Memilih dan Ketidak-tahuan

Minggu, 23-4-2017

Brexit
Pada tanggal 23 Juni 2016, hampir semua penduduk Inggris Raya yang berhak memilih melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah mereka akan tetap tinggal atau keluar dari keanggotaan Uni Eropa (persekutuan ekonomi dan politik 28 negara Eropa). Pilihan keluar menang dengan angka 51,9 persen suara. Inggris Raya keluar dari Uni Eropa ... Brexit ... Britain exit

Keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa menimbulkan banyak masalah antara lain: anjloknya nilai pound sehingga harga barang impor melonjak. Inflasi naik (7,4 persen pada bulan Desember 2016). Ada masalah uang pensiun hingga persoalan imigran. Perdana Menteri Theresa May menjanjikan akan mempertahankan “triple lock” --kesepakatan bahwa uang pensiun pegawai negeri akan naik sebanding dengan kenaikan gaji, inflasi, atau 2,5 persen— yang menurut David Cameron (Perdana Menteri sebelumnya) akan terganggu bila Inggris Raya keluar dari Uni Eropa. Theresa May juga mengatakan akan membatasi net migration— selisih antara angka emigrasi dan imigrasi— di bawah 100 ribu per tahun (kira-kira sepertiga tahun sebelumnya). 

Salah satu alasan penduduk Inggris Raya menginginkan Brexit adalah harapan akan membaiknya perekonomian. Selain itu juga ada sentimen anti-imigran terutama imigran Muslim, karena ketakutan akan terorisme. Tetapi Brexit membawa banyak dampak --masalah yang timbul-- yang mungkin seratus kali lipat dari yang pernah dibayangkan rakyat Inggris sebelum dan ketika menjatuhkan pilihan.

Brexit melahirkan dampak terhadap banyak orang yang tinggal baik di Inggris Raya maupun di negara lain Uni Eropa, terhadap kesatuan Inggris Raya (yang terdiri dari empat negara), dan terhadap ekonomi Uni Eropa itu sendiri khususnya dan internasional umumnya.

Kemenangan Donald Trump
Sebelum pemilihan Presiden Amerika Serikat, banyak orang Amerika yang tidak menyangka bahwa Donald Trump –pengusaha yang tidak disukai banyak orang karena sepak terjangnya-- akan menang. Tetapi kenyataan berkata lain. Trump terpilih, dan masuk Gedung Putih. Banyak teori yang muncul tentang penyebab kemenangannya, antara lain janji akan membaiknya perekonomian --memenangkan suara dari kelas sosio-ekonomi menengah ke bawah terutama pengangguran. Juga ada janji mengilegalkan aborsi --memenangkan suara penganut Kristen. Kemenangan Trump juga terjadi akibat peran media sosial dengan hoax yang memuat berita menyesatkan --memenangkan suara orang yang ignorant (saya pakai kata ignorant atau kurang banyak tahu karena “bodoh” adalah kata yang bisa melukai perasaan).  Juga ada unsur supremasi kulit putih dan/atau laki-laki (merasa kulit putih dan/atau laki-laki adalah ras/jenis kelamin paling unggul). Trump menjanjikan akan menghalangi masuknya Muslim ke Amerika dan pembuatan dinding Mexico untuk mencegah masuknya imigran gelap --memenangkan suara orang yang tidak suka dipimpin presiden perempuan (tentu tidak akan mengaku) dan merasa kulit putih adalah manusia paling beradab.

Beberapa teman Amerika saya yang Kristen mengaku memilih Trump karena janji peningkatan ekonominya dan karena mereka menilai buruk Hillary Clinton. Teman lain mengatakan, dia memilih Trump karena nilai-nilai kekristenan yang dia temukan dalam janji kebijaksanaan Trump tentang aborsi, hukum senjata api, dan pendidikan. Tetapi ada juga yang mengaku karena takut dengan masuknya imigran Muslim dan kemungkinan Muslim menguasai Amerika dengan cara menyusup ke dalam pemerintahan. 

Mereka berusaha meyakinkan saya bahwa beberapa personil dalam pemerintahan Amerika sebenarnya adalah Muslim. Ketakutan akan teroris meluas terutama setelah serangan 11 September 2001 terhadap menara World Trade Center di New York dan rentetan serangan setelah itu di berbagai bagian dunia. Teman saya yang tinggal di Eropa berusaha meyakinkan setiap orang bahwa teroris tidak identik dengan Muslim. 

Saya sendiri berusaha menjelaskan hal yang sama kepada teman di daerah saya bermukim. Ketakutan sebagian orang akan Muslim yang mereka identify (samakan) dengan teroris saya bandingkan dengan ketakutan sebagian rakyat Indonesia bahwa Jakarta akan menjadi kota Nasrani bila pasangan Basuki-Djarot menang pada pemilihan kepala daerah pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (Pilkada Pemprov DKI). Begitu juga dengan ketakutan bahwa Cina akan menguasai Indonesia, bahwa mereka akan menjadi warga negara kedua di negeri sendiri. Phobia (ketakutan yang tidak berdasar) akan dikuasainya ekonomi --dan kelak politik Indonesia oleh minoritas-- ini di Indonesia lebih rumit karena disertai dengan keresahan sosial bahwa mereka akan dikecam jika tidak mengikuti “trend” sebagai Muslim yang baik. Brexit, kemenangan Trump, dan hasil Pilkada DKI Jakarta 19 April 2017, menunjukkan bahwa benarlah apa yang dikatakan penulis dan produser film, Michael Moore, “Ignorance leads to fear, fear leads to hate.” Ketidaktahuan membawa ketakutan. Ketakutan membawa kebencian.

Phobia

 

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.