Diabetes Gestasional

Rabu, 7-6-2017

Perubahan pada tubuh seorang ibu dimulai begitu terjadi kehamilan dan terus berlangsung selama kehamilan. Fungsi tubuh secara bertahap akan kembali seperti sebelum hamil beberapa minggu setelah melahirkan.

Perubahan ini terjadi pada hampir semua sistem organ tubuh ibu hamil untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan ibu dan janin dalam kandungan. Penyesuaian juga terjadi pada sistem endokrin (sistem kelenjar yang menghasilkan hormon tubuh). 

Pada kehamilan tua, sistem tubuh ibu terutama dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta (growth hormone, corticotropin-releasing hormone, placental lactogen, dan progesterone). Ini penting karena janin tumbuh pesat pada akhir masa kehamilan. Metabolisme karbohidrat ibu hamil difokuskan untuk menyediakan glukosa dan asam amino bagi si janin, dan menyediakan asam lemak bebas, keton, dan gliserol untuk si ibu sendiri. Kadar somatostatin yang berfungsi menghambat produksi hormon human chorionic somatomammotropin (hCS) -- hormon yang menyebabkan resistensi insulin menurun pada kehamilan tua.

Semua keadaan ini menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Ini adalah normal dan penting bagi tubuh ibu untuk pengaturan penggunaan lemak, karbohidrat, dan asam amino bagi janin dan dirinya sendiri.

Diabetes pada kehamilan ada dua jenis: Pregestasional (diabetes tipe 1 atau 2 yang didiagnosa sebelum terjadinya kehamilan) dan Gestasional (diabetes yang didiagnosa terjadi saat hamil). 

Penderita diabetes yang tidak mengontrol kadar gula darahnya, bila hamil akan keguguran atau bayinya akan lahir dengan cacat bawaan. Karena itu penting sekali seorang wanita yang berencana hamil memeriksakan kesehatannya untuk diagnosa dini diabetes. Bila diketahui ada diabetes, sebaiknya diterapi agar gula darah terkontrol sebelum memutuskan untuk hamil. Selama kehamilan kadar gula tetap harus terkontrol agar ibu dan anak sehat.

Bila anda penderita diabetes yang selalu makan obat, begitu tahu anda hamil, segeralah ke dokter, karena ada kemungkinan obat anda harus diganti.

Diabetes gestasional adalah keadaan di mana fungsi pankreas ibu hamil (yang bukan penderita diabetes), tidak cukup untuk mengatasi resistensi insulin sehingga kadar gula darah menjadi terlalu tinggi. Prevalensi (jumlah penderita) diabetes gestasional di Indonesia adalah sekitar empat persen dari semua kehamilan. Prevalensi ini meningkat seiring waktu mungkin karena peningkatan usia rata-rata ibu hamil. Diagnosa dini sangat penting, karena itu pemeriksaan gula dalam urin sebaiknya dilakukan pada setiap pemeriksaan kehamilan, walau hasil negatif tidak selalu berarti tidak ada diabetes gestasional, dan sebaliknya hasil positif belum tentu diabetes gestasional. Jika hasil positif, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan toleransi glukosa untuk mendapatkan diagnosa pasti. Bila kadar gula darah tinggi pada kehamilan dini, ada kemungkinan si ibu sebelum hamil telah ada diabetes tipe 2 yang tidak didiagnosa (tidak disadari).

Diabetes gestasional yang tidak terkontrol meningkatkan risiko preeklamsia, makrosomia (berat janin di atas 4.000 g), hidramnion (jumlah cairan ketuban lebih banyak dari normal), bayi lahir prematur, persalinan dengan operasi caesar, dan masalah pada bayi baru lahir (seperti masalah pernafasan, asidemia, hipoglikemia neonatus, hiperbilirubinemia, hipokalsemia).

Risiko keguguran dan kelainan bawaan pada janin juga meningkat tapi tidak setinggi bumil yang menderita diabetes pregestasional. Setelah kelahiran, risiko si ibu untuk menderita diabetes mellitus dan penyakit jantung menjadi lebih tinggi; sedang si anak berisiko obesitas atau sindrom metabolik lain. Perpaduan diabetes gestasional dengan obesitas dan diabetes mungkin ada hubungannya dengan peningkatan risiko autisme pada anak. Diharapkan dengan penanganan diabetes gestasional yang baik, risiko-risiko itu dapat dihindari.

Diabetes Gestasional

Faktor risiko menderita diabetes gestasional 

1. Berat badan sebelum hamil > 110 persen berat badan ideal atau BMI >25 kg/m2, pertambahan berat badan yang signifikan pada awal usia dewasa dan antara kehamilan, atau peningkatan berlebihan berat badan saat hamil
2. Pernah mengalami kelainan toleransi glukosa atau diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya (48 persen kemungkinan kambuh pada kehamilan berikut). 
3. Keturunan dari etnik Hispanik, Afrika, Indian, Asia Selatan atau Timur, penduduk kepulauan Pasifik. 
4. Ada keluarga, terutama keluarga dekat yang menderita diabetes. 
5. Usia ibu > 35 tahun. 
6. Pernah keguguran atau melahirkan bayi yang tidak normal. 
7. Ditemukan glukosa dalam urin saat pertama kali periksa kehamilan. 
8. Kelainan medis yang biasanya dihubungkan dengan diabetes seperti hipertensi (> 140/90 mmHg), Kolesterol HDL yang rendah, dan trigliserida yang tinggi. 
9. Kehamilan kembar/multipel (lebih dari satu janin dalam kandungan pada waktu yang sama). 
10. Orang yang tidak banyak bergerak. 

Pencegahan Diabetes Gestasional 

1. Penurunan berat badan bagi perempuan obesitas sebelum kehamilan. 
2. Wanita yang tidak hamil, bila melakukan olahraga teratur kemungkinan menderita diabetes lebih rendah dari yang tidak melakukan olahraga. 
3. Diet yang sehat dan tidak merokok. 

Penanganan Diabetes Gestasional 

1. Pemeriksaan kehamilan yang lebih sering untuk monitor kesehatan ibu dan anak. 
2. Perencanaan diet - Asupan kalori sehari dibagi menjadi tiga kali makan dengan 2 - 4 kali makanan ringan. Kalori didapat dari 40 persen karbohidrat, 20 persen protein, dan 40 persen lemak. 
3. Melakukan sendiri pemeriksaan gula darah secara teratur. 
4. Olahraga sesuai keadaan ibu. 
5. Terapi dengan obat bila perlu dan dengan insulin bila kadar glukosa darah puasa lebih dari 95 mg/dL.

Food Pairing

Pasca kelahiran 

Ibu - Lakukan pemeriksaan gula darah 1-3 bulan setelah melahirkan, dan kemudian setiap tiga tahun bila tidak ditemukan menderita diabetes. 

Anak - Begitu lahir harus langsung diperiksa lebih teliti dari anak yang lahir dari ibu normal. Pemeriksaan kadar gula darah dalam 12- 24 jam setelah lahir dan terus dimonitor jika kadar gula darah sangat rendah. Karena itu sebaiknya melahirkan di rumah sakit. Setelah dewasa anak juga lebih berisiko menderita obesitas dan diabetes.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.