Kiasu - Baik atau Buruk?

Pernahkah anda mendengar kata "kiasu" dan "kiasi" dalam percakapan atau pergaulan sehari-hari? Kedua kata ini sering diucapkan oleh teman-teman dari negara tetangga kita- Singapura, dan sudah "dipatenkan" juga dalam kosa kata Singaporean English.

Kiasu dan kiasi berasal dari bahasa daerah/dialek Hokkian. Istilah kiasu dapat diterjemahkan menjadi "takut kalah". Kia artinya "takut". Su artinya "kalah". Si artinya "mati". 

Kata "takut" dan "mati" berkonotasi negatif. Kiasu merujuk pada orang yang tidak mau kalah, tak mau ketinggalan; selalu berusaha menang dengan segala cara tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang lain. Ekstrimnya, bertarung untuk menang. Padanannya dalam bahasa Inggris adalah "overcompetitive". Dalam kamus Singlish, kiasu berarti orang yang takut kalah dari orang lain, menunjuk pada sifat egois, terlalu curiga pada orang lain sehingga perilakunya tampak jutek dan seolah-olah tidak mau tahu dan tidak peduli pada orang lain. Mungkin hal ini yang membuat orang lain tidak menyukai orang yang kiasu dan mencap mereka negatif. Selalu ingin menang dalam setiap perdebatan, takut atau malu dianggap "bodoh" atau "newbie".  Selain itu, biasanya orang yang kiasu selalu menganggap karya sendiri yang terbaik, sehingga bila mereka kalah dalam kompetisi, mereka akan menuduh juri tidak adil. Mereka tidak mau mengakui bahwa karya orang lain lebih baik. Orang yang kiasu juga cenderung merendahkan karya orang lain. Misalnya, ketika mereka melihat karya pemenang suatu kompetisi yang mereka tidak ikut partisipasi di dalamnya, mereka akan berkata, “Juara satu segitu saja? Saya bisa buat lebih bagus dari itu.”

Ada saatnya orang yang kiasu menjadi "kiasi" yaitu bila dia merasa ada kemungkinan kalah. Dia akan mundur sebelum bertarung untuk mengurangi risiko kalah. Orang yang kiasi akan melakukan segala cara untuk menghindar dari risiko.

The Barret Values Center and Advantage Consulting pernah melakukan survei dengan 2.000 responden di Singapura. Para responden diminta menyebutkan sepuluh sifat yang menggambarkan masyarakat Singapura di era milenial ini serta jenis masyarakat yang mereka impikan. Hasilnya: Sifat kiasu menempati peringkat teratas. Kompetitif dan mementingkan diri sendiri berada di urutan selanjutnya. "Compassion" (rasa kasih) menempati urutan ke-lima untuk pertanyaan jenis masyarakat yang mereka impikan. Perumahan dengan harga terjangkau menempati urutan pertama.

Menurut para akademisi, kiasu bukanlah hal yang sepenuhnya negatif. Koran The Straits Times pernah melaporkan pendapat Dr. Leong Chan-Hoong dari Institute of Policy Studies, "Kiasu adalah manifestasi dari sikap yang berorientasi pencapaian (achievement orientation)." Orang yang kiasu selalu berusaha menjadi yang terbaik. Dalam bahasa Inggris disebut "overachiever". Menurut Paulin Straughan dari National University of Singapore, tidak perlu merasa malu mengakui bahwa kita memiliki sifat kiasu karena itu bukanlah refleksi negatif dari diri kita. Orangtua tipe kiasu selalu mendorong anak mereka untuk berprestasi semaksimal mungkin dengan mendaftarkan anak mereka untuk mengikuti berbagai les tambahan, aktif di sekolah, hingga intervensi ke guru kelas. Mereka selalu memantau kegiatan anak di sekolah termasuk kompetitor terberat anaknya.

Dalam kenyataannya, karakter kiasu bisa ditemukan dalam masyarakat mana saja, bukan hanya di Singapura. Mungkin selama ini kita tidak memiliki istilah khusus untuk orang-orang dengan karakter seperti ini. Istilah kiasu belum populer di Indonesia. Kiasu bisa mendorong kita untuk punya daya kompetisi tinggi agar tidak kalah dan selalu menjadi orang terdepan. Tetapi kondisi ingin selalu menang juga meningkatkan level stres dan "biaya" psikologis.

Dalam dunia kerja ada fenomena orang yang suka menjegal rekan kerja dengan mencuri ide atau "menikam" dari belakang agar selalu tampil baik di depan bos dan dipuji orang. Betulkah sifat kiasu ini dibutuhkan agar kita tetap bersemangat untuk menang dan berkompetisi? 

Menurut saya, cara terbaik mengetahui apakah sikap kiasu kita sudah kebablasan adalah dengan melihat reaksi orang sekitar kita. Jika teman mulai menghindar dan makin banyak orang yang merasa tidak nyaman berada di dekat kita, sudah saatnya kita melakukan refleksi diri. Sifat kiasu yang berlebihan bukan saja membuat kita dihindari teman, tetapi juga bisa menghambat kemajuan kita sendiri. Jika kita tidak mau mengakui karya orang lain, bagaimana kita bisa maju? 

Kiasu

 

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Mungkin Januari bukan bulan yang baik untuk berlibur ke Bali, apalagi jika tujuan pertama adalah...

Rose Chen

Air Terjun Shifen 

Rose Chen

Kuil ini terletak di distrik Zhungli, kota Taoyuan. Tempat ibadah seperti ini ada di setiap...

Rose Chen