Ingin Cerai? Eiiitsss…Tunggu Dulu

Rabu, 11-11-2015

Berita infotainment di tv tentang seorang selebritis lokal yang dengan santainya mengatakan ingin menceraikan isterinya karena tidak mahir memasak, sungguh membuat saya mengernyitkan dahi. Begitu sederhanakah alasan seseorang untuk sampai pada keputusan menceraikan pasangannya? Menurut saya, keputusan untuk bercerai adalah hal yang sangat kritis dan konsekuensinya akan dirasakan seumur hidup, bukan hanya oleh anda sendiri, tapi lebih pada anak-anak anda.

Hal-hal Yang Perlu Dipertimbangkan

Perceraian menempati urutan kedua teratas dari daftar peristiwa hidup yang skor tingkat stresnya tinggi, di bawah urutan kematian pasangan. Keputusan bercerai adalah keputusan yang sangat penting untuk dipikirkan matang-matang karena hampir semua aspek kehidupan akan ikut berubah.

Anda perlu duduk tenang, berpikir dengan hati dan kepala dingin, kemudian tanyakanlah pada diri anda hal-hal berikut ini:

1. Bagaimana perasaaan anda saat ini pada pasangan? Tawar, tidak perduli apapun dengan yang ia kerjakan, tidak pernah merindukannya lagi jika ia tidak berada di rumah, atau masih ada rasa khawatir jika ia pulang terlambat dan tidak ada kabar beritanya? Jika anda masih punya rasa khawatir dan masih memikirkan pasangan, artinya anda berdua hanya butuh bantuan konselor untuk introspeksi dan membuat komitmen baru mengatasi kesenjangan selama ini.

2. Apakah kondisi anda berdua saat ini seperti orang kost atau mengontrak rumah bersama dan sekedar berbagi tugas harian dan berbagi biaya hidup? Pasangan yang hubungannya ‘sehat’ akan saling berbagi rasa bahagia ataupun sedih, cita-cita, mimpi dan berusaha untuk membuat hubungan lebih baik dan saling membutuhkan, jadi bukan sekedar tinggal bersama dan berbagi tempat tidur.

3. Apakah anda ingin bercerai karena ditantang untuk bercerai oleh pasangan anda? Dan anda ingin menjawab tantangan itu untuk menunjukkan bahwa anda berani dan anda lebih hebat dari pasangan? Sungguh alasan yang naïf dan kekanak-kanakan.

4. Atau anda memilih bercerai dengan harapan pasangan akan merasa kehilangan dan kemudian meminta anda untuk kembali dan merubah sikapnya? Ini alasan yang keliru karena perceraian akan membuat masalah menjadi lebih rumit apalagi untuk tujuan agar kembali rujuk.

5. Bercerai artinya melepaskan segala kemelekatan (attachments) pada pasangan. Membuat anak-anak hidup terpisah dari saudara dan orang tuanya. Anda siap?

6. Sanggupkah anda melawan rasa bersalah terhadap anak-anak, terhadap keluarga besar, terhadap orang-orang yang selama ini mendukung anda untuk bertahan? Mungkin anda tidak punya rasa bersalah pada pasangan, tapi rasa bersalah pada orang yang berada di sekeliling anda, akan terus menghantui. Seumur hidup.

7. Dibutuhkan sikap dewasa dan matang ketika menjalani hidup setelah perceraian karena perceraian bukan berarti anda terbebas dari masalah, tapi justru anda akan menghadapi tantangan dan kendala lain yang lebih berat. Pandangan masyarakat, posisi sebagai orang tua tunggal, status sosial, kondisi finansial, dan tantangan lain yang siap menghadang. Pikirkanlah hal ini sebelum mengambil keputusan.

8. Pernahkah anda punya pikiran lebih baik pasangan anda lebih cepat dipanggil Yang Maha Kuasa dan anda akan lebih bahagia hidup sendiri? Merasa akan terbebas dari kungkungan dan kondisi emosional yang sangat menekan jika terus hidup bersama? Atau justru anda khawatir jika ia dipanggil menghadap terlebih dahulu?

Cerai

9. Bagaimana dengan tujuan dan nilai-nilai yang dianut, masih sejalan atau makin banyak perbedaan atau bahkan bertolak belakang?

10. Apakah anda sudah mencoba untuk tinggal terpisah untuk sementara waktu, evaluasi hubungan selama perpisahan sementara dan kemudian mencoba rekonsiliasi? Kailen Rosenberg, konselor perkawinan, menyarankan untuk berpisah sementara waktu karena jarak membantu anda untuk berpikir lebih jernih dan menelaah kembali kondisi hubungan anda, sebelum memutuskan untuk bercerai.

11. Apakah anda sudah berbicara dengan anak-anak, terlebih jika anak anda sudah remaja dan mendengar pendapat mereka? Ada anak yang lebih suka orang tuanya berpisah daripada setiap hari melihat keduanya bertengkar terus dan suasana rumah menjadi seperti neraka.

12. Pikirkan lagi dan lagi. Apakah sebenarnya anda berdua hanya butuh orang tengah untuk membantu mengurai benang kusut?

Jika anda ingin bercerai karena kehadiran orang ketiga, baik di pihak anda ataupun di pihak pasangan, ini jelas bukan alasan yang bijak untuk suatu perceraian. Selesaikanlah urusan anda berdua dengan pasangan, sebelum masuk ke hubungan yang lain. Hubungan dengan pihak ketiga bukan menjadi jalan keluar dari masalah, tapi justru akan memperkeruh kondisi anda.

Bertahan Atau Berpisah?

Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan ini karena anda yang mengalami pasang surut hubungan selama ini. Akan tetapi ada beberapa poin yang dapat dijadikan acuan untuk mengakhiri hubungan (seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya: Cerai Atau Tidak? Kebimbangan yang Membutuhkan Keputusan).

  1. Adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik kekerasan secara fisik maupun mental (verbal abuse).
  2. Ada indikasi gangguan jiwa yang serius pada pasangan.
  3. Penyelewengan yang berulang
  4. Pasangan terlibat tindakan kriminal.

Bertahan dalam perkawinan yang pincang dan amburadul sama beratnya dengan bercerai. Seperti kata teman, rasanya seperti kaki yang harus diamputasi. Amputasi kaki kiri atau kaki kanan, sama sakitnya, sama sulitnya untuk berjalan, sama galaunya. Jadi, pikirkanlah baik-baik dan sematang mungkin sebelum mengambil keputusan. Jika memang masih bisa bertahan dan anda masih punya harapan dan energi, bertahanlah. Jika rasanya seperti sudah menjadi orang lain, yang anda sendiri tidak kenal lagi, lebih terpuruk jika terus bertahan, ayoooo…langkahkan kaki dan keluarlah dari lingkaran setan itu.

Catatan: Tulisan ini muncul pertama kali di blog patahtumbuh yang lama tanggal 20 Mei 2014.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.