Dari Itu ke Itu Saja, dan Kepantasan

Sabtu, 17-9-2016

Untuk laporan jurnalistik pilihan diksi sebaiknya ditentukan dengan cermat agar bahasa yang dipakai sesuai dengan fakta yang direkonstruksi. Karena itulah, selain bermodalkan pengetahuan umum yang baik, seorang wartawan hendaknya kaya dalam hal perbendaharaan kata. Akurasi sangat penting, dan kepantasan atau kepatutan hendaklah ditimbang dengan ukuran kewajaran menurut cita rasa berbahasa.

*

Reshuffle kabinet 27 Juli 2016 menjadi peristiwa politik yang membuat Sri Mulyani Indrawati menjadi bintang berita. Ekonom dari Universitas Indonesia ini kembali ke kursi menteri keuangan, jabatan yang sebelumnya pernah dia pangku. Berikutnya, dalam berbagai berita tentang anggaran negara dan tax amnesty, namanya kian sering disebut. Adalah suatu kebetulan barangkali --berkaitan dengan nama Sri Mulyani-- pada sebuah situs berita saya menemukan hal yang tidak terlalu penting yang tak dapat disebut sebagai tidak penting. Suatu kebetulan pula agaknya, hal yang tidak terlalu penting tetapi tak dapat disebut tidak penting itu ditemukan dalam lima berita yang ditulis oleh reporter yang sama, lewat meja penyuntingan editor yang berbeda-beda. Hal yang tidak terlalu penting tetapi tak dapat disebut tidak penting itu adalah sebutan pengganti, atau predikat, yang diberikan pada Sri Mulyani. Ada gejala “dari itu ke itu saja” alias pengulangan ... Terlihat indikasi bersahajanya seni bercerita, serta kurang informatifnya kata yang dipakai. Walau pengulangan ditemukan dalam jarak waktu yang tidak pendek ia dapat menjemukan.

*

+ Dalam satu berita, 27 Juli 2016, Sri Mulyani disebut sebagai “perempuan yang lahir di” dan “perempuan yang kerap disapa Ani” pada dua kalimat; Jabatan tersebut merupakan kali kedua bagi perempuan yang lahir di Bandar Lampung 53 tahun silam tersebut. ... "Insya Allah saya akan melaksanakan tugas dan membaktikan semua yang saya miliki demi perbaikan baik di Kementerian Keuangan dari sisi pengelolaan fiskal dan pada umumnya adalah menunjang tujuan pemerintahan ini," kata perempuan yang kerap disapa Ani itu.

+ Keesokan harinya, 28 Juli 2016, dalam berita yang lain muncul sebutan “perempuan kelahiran Bandar Lampung”; Perempuan kelahiran Bandar Lampung 53 tahun silam itu rela melepaskan gaji tinggi sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

+ Selanjutnya, pada 5 Agustus 2016, ada sebutan “perempuan 53 tahun”; "Ini tidak memotong hal-hal yang memang sudah merupakan priortitas [sic] pemerintah seperti infrastruktur," kata perempuan 53 tahun itu.

+ Satu kalimat lagi pada 13 September 2016 berisikan sebutan “perempuan yang kerap disapa Ani”; Keputusan itu mengundang reaksi dari [sic] pemerintah daerah. Bahkan perempuan yang kerap disapa Ani itu diminta untuk membatalkan keputusan tersebut.

+ Berikutnya dua kalimat lagi dalam satu berita pada 15 September 2016 memakai sebutan “perempuan yang kerap disapa Ani” dan “perempuan 54 tahun”; Menurut perempuan yang kerap disapa Ani itu, Pemerintah Singapura mengatakan bahwa mereka sudah memberikan anjuran kepada semua perbankan di Singapura untuk mendukung para nasabahnya yang ingin mengikuti tax amnesty di Indonesia. ... "Jadi, saya tentu tetap mengharapkan para pembayar pajak Indonesia untuk tetap menggunakan UU ini dan kesempatan ini untuk memperbaiki pelaporannya dan menyukseskan program amnesti ini dalam rangka untuk membangun Indonesia," ucap perempuan 54 tahun itu.

Itu ke Itu

*

Tentu saja tidak salah jika Sri Mulyani disebut sebagai perempuan, karena dia memang perempuan. Pastilah tidak dapat dikatakan tidak tepat kalau tempat lahir dan umurnya digandengkan dengan kata “perempuan”. Hanya saja, ada hal yang cukup menarik jika kita tilik kacamata si reporter yang dia pakai untuk melihat tokoh yang dia sebut dalam cerita. Keperempuanan Sri Mulyani begitu kuat menguasai cara pikir si reporter itu. Apakah itu karena keperempuanan dan kedudukan sebagai pejabat tinggi adalah sesuatu yang unik atau luar biasa? Untuk masa sekarang, rasanya tidak lagi demikian. “Keperempuanan” yang begitu kuat adanya dalam cara pikir, membuat si penulis berita tidak menyadari bahwa kata “perempuan” sudah kehilangan nilai informatifnya karena dari nama saja publik sudah tahu bahwa Sri Mulyani seorang perempuan. Kalimat berita itu akan lebih informatif jika si reporter mengambil salah satu pilihan dari sekian banyak kemungkinan yang dapat dia pakai sebagai predikat Sri Mulyani, seperti berikut ini: - Lulusan FE Universitas Indonesia 1986; - Lulusan Universitay of Illinois Urbana - Champaign 1992; - Mantan Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEUI; - Mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas; - Mantan Pelaksana Tugas Menko Bidang Perekonomian; - Menteri Keuangan Terbaik Asia 2006 (versi Emerging Markets); - Perempuan paling berpengaruh ke-23 (versi majalah Forbes); - Mantan Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional; - Perempuan paling berpengaruh ke-2 di Indonesia (versi majalah Globe Asia); - Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia. Berbagai sebutan pengganti ini lebih informatif dibandingkan dengan kata “perempuan”, apalagi jika pilihan untuk sebutan pengganti itu punya relevansi dengan substansi keterangan Sri Mulyani yang dikutip.

*
Ini adalah hal yang tidak terlalu penting yang tak dapat disebut tidak penting. Ia disadari mungkin karena saya membaca dengan pikiran yang cerewet. Kecerewetan itu pula agaknya yang membuat saya melihat cara penulisan seperti itu bukan sebagai masalah variasi kalimat berita belaka. Ia menyangkut kepantasan dalam berbahasa. Figur seperti Sri Mulyani bukanlah figur yang baru kondang pada masa sekarang. Dia sudah jadi narasumber berita sejak masa akhir pemerintahan orde baru. Untuk popularitas seperti yang dia miliki saat ini, cita rasa bahasa saya menangkap kekurang-pantasan jika Sri Mulyani disebut sebagai “perempuan yang ...” -- predikat yang lebih cocok ditempelkan pada “perempuan yang entah siapa” alias orang yang belum dikenal publik selama ini. Tapi ini adalah cita rasa, hal yang sangat subjektif, dan bisa jadi pelik jika diperdebatkan.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook penulis pada tanggal 16 September 2016.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.