Kesehatan Mental Anak

Senin, 10-10-2016

Film terbaru yang saya tonton bulan ini berjudul “A Girl Like Her”, sebuah mockumentary, film fiksi yang disajikan dengan format dokumenter untuk menganalisis suatu peristiwa yang terjadi dalam setting film tersebut.

Film ini produksi Amerika tahun 2015 yang dinominasikan untuk Voice Award 2015, berlatarbelakang cerita tentang siswa SMA dan kasus bully yang membuat sang tokoh utama berusaha bunuh diri karena sangat tertekan. Dalam salah satu adegan, ayah Jessica Burns, si gadis yang menjadi korban dengan overdosis, berkata, “Betapa teledornya aku sampai tidak tahu apa yang terjadi pada anakku selama ini.” 

Kisah dalam film ini disusun berdasarkan banyak kejadian nyata dari kehidupan remaja, bukan hanya di Amerika, tapi juga di tempat lain. Pesan yang ia sampaikan begitu kuat. Ia membuka mata kita sebagai guru, orangtua maupun pembimbing para remaja, untuk menyadari bahwa bully bukan masalah sepele. Bully bisa berakibat fatal, menghancurkan rasa percaya diri seseorang, menghancurkan masa depannya.

Bully

Dalam portal The Guardian UK tanggal 5 Oktober 2016 ada berita tentang seorang ibu, Lucy Alexander dari Worcester, Inggris, yang puteranya bunuh diri di rel kereta api pada bulan April 2016 akibat tidak tahan dibully oleh teman-temannya di sekolah. Ibu ini mengangkat kembali kasus bunuh diri anaknya bukan untuk menarik simpati banyak orang, tapi demi membunyikan lonceng agar orang sadar dan punya tanggungjawab kolektif untuk melindungi hidup kaum muda di manapun dari kasus bully. Dalam surat terbukanya yang dipublikasikan di Worcester News, Lucy Alexander menceritakan bagaimana puteranya, Felix, 17 tahun, begitu tertekan, dibully oleh teman-temannya sejak dia berusia 10 tahun. Kasusnya bermula ketika dia tidak diperbolehkan bermain video game Call of Duty: Modern Warfare 2. Felix kemudian menjadi bulan-bulanan teman sebayanya dan menjadi korban cyberbullying. Orang yang tidak kenal Felix juga ikut mencercanya lewat media sosial. Saat ini keluarga Felix menggalang dana untuk Place2Be, organisasi non-profit yang fokus menangani anak-anak yang punya masalah psikologis. 

Kasus bully seperti ini juga ada di sekeliling kita dan sudah saatnya untuk diperhatikan serta ditangani dengan serius. Sebagai orangtua dan sebagai guru, radar harus selalu ‘on’. Tekankan pada anak-anak agar menggunakan media sosial untuk hal yang positif, tidak ikut-ikutan teman membully, tidak gampang terpancing, dan mampu memilah mana yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Seperti orang dewasa, anak-anak dan remaja juga mengalami kecemasan, bingung, dan stres. Bermain dan berinteraksi dengan teman mempengaruhi kondisi emosionalnya dan tercermin dalam tingkah lakunya. Jika terlihat tingkah lakunya agak lain dari biasanya, misalnya tiba-tiba tidak banyak bicara, mengurung diri, atau bahkan menjadi lebih agresif, bisa jadi itu pertanda bahwa anak mengalami masalah dan kesehatan mentalnya terganggu. 

Anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang bermasalah, tapi orangtua maupun guru yang radarnya sensitif, akan mampu menangkap sinyal kondisi anak yang tidak seperti biasanya. 

Ann Douglas dalam bukunya: Parenting Through the Storm: Find Help, Home, and Strength When Your Child Has Psychological Problems, mengemukakan beberapa indikasi yang bisa menjadi warning signs (isyarat peringatan) bahwa anak sedang mengalami masalah:

- Mengalami masalah di sekolah, mulai mogok sekolah 
- Bertengkar dengan teman atau membully teman 
- Berusaha melukai diri sendiri 
- Menjadi pendiam, menghindari interaksi dengan orang lain, mengurung diri 
- Mood swings (mood yang berubah-ubah dengan cepat)
- Temper tantrum (suka mengamuk tidak menentu) 
- Marah atau cemas berlebihan 
- Kehilangan motivasi 
- Tidak bersemangat dan badan lemas 
- Sulit berkonsentrasi
- Insomnia dan mengalami mimpi buruk
- Timbul berbagai macam keluhan fisik 
- Malas menjaga penampilan dan kebersihan diri 
- Terobsesi dengan bentuk tubuh, berat badan, atau penampilan 
- Perubahan porsi makan: terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Ketika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan tersebut, seyogyanya orangtua atau guru mengambil langkah proaktif mendekati anak atau mencari bantuan profesional sebelum kondisi anak bertambah buruk. Jika masalahnya berasal dari lingkungan sekolah, sebaiknya orangtua mengajak guru untuk bekerjasama membantu si anak. Mengajak anak berbicara dan membantunya mengurai masalah. Anak butuh bantuan untuk mengatasi persoalan yang sedang ia hadapi. 

Sekarang bully tidak hanya ada di gerbang sekolah, di kelas, atau di lingkungan bermain, tapi sudah berkembang jauh lebih mengerikan. Cyberbullying muncul dan menghantui anak 24 jam sehari. Komentar negatif di media sosial menjadi teror dan membuat anak takut setiap kali melihat layar gadget. Ada anak yang melihat temannya di-bully tapi tidak tahu harus berbuat apa dan menjadi trauma bagi dirinya sendiri. 

Ajari anak memberi komentar positif, berpikir ulang sebelum menekan tombol enter ketika sharing sesuatu di media sosial, latih rasa empati anak dengan mengajak mereka berpikir sebagai pihak yang akan menjadi penerima pesan yang dia kirim. Jadi, bukan hanya mengajarkan kepada anak mengatasi masalah ketika menjadi korban, tapi juga melatih mereka untuk tidak menjadi pelaku.

Tanggal 10 Oktober adalah hari kesehatan mental sedunia dan semoga kita semua menjadi lebih waspada dan menjaga kesehatan mental kita dan keluarga untuk tetap sehat dan seimbang. Kondisi mental butuh perhatian yang sama sebagaimana kita menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan nyaman.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.