Mengubah Dunia

Sabtu, 19-8-2017

Apa yang anda lakukan pada saat anda berusia 16 tahun?
Kata orang bijak, jika anda ingin mengubah dunia, mulailah dengan mengubah diri sendiri dan lakukan sedini mungkin.

Pada suatu hari yang sangat panas di tahun 1978, Jadav Payeng --remaja India berusia 16 tahun-- yang baru selesai ujian, pulang ke kampung halamannya. Dia memutuskan berhenti sekolah untuk menjaga ternak peliharaan orangtuanya yang telah meninggal. Ketika hampir sampai, dia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Lebih dari seratus ekor ular mati kepanasan di pasir tandus di tepi sungai Brahmaputra di Kokilamukh. Dari penduduk sekitar, dia tahu bahwa ular-ular tersebut dihanyutkan banjir ke area tanpa pohon itu. Penduduk desa memberikan 50 benih dan 25 batang bambu untuk dia tanam.
Jadav Payeng menanam pohon pertamanya pada bulan April 1979. Sekitar saat yang sama, divisi kehutanan distrik Golagat sedang melaksanakan proyek penanaman (reboisasi) di 200 hektar lahan di Aruna Chapori, 5 kilometer dari tanah pasir Kokilamukh. Jadav Payeng adalah salah satu pekerja di proyek yang berakhir setelah lima tahun itu. Walau semua pekerja telah pergi, dia memilih tinggal, merawat pohon-pohon itu dan menanam lebih banyak lagi pohon baru. Obsesinya adalah mengubah tanah pasir itu menjadi hutan. Setiap hari Jadav dengan tekun mengurus tanamannya. Pada musim hujan, tanah lebih subur, dia menanam berbagai tanaman baru. Variasi tanaman itu sangat beragam, bambu, jati, jati putih, flamboyan, pohon ek, pohon asam, pohon murbei, buah nona, belimbing, mangga, nangka ... Daftarnya panjang. Pada musim kemarau, dia mencari bibit-bibit baru. Penduduk setempat memberinya julukan “Molai” yang artinya “hutan”. Hutan ciptaan Jadev seluas 550 hektar akhirnya disebut Hutan Molai.

Begitu besarnya cinta dan pengabdian Jadav kepada alam, dia sampai harus diingatkan untuk menikah pada usia 39. Dari pernikahannya, Jadav dikaruniai tiga anak. Biaya hidup mereka adalah dari hasil penjualan susu sapi miliknya. Pada tahun 2008, lebih dari seratus ekor gajah melewati dan mengakibatkan kerusakan pada desa Aruna Chapori. Kelompok gajah itu menuju ke arah Kokilamukh. Penduduk desa yang marah mengadu ke dinas kehutanan setempat. Petugas dikirim ke daerah itu dan kaget menemukan hutan lebat dengan banyak jenis hewan (antara lain: harimau, rusa, babi hutan, burung, badak, dan ular) di daerah yang sebelumnya hanya tanah pasir.

Untuk memberi pendidikan yang layak kepada anak-anaknya, Jadav membawa keluarganya pindah ke kota pada tahun 2011. Sejak itu, Jadav yang telah berusia 48 tahun harus bangun dinihari, bersepeda jauh ke peternakannya, memerah susu, memberi makan sapi, membersihkan kandang, dan menggunakan kotoran ternaknya sebagai pupuk, menjual susunya, sarapan, baru berjalan menuju hutannya.

Jadav Payeng

Pada bulan April 2012, Fakultas Ilmu Lingkungan Hidup Universitas Jawaharial Nehru mengundang Jadav Payeng dan memberikan gelar “Forest Man of India” kepadanya. Pada tahun yang sama dia juga mendapatkan hadiah uang dari Presiden India serta menjadi peserta dalam konferensi dunia di Perancis di mana dia mendapat Wildlife Service Award. Tahun 2013, dia mendapat penghargaan dari Institut Manajemen Hutan India. Pada tahun 2015, Jadav Payeng mendapat penghargaan Padma Shri, penghargaan peringkat empat tertinggi di India.

Kisah Molai diabadikan dalam beberapa film dokumenter, yang terakhir dalam film "Forest Man" yang menang pada Festival Film Cannes 2014; dan juga dalam buku anak-anak berjudul “Jadav and the Tree-Place”. Kini Molai sering diundang untuk berbicara di berbagai belahan dunia. Tetapi bagi Molai, yang paling penting bukan penghargaan-penghargaan itu, melainkan cintanya kepada alam yang dia tunjukkan melalui hasil kerja tangannya sendiri, setiap hari, sejak dia berusia 16 tahun hingga sekarang. Proyek penanaman hutannya tidak berhenti pada hutan Molai, tetapi juga berkembang ke daerah lain di India.

Komentar

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.