Backpacking di China - Guilin

Rabu, 16-8-2017

Berbicara soal jalan-jalan ke Tiongkok, yang pertama muncul dalam pikiran adalah Beijing dengan Great Wall, Shanghai dengan Shanghai Bund dan satu lagi yang tidak kalah populer, Guilin di sebelah utara propinsi Guangxi. Keindahan alam Guilin yang khas dengan gunung-gunung kapur di sekelilingnya, sungai dan danau, menjadikan kota ini sebagai tujuan utama dalam agenda perjalanan wisatawan. 

Propinsi Guangxi dipisahkan oleh pegunungan Nan dari pusat wilayah Tiongkok dan daerah aliran sungai Yangtze. Daerah Guangxi menonjol karena perdagangannya sangat maju sejak kekaisaran dinasti Han melakukan ekspansi ke Guangxi pada abad kedua sebelum Masehi. Ketika itu kanal Ling dibuka sehingga banyak kapal kecil dari Yangtze bisa mampir dan bertransaksi dagang di Guangxi. Pada zaman pemerintahan Dinasti Ming, Guilin dijadikan markas tentara dan ketika Perang Dunia II, kondisi Guilin rusak parah, namun penduduknya  berhasil membangun kembali kota tersebut. Guilin merupakan kota terbesar ketiga di propinsi Guangxi setelah ibukota Nanning dan Liuzhou.

Guilin adalah daerah subtropis. Saya mengunjungi Guilin selama seminggu pada akhir bulan Juni. Walaupun hampir setiap hari hujan dan cuaca mendung, tapi saya berkeringat terus dan badan lengket karena udara yang panas dan lembab. Cuaca di Guilin di bulan September – November akan lebih menyenangkan meskipun diselingi hujan. Bulan Juli hingga Oktober adalah saat yang paling cocok untuk menikmati pemandangan indah sungai Li karena langit cerah dan anda akan melihat pantulan gunung-gunungnya di permukaan air. Hindari saat-saat paling ramai di Guilin yaitu minggu pertama bulan Mei dan Oktober. Kebanyakan tempat wisata di Tiongkok, terutama Guilin yang walaupun tidak seramai Guangzhou tapi mata pencaharian utama penduduknya adalah pariwisata, akan dipenuhi oleh wisatawan lokal. Liburan sekolah jatuh pada bulan Juli – Agustus jadi suasana di tempat wisata juga akan lebih ramai dari bulan-bulan lainnya.

Li River
Li River (Sungai Li) dilihat dari Xiao Yao Tower

Dalam bahasa Mandarin, Guilin berarti hutan pohon sweet osmanthus (devilwood), sejenis bunga yang wanginya semerbak dan berasal dari Himalaya. Guilin mengingatkan saya pada suasana kota Yogyakarta. Suasana kota tenang, santai, tidak perlu tergesa-gesa, dan biaya hidup lebih murah dibandingkan dengan di kota besar. 

Daerah wisata di Guilin yang saya kunjungi: 

1. Elephant Trunk Hill
Dalam bahasa Mandarin disebut Xiangbishan karena bentuknya seperti belalai gajah yang sedang mengisap air dari sungai. Elephant Trunk Hill adalah  landmark kota Guilin, berada di  Elephant Hill Scenic Area (Xiangshan Park) , tempat pertemuan sungai Taohua dan sungai Li. Di tempat ini juga ada tiga pagoda tua yang masih terawat dan menjadi salah satu atraksi wisata. Untuk masuk ke taman dan berfoto dekat lokasi bukit, kita harus membayar tiket masuk RMB 70.

Elephant Trunk Hill
Elephant Trunk Hill
Photo by Clement Tanaka

2. The Two Rivers and The Four Lakes
Tidak jauh dari Elephant Trunk Hill, ada taman indah sepanjang danau di tempat yang menjadi showcase kota Guilin. Daerah ini disebut Dua Sungai dan Empat Danau (The Two Rivers and The Four Lakes) yaitu Sungai Li dan Sungai Taohua; Danau Rong (Banyan Lake), Shan (Chinese Fir Lake), Gui (Osmanthus Lake) dan Danau Mulong (Wooden Dragon Lake). Banyak wisatawan naik cruise untuk menikmati pemandangan air dan gunung di danau ini.

Guilin

3. Sun and Moon Pagoda
Dua bangunan pagoda ini berada di dua danau utama kota Guilin. Moon Pagoda yang bertingkat tujuh terhubung oleh terowongan di bawah air dengan Sun Pagoda yang tingginya 41 m dan ada lift di dalamnya. Sayang sekali ketika kami tiba di lokasi ini, hujan gerimis dan cuaca berkabut. Sebaiknya datang juga pada malam hari karena pemandangan kedua pagoda akan terlihat sangat indah berhias lampu warna warni.

Sun&Moon Pagoda
Sun and Moon Pagoda

4. Jingjiang Princess' City (Wangcheng City)
Jingjiang Princess’ City berada di tepi sungai Li, di tengah kota Guilin, dibangun antara tahun 1372 – 1392 sebelum Masehi pada zaman Dinasti Ming. Awalnya lokasi ini menjadi tempat tinggal  resmi Zhu Shouqian, keponakan Zhu Yuanzhang- kaisar pertama Dinasti Ming. Setelah Zhu Shouqian dinobatkan menjadi Prince of Jingjiang oleh kaisar pertama tersebut, kompleks ini kemudian dijadikan istana dan konon butuh waktu 20 tahun untuk membangunnya. Sejarah istana Jingjiang sudah lebih dari 630 tahun, lebih tua dari Forbidden City di Beijing.

Selama masa pemerintahan Dinasti Ming (1636 – 1912), istana dijadikan tempat ujian resmi pejabat pemerintahan. Dalam kurun waktu 257 tahun sejak dibangun hingga masa akhir Dinasti Ming, ada 14 raja dari 12 generasi yang telah tinggal di Jingjiang Princess’ City. 

Sejak tahun 1952, Jingjiang Princess’ City menjadi salah satu dari tiga kampus Guangxi Normal University. Hingga kini sebagian bangunan masih dipakai untuk kuliah dan asrama bagi para pelajarnya. Pada tahun 1996  Jingjiang Princess’ City dimasukkan dalam National Key Cultural Relic Protection Units oleh pemerintah Tiongkok  dan menjadi lokasi wisata berbintang lima, artinya tempat wisata yang memiliki peringkat tertinggi. 

Zhuangyuan Jidi Arch
Zhuangyuan Jidi Arch (Majestic Chengyun Gate)

Gerbang masuk utama (Majestic Chengyun Gate / Zhuangyuan Jidi Arch) ada di sebelah selatan, adalah ikon yang paling menarik di kompleks ini. Zhuangyuan adalah gelar yang diberikan pada Long Qirui, penerima bea siswa yang memperoleh nilai tertinggi dalam ujian kenegaraan di Jingjiang Princess’ City. Sebelum Long, sudah ada satu orang yang pernah mencapai nilai ujian tertinggi. Empat tahun setelah Long, ada dua orang lagi yang meraih nilai tertinggi. Jadi untuk mengenang keempat orang tersebut maka para penguasa kembali membangun gapura Zhuangyuan Jidi dan mengukir nama keempat penerima bea siswa itu di dinding gapuranya.

Kita dapat berjalan kaki di dalam kompleks istana tua ini dan naik ke bukit untuk melihat panorama kota Guilin. Suasana sangat teduh karena banyak pohon. Ketika  saya mengunjungi Wangcheng city, saat itu  hujan gerimis sepanjang hari sehingga kami membatalkan rencana untuk naik ke Solitary Beauty Peak karena jalan setapak sangat licin. 

Solitary Beauty Peak
Solitary Beauty Peak 
Photo by Clement Tanaka

Ada 4 aula besar, 4 paviliun dan 40 bangunan lainnya mengelilingi bangunan utama istana tersebut. Semua bangunan didekorasi dengan dinding berwarna merah dan kuning, warna khas istana di Tiongkok.  Ada bangunan istana yang dijadikan museum yang berisi tentang sejarah Jingjiang. Luas area ini hampir 19,78 hektar dengan tembok  sepanjang 1,500 m mengelilingi istana, menjadikan lokasi ini  seperti kota di dalam kota.

Wangcheng City
Wangcheng City

5. East – West Street
Keluar dari gerbang istana Jingjiang kita akan melewati East – West Street (Dong Xi Xiang) - area belanja seluas 29,2 meter persegi yang sangat bersih dan tertata baik. Tempat perbelanjaan ini dibagi menjadi dua bagian, satu bagian disebut Traditional Culture Street dan satu bagian lagi Fashion Style Street. Bagian sisi tradisional, bangunan-bangunan tua direnovasi dan difungsikan menjadi tempat belanja dan café – café kecil. Fashion street berbentuk bangunan seperti mal berlantai empat dengan toko-toko modern yang menyediakan barang bermerek internasional. 

East-West Street
East-West Street

6. Xiao Yao Tower
Xiao Yao Tower (Xiao Yao Lou)- bangunan tua yang telah direnovasi, berada di ujung East-West Street. Pada zaman Dinasti Tang, bangunan ini adalah benteng kota. Dari lantai atas Xiao Yao Tower, kita bisa melihat Liberation Bridge dan keindahan sungai Li. 

Xiao Yao Lou
Xiao Yao Lou

Selain tempat-tempat yang saya kunjungi kali ini, masih banyak gua, taman dan bukit yang indah untuk dijelajahi di Guilin. Salah satu gua yang terkenal dan  paling sering dikunjungi wisatawan adalah Reed Flute Cave yang merupakan gua terbesar dan memiliki susunan karang yang sangat indah. 

SaveSave

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.