Keangkuhan Selera

Selasa, 13-6-2017

Sekitar duapuluh tahun yang lalu, seorang teman berkata, “Buku taik apa ini? Gak ada bagusnya sedikitpun.” Ibunya menjawab, “Mengapa kamu harus menambah kata ‘taik’ di situ? Bayangkan ‘rasa’ kalimat itu tanpa kata taik. Bagaimana perasaanmu jika buku yang kamu tulis disebut buku ‘taik’? Lain rasanya kalau orang hanya mengatakan buku ‘jelek’, bukan?”

Perkataan ibu itu terpateri di dalam otak saya hingga sekarang, dan saya ingat kembali ketika saya membaca satu komentar tentang kopi pada status teman di Facebook. “Starbuck is s**t coffee.” Saya hanya kenal kopi Starbucks, dan tidak tahu ada kopi Starbuck. Tapi alangkah kasihannya kopi Starbuck dikomentari seperti itu.

Starbucks
Starbucks Reserve Roastery & Tasting Room di simpang Melrose Avenue, Seattle, Amerika.

Bagi saya, seorang pecinta kopi yang “men-taik-kan” minuman kopi seperti yang ditawarkan di kedai kopi Starbucks bisa dibandingkan dengan pecinta musik klasik Barat yang menertawakan musik kebanyakan seperti dangdut; atau pecinta lukisan aliran tertentu yang merendahkan lukisan photorealism. 

Beberapa tahun yang lalu saya bukan peminum kopi. Walau menyukai rasanya, kopi membuat saya mual dan sakit perut. Saat itu saya pertama sekali membaca mengenai Starbucks dari bacaan anak saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam pelajaran bahasa Inggrisnya ada bacaan tentang sejarah singkat Starbucks. Saya ingat saat membaca itu saya merasa kagum pada perusahaan Starbucks yang maju dengan pesat, sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya, dan kepeduliannya akan kelestarian lingkungan.

Aceh Coffee
Starbucks juga menggunakan kopi dari Indonesia.

Anda tahu ada berapa kedai kopi Starbucks yang tersebar di empat penjuru angin sekarang? Waktu mengunjungi putri saya di Seattle --kota lahirnya Starbucks-- dia membawa saya ke kedai kopi Starbucks yang pertama di dunia. Saya ke sana bukan karena mengikuti trend atau fanatik merek Starbucks. Sesungguhnya, berapa kali saya membeli minuman di Starbucks di Taiwan ini bisa dihitung dengan jari tangan.

First Starbucks
Kafe Starbucks pertama di Seattle, Amerika.


Saya menyukai Starbucks karena beberapa hal:

1. Sejarah Starbucks.

2. Kebijaksanaan perusahaan Starbucks— terhadap kelestarian lingkungan, terhadap pemeliharaan mutu, terhadap kesejahteraan karyawan, dan kebijakan-kebijakan lainnya.

3. Menu di Kedai Kopi Starbucks yang kemudian ditiru oleh hampir semua kedai kopi moderen.

4. Suasana dalam Kedai Kopi Starbucks— Saya tidak begitu tahu Starbucks di Indonesia, tetapi Starbucks di semua kota di negara yang pernah saya kunjungi semuanya didesain dengan menarik dan nyaman. Untuk duduk sendirian minum kopi sambil bekerja dengan komputer atau ketemuan dengan teman.
Namanya yang terkenal membuatnya juga mudah dicari. “Kita ketemuan di mana?” Akan sangat mudah bila menjawab, “Starbucks yang di jalan A.” Ia juga bisa berfungsi seperti tengaran (landmark). “Cantik sekali lampu kristalmu, di mana kamu beli?” “Oh, di toko lampu di jalan X. Sebelahnya ada Starbucks. 

Starbucks Inside
Bagian dalam Starbucks Reserve Roastery & Tasting Room
Kopi Sumatera

Benar, banyak yang mengatakan kopi Starbucks over-roasted, tidak enak, tetapi mereka terus melakukan perbaikan kualitas dan mereka mendengar kritik dari customernya.

Tulisan tentang Kopi Starbucks dari Tana Toraja (dalam bahasa Inggris). 

Karena kami memiliki mesin kopi sendiri di rumah, perlahan-lahan saya belajar minum kopi. Sedikit banyak saya akhirnya mengerti apa yang disebut roast levels, cara membuat kopi (metode brew seperti chemex, cold brew, french press, bahkan ada satu saat di rumah kami memakai mesin kopi single serve.) Saya tahu jenis minuman kopi seperti espresso, americano, latte, atau macchiato. Saya mengerti ada tanaman kopi Arabica, Robusta, dan Liberian yang dibuat jadi minuman kopi. Itu semua tidak penting, termasuk keterikatan pada merek. Tetapi keangkuhan selera juga bukan hal yang membanggakan.

Kebiasaan dengan suatu rasa, akan membuat kita tak cocok dengan rasa yang lain. Tapi ketidak-cocokan dan selera yang sudah terbentuk tidak harus menjadi 'keangkuhan selera' yang diikuti vonis ataupun tudingan merendahkan.

Keangkuhan Selera

SaveSave

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.