kelahiran.

Tips Menangani Tiap Anak

Sulung

Sebagai orang tua, kita tidak perlu terlalu fokus pada stereotip karakter dari urutan kelahiran tiap anak. Dengan memperhatikan perkembangan tiap anak, kita akan dapat mengenali tabiatnya dan apa yang menjadi kekuatan atau kelemahannya. Setiap anak adalah unik.

Anak Sulung:
Anak sulung biasanya lebih serius dalam menghadapi segala hal, jadi orang tua membantu meringankan dengan tidak selalu mencari kesalahannya. Jangan memojokkannya atau terlalu kritis dan menekan dengan memberikan target yang terlalu tinggi. Target dan reward bisa dibuat seimbang agar anak tidak terlalu terbebani.

Anak Tengah:
Karena merasa terjepit di antara kakak dan adiknya, cobalah lebih sering meluangkan waktu bersama anak tengah. Mereka akan merasa dihargai. Anda akan menemukan hal-hal spesial dari anak tengah. Mungkin anak tengah punya talenta berbeda dan tidak perlu ikut les musik, les menggambar atau les menari seperti kakaknya. Hindari membanding-bandingkannya dengan kakak atau adiknya. Ia akan merasa makin kecil hati dan terpojok.

Anak Bungsu:
Pastikan anda tidak terlalu memanjakan atau menjadikannya Pangeran atau Puteri dalam keluarga. Berikan tanggung jawab dan target. Biarkan ia belajar disiplin dan wajib patuh pada aturan-aturan yang berlaku juga pada kakak-kakaknya. Tidak over-protective  dan selalu dilayani karena ia anak paling kecil dan dianggap lemah.

Anak Tunggal:
Biarkan anak menikmati masa kanak-kanaknya dengan bebas tanpa membebaninya dengan harapan-harapan muluk orang tua. Tidak over-protective. Berikan kepercayaan bahwa mereka bisa belajar dari lingkungan. Biasakan anak bergabung dalam komunitas sebayanya agar ia belajar berbagi dan mengelola emosi. Memelihara binatang juga bisa membantu anak belajar menyayangi makhluk hidup lain. Sesekali izinkan anak untuk menginap di rumah saudara sepupu atau teman dekatnya.

Putera bungsu saya kembali tersenyum ketika saya katakan: “Harusnya kamu senang punya dua Koko. Mereka sayang sekali sama kamu dan kamu punya contoh bagaimana memadukan celana jins dengan kemeja atau baju kaus. Bagaimana menyelesaikan soal Matematika yang rumit, ketika Mama sendiri bingung menerangkan. Bagaimana trik bermain futsal atau cara menyusun Lego.” Dan saya kembali mendapat bonus pelukan hangat. Dipeluk erat sekali.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.