Makanan Hasil Rekayasa Genetika – Amankah?

Selasa, 3-11-2015

bersama Rose Chen

Orang yang berusia lima puluh tahun ke atas mungkin masih ingat serunya menggigit jambu klutuk atau mengunyah butir-butir jagung bakar yang lumayan keras. Supaya gigi jangan sampai patah, kita harus tahu teknik seleksi buah ini. Jambu biji diketuk, didengar bunyinya. Jagung dipilih yang warnanya lebih pucat dengan perkiraan warna demikian adalah pertanda jagungnya masih muda.

Seiring berlalunya waktu, kebutuhan akan kemampuan memilih buah berangsur hilang, kita dimanjakan buah-buahan yang lebih mudah dikunyah, tak perlu susah payah mengetuk jambu klutuk ataupun memilih jagung. Ada jambu Bangkok yang  selain besar juga pasti renyah, jagung hawai, mutiara, susu bahkan jagung ungu yang manis krenyes. Jengkel dengan biji-biji dalam semangka? Gampang, beli saja semangka tanpa biji. Tentu kita menyambut gembira perubahan-perubahan ini. Namun pernahkan kita mempertanyakan asal muasal buah dengan mutu up-grade ini? Apakah merupakan hasil campur tangan manusia atau memang dalam alam ini ada buah dengan sifat seperti itu dan petani hanya menyeleksi dan menanam yang terbaik saja?

Dipandang dari sudut kepentingan manusia, seluruh isi alam pasti memiliki nilai positif dan negatif. Ini mendorong manusia mencari jalan untuk menghilangkan nilai negatif dan mempertahankan ataupun menambah nilai positif. Misalnya, mengubah bibit tanaman menjadi jenis baru dengan nilai plus yang lebih banyak. Dalam dunia biologi  organisme yang dirubah ini dikenal dengan istilah Genetically Modified Organism (GMO). GMO ini dihasilkan dengan menggunakan Rekayasa Genetika (Genetic Engineering). Selain tumbuhan, ikan, mamalia dan serangga, mikroorganisme seperti bakteri dan jamur juga bisa dimodifikasi.

Genetically Modified Food adalah makanan yang diproduksi dari tanaman yang telah melalui proses rekayasa genetik. Zaman nenek kita dulu, kalau mau tanaman yang lebih baik, mereka mengawinkan jenis A dengan jenis B, tetapi perlu waktu lama untuk mendapatkan jenis tanaman dengan sifat yang mereka inginkan. Dengan sistem rekayasa genetik, proses ini sangat cepat dan jitu. Peneliti memilih gen (bagian dari kromosom yang membawa sifat turunan) yang diinginkan, baik dari tumbuhan maupun dari mahluk lain dan disuntikkan ke tanaman yang akan ditingkatkan mutunya. Artinya, demi mendapatkan tanaman yang memberi hasil panen lebih memuaskan, lebih tahan terhadap penyakit, lebih manis, lebih ini dan itu, manusia mengutak-atik gen tumbuhan tersebut.

Buah tanpa biji yang kita nikmati dengan lahap mungkin adalah hasil partenokarpi buatan, dimana bakal biji dihilangkan dengan menggunakan hormon gibberellin dan auksin. Cara ini tidak merusak perkembangan buah.

Bukan hanya demi panen yang lebih baik saja genetik tumbuhan diubah, tapi juga demi keindahan. Bunga ros biru dan anyelir dengan warna lavender juga diciptakan dengan metode senada.

Rekayasa

Apa Yang Diharapkan Dari Rekayasa Genetik?

1. Tanaman bermutu tinggi
Agar lebih tahan terhadap hama, herbisida dan lingkungan yang tidak bersahabat. Selain itu juga agar hasil panen bisa lebih tahan dan tidak cepat busuk, meningkatkan nilai gizi dan untuk dijadikan obat-obatan.

2. Medis dan produksi makanan
Bakteri hasil rekayasa genetik digunakan dalam pembuatan insulin untuk pengobatan diabetes, faktor pembeku untuk penderita hemofilia dan hormon pertumbuhan (growth hormone) untuk orang yang terganggu pertumbuhannya. Selain itu hasil rekayasa genetik mikroorganisme lain juga dipakai untuk makanan yang diproses seperti pada pembuatan keju dan untuk menjernihkan sari buah kotak.

Percobaan-percobaan rekayasa genetik pada binatang menyusui dilakukan untuk menemukan terapi penyakit yang serius. Dengan mengubah DNA atau memindahkan DNA pada hewan percobaan, diharapkan untuk memperoleh protein yang bisa menyembuhan penyakit tertentu. 

Di Kanada, peneliti menyuntikkan enzim phytase  ke dalam kromosom babi sehingga babi ini mampu mencerna fosfor. Sebenarnya fosfor tidak bisa dicerna dan biasanya keluar bersama kotoran babi. Fosfor ini akan mencemari air, karena ia adalah makanan utama alga. Banyaknya alga di perairan akan mengurangi oksigen untuk ikan. Bila babi mampu mencerna fosfor, air takkan tercemar.

Tahun 2011,  ilmuwan Cina merekayasa sapi agar bisa menghasilkan susu yang setara mutunya dengan ASI. Mereka menyuntikkan gen manusia yang berfungsi membentuk ASI ke kromosom sapi. Menurut peneliti, selain kualitas susu, sifat lain dari sapi tersebut tidak ada bedanya dengan sapi normal.

Tahun 2012, ilmuwan New Zealand berhasil membuat sapi hasil rekayasa genetik yang susunya tidak menimbulkan alergi. 

Tahun 2010 ilmuwan berhasil membuat nyamuk tahan malaria dan demam berdarah.

Pro dan Kontra Rekayasa Genetik

Pembahasan antara pro dan kontra rekayasa genetik (RG) tidak ada hentinya. Yang terutama diperdebatkan adalah makanan hasil RG.

Pro Rekayasa Genetik

  1. Solusi pilihan dalam mengatasi masalah pangan dunia karena harga yang lebih murah dan jenis pangan dengan mutu yang lebih baik.
  2. Menghilangkan alergen dari makanan. Tahun 2003 ilmuwan berhasil uji coba kedele jenis baru yang hipoalergik. Mereka juga berhasil mengurangi sifat alergi sejenis rumput yang sering menyebabkan hayfever. Produsen makanan hasil RG menyatakan bahwa mereka menguji coba apakah ada alergen pada semua produk mereka sebelum dipasarkan.

Kontra Rekayasa Genetik

  1. Dampak terhadap kesehatan konsumen, baik hewan maupun manusia.
  2. Kemungkinan terciptanya alergen baru.
  3. Resistensi antibiotik dan pestisida.
  4. Hilangnya keseimbangan gizi asli.
  5. Pengaruh terhadap ekosistem. Diantaranya termasuk kekhawatiran para petani non RG dan petani organik bahwa polinasi oleh serangga yang tidak memilah milih tanaman akan mengacak tanaman murni mereka dan kekhawatiran akan timbulnya jenis rumput baru yang tahan herbisida.
  6. Ada yang mempertanyakan apakah makanan hasil RG halal atau tidak.
  7. Pengaruh terhadap ekonomi

Perusahaan penghasil bibit RG mematenkan ciptaan mereka dan menentukan harganya. Perusahaan yang paling banyak menuai kritik dan protes adalah sang mentor RG,  Monsanto-- perusahaan pertanian bioteknologi multinasional di Amerika yang juga adalah sebuah laboratorium handal. Monsanto memegang hak paten atas semua bibit RG yang dibuat oleh penelitinya dan mengharuskan para petani pembeli untuk menandatangani surat perjanjian bahwa mereka tidak akan menyimpan bibit hasil panen untuk ditanam pada musim tanam selanjutnya, bahwa mereka hanya boleh memakai bibit yang dibeli untuk sekali panen.

Tahun 1997, Percy Schmeiser, petani canola dari Bruno, Saskatchewan, menemukan bahwa satu bagian dari ladang canolanya resisten terhadap herbisida padahal dia tidak ada menanam canola yang tahan herbisida ini. Ternyata tanaman ini berasal dari benih yang terbang dari ladang tetangganya. Dia panen dan menyimpan benih canola ini dan menanamnya kembali pada tahun 1998. Setelah tumbuh, Monsanto mendatanginya dan memintanya menandatangani perjanjian tetapi dia menolak. Akhirnya dia dituntut oleh Monsanto dan dia kalah dalam persidangan.

Sebenarnya permasalahan utama adalah apakah makanan hasil RG harus diberi label atau tidak. Orang ingin memperoleh informasi yang lebih banyak tentang resiko makanan ini dan mengklaim hak untuk memilih apakah mereka mau mengambil resiko itu.

Pada tanggal 25 Mei 2013, ratusan ribu orang di berbagai belahan dunia melakukan protes terhadap Monsanto dan menuntut agar makanan hasil RG diberi label. Organisasi-organisasi pecinta lingkungan hidup mengkhawatirkan kurangnya penelitian mengenai resiko terhadap kesehatan yang diakibatkan makanan hasil RG.

Sekarang ini negara-negara yang makanannya diberi label diantaranya adalah : Negara-negara Uni Eropah, Australia, Selandia Baru, Cina, Jepang dan India. Di Taiwan makanan hasil RG tidak diberi label tetapi makanan yang diolah dari bahan non-GMO diberi label, misal, di kemasan tahu ditulis : Dibuat dari kedele non-GMO. Harganya lebih mahal sedikit tetapi mungkin sebagian orang bersedia mengeluarkan uang lebih bila dia percaya itu demi kesehatannya.

Mungkin anda berpikir, apa sulitnya bagi Monsanto untuk memberi label? Mengapa membiarkan terjadi begitu banyak protes?

Alasan Monsanto menolak memberi label antara lain adalah:

  1. Label memberi kesan bahwa makanan tersebut berbahaya padahal menurut mereka tidak ada perbedaan antara makanan hasil RG dengan makanan normal.
  2. Memberi label perlu dana baru.
  3. Produk organik sudah diberi label. Jika pembeli tidak mau produk yang bukan organik, mereka bisa membeli yang diberi label organik.

Anjing menggonggong, kafilah berlalu, tak ada yang bisa menghentikan manusia untuk playing god. Menjungkirbalikkan alam disamping menimbang manfaat dan keuntungan, juga merupakan tantangan. Baik terhadap tumbuhan, hewan dan juga manusia sendiri.

Jadi apakah makanan hasil RG ini aman? Ini semua berpulang kepada kepercayaan anda sendiri kepada science. Apakah anda mau makan yang alami saja atau yang dipermak? Apakah anda mau memberi susu sapi kepada bayi anda dengan keyakinan bahwa itu sama baiknya dengan ASI dari dada anda sendiri? Apakah anda penyayang binatang yang tidak setuju percobaan-percobaan dilakukan kepada binatang? Apakah anda geek atau nerd yang sangat suka dengan science? Apakah anda termasuk yang berpikir bahwa Sang Pencipta alam semesta selain memberi bumi ini sebagaimana Dia ciptakan kepada manusia tapi juga memberi otak kepada manusia untuk menjaga dan memelihara alam ini ATAU pun mengubahnya demi kepentingan manusia yang adalah ciptaan kesayanganNya?

Hah? Segitu saja? Setidaknya beri informasi lebih banyak dong! Untuk membuat keputusan, kamikan perlu informasi lebih banyak. Okay… bagi yang ingin membaca lebih banyak, silahkan teruskan membaca.

Rekayasa

Interview dengan David Suzuki dapat disaksikan di sini. Interviewnya dalam bahasa Inggris.

Setiap negara memiliki peraturan berbeda terhadap makanan RG. Sebagian mengharuskan makanan RG diberi label, sebagian melarang import makanan RG, sebagian melarang pemakaian RG untuk makanan.

Mengapa sebagian negara belum mempercayai RG? Penelitian-penelitian masih terus berlangsung, walau makanannya sudah beredar di hampir seluruh dunia dan dikonsumsi begitu banyak hewan dan manusia. Dr. Mezzomo dkk dari Departemen Genetika dan Morfologi dalam penyelidikannya di Universitas Brasilia menemukan bahwa Bt toxin yang ditemukan pada tanaman RG Monsanto seperti jagung dan kedele, jauh lebih beracun terhadap mamalia (termasuk manusia) dari yang diperkirakan sebelumnya. Penyelidikannnya ini dipublikasikan di Journal of Hematology and Thromboembolic Diseases.

Benarkah toksin ini terdeteksi pada wanita hamil bahkan janin dalam rahim mereka? Baca di sini.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri?

Sehubungan dengan adanya permohonan dari PT. Branita Sandhini untuk memeriksa keamanan pangan bagi kesehatan manusia terhadap kedelai PRG (Produk Rekayasa Genetik)  bla bla bla… maka kesimpulan mereka adalah bla bla bla… dan saya kutip 2 poin di sini:

  1. TTKH menilai bahwa kedelai PRG eventMON 87708 yang diajukan adalah aman untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan.
  2. Apabila kemudian ditemukan data dan informasi baru yang tidak sesuai dengan data keamanan pangan yang diperoleh hingga saat ini, maka status keamanan pangan kedelai PRG eventMON 87708 perlu dikaji ulang.

Untuk lebih lengkapnya baca di sini.

(Hihihi… jadi sementara kami belum menemukan data keamanan yang baru, kalian boleh makan sepuasnya, kalau ada apa-apa jangan salahkan kami ya?)

Dari sisi lain, di sini ada jawaban dari Dr. Robert Paarlberg (Profesor Ilmu Politik di Wellesley College dan Adjunct Proffessor of Public Policy di Harvard Kennedy School dan Associate at Harvard’s Weatherhead Center for International Affair) ketika ditanya mengapa banyak negara melarang rekayasa genetik. Menarik loh…

Eits! Tunggu, tunggu… ada lagi yang tidak kalah penting, apalagi bagi pembaca yang menjunjung tinggi agamanya, makanan hasil RG, halal atau tidak?

Fatwa MUI no 35, 2013 menyatakan halal melakukan RG pada hewan, tumbuhan dan mikroba. Tumbuhan dan hewan hasil RG  halal dan boleh digunakan. Makanan, obat-obatan dan kosmetik yang dihasilkan dari RG halal. Semua ini dengan syarat : bermanfaat dan tidak membahayakan. Tapi apakah kita bisa pasti bahwa itu tidak membahayakan?

Catatan: Tulisan ini pertama muncul pada tanggal 15 September 2013 di blog patahtumbuh yang lama.

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.