Mempercayai dan Meragukan Fakta

Rabu, 11-1-2017

Audience kerap agak menyepelekan data yang dilaporkan media massa. Hingga kini masih sering terdengar celetukan “itu kan menurut berita”, sebagai pernyataan yang meragukan kebenaran dan akurasi fakta yang disiarkan. Kesangsian untuk mempercayai fakta laporan media itu antara lain mencetuskan munculnya precision journalism pada akhir 1960-an silam. Ia terutama untuk menjaga mutu atau validitas data yang disiarkan media ketika bidang coverage media kian beragam mengikuti perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, masalah sosial, dan perekonomian dunia, belasan tahun sesudah Perang Dunia II berakhir.

Precision journalism (jurnalisme presisi) menghendaki penerapan metode penelitian ilmu sosial (termasuk metode penelitian survei) dalam praktek pengumpulan informasi untuk keperluan laporan. Dapatkah itu dilakukan? Dapat! Tetapi tidak mungkin itu diterapkan untuk semua laporan jurnalistik, terutama sekali untuk hard news dan soft news yang perkembangannya dari saat ke saat berlangsung cepat.  

Kendati demikian, reporter yang bekerja di lapangan tetap harus cermat dalam memungut setiap fakta yang ditemukan, terutama sekali fakta yang dipaparkan narasumber lewat pernyataan lisan. Reporter harus mendengar uraian narasumber dengan teliti, memeriksa-ulang keterangan yang diragukan atau uraian yang tidak jelas, tidak asal “telan” apa yang dikatakan pemberi keterangan. Periksa dan periksa-lagi (check and recheck) harus dilakukan, walau tidak selamanya bisa. 

*

Tersebutlah kisah tentang penjual soto ayam dan soto babat di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, bernama Tarmi. Dia kini berjualan di bangunan semipermanen, setelah warungnya yang lama, bangunan permanen di Pasar Ikan (tak jauh dari Kampung Akuarium) digusur. Kisah Tarmi berisi keluhan tentang kesulitan mencari nafkah sehabis penggusuran.

Kepada wartawan Tarmi bercerita, sebelum penggusuran, dia memasak nasi dengan dandang besar. Dalam sehari nasi sedandang besar itu habis terjual (tentu saja bersama soto, juga minuman, dan makanan penyerta lainnya). Kata Tarmi, omzetnya dalam sehari waktu itu sampai Rp 3.000.000.

Kini keadaan jauh lebih buruk. Omzetnya anjlok. Dia tidak lagi memasak nasi dengan dandang besar, melainkan berganti dengan dandang sedang. Dalam sehari, katanya, nasi yang terjual hanya separuh dari nasi yang dia masak di dandang sedang itu.

Berapa ukuran dandang Tarmi? Tak perlu diusut sampai sejauh itu. Buat saja perbandingan. Patok saja, ukuran dandang sedang itu antara 2/3 (67 persen) dan 1/3 (33 persen) dandang besar. Umpamakan saja, dandang sedang yang dipakai Tarmi sekarang berukuran 1/3 (33 persen) dari dandang besarnya yang dulu. Seandainya semua nasi di dandang sedang itu terjual, bisa diperkirakan omzet Tarmi sehari Rp 1.000.000. Sayangnya, yang terjual sekarang hanya separuhnya. Itu berarti masih mungkin dia mendapat omzet penjualan Rp 500.000. Tapi kenapa Tarmi mengaku, “Sekarang Rp 200.000 saja belum tentu. Cukup buat makan saja syukur.”

*

Agak repot memang kalau mempersoalkan ukuran dandang dan volume nasi yang terjual. Penghitungan ini bukan penghitungan yang dilakukan dengan teliti tentang volume, ataupun tentang apa yang terjual dan berapa yang terjual.

Tapi ada hal yang perlu diperhatikan di situ, yakni tidak selarasnya nilai omzet dengan volume nasi (separuh dari volume dandang sedang). Penyimpangannya terasa terlalu jauh. Ukuran atau angka manakah yang dinyatakan secara asal-asalan?

Tarmi bercerita kepada wartawan sebagai korban penggusuran yang merasa dirugikan. Dia adalah salah seorang warga yang menolak untuk dipindahkan. Sangat mungkin “tingkat kerugian” itu dilebih-lebihkan. Jika itu yang terjadi, ia dapat mempengaruhi pendapat umum. 

Si reporter yang mencatat penjelasan Tarmi sebaiknya jeli, teliti menguji keterangan Tarmi. Orang awam seringkali berkata asal berkata tentang jumlah, nilai, dan deskripsi lainnya yang dia ungkapkan kepada jurnalis. Pada saat itu, si jurnalis harus menyadari narasumber mana yang sedang memberi penjelasan, mendengar dengan cermat dan membuat pertimbangan, mana keterangan yang dapat dipercaya, mana yang diragukan dan perlu diperiksa lebih jauh. Reporter harus mendengarkan keterangan dan memungut fakta dengan berpikir, bukan jadi “tukang tadah” yang begitu mudahnya percaya.

Fakta Reporter

Fakta yang disajikan media massa memang bukan seperti kenyataan yang sesungguhnya. Ia hanya hasil rekonstruksi dari fakta itu sendiri. Tetapi, bila itu menyangkut nilai atau ukuran (jumlah, volume) dengan penyelewengan/penyimpangan yang terlalu jauh, janganlah sampai diabaikan. Usutlah kebenarannya agar audience tidak makin sering berkata “itu kan kata berita” ... celetukan yang cenderung meremehkan laporan jurnalistik yang sekaligus berarti meremehkan profesionalisme jurnalis.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook penulis pada tanggal 10 Januari 2017.

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.