Menyatunya Penghuni Bumi

Senin, 30-5-2016

Kisah tentang menara Babel yang tingginya hampir 2.500 meter tercatat baik dalam kitab suci Islam, Kristen, maupun Yahudi. Dalam kisah itu disebutkan, konon pada awalnya manusia hanya mengenal satu bahasa. Manusia yang diberi Tuhan akal dan kekuatan menjadi sombong. Mereka ingin mendirikan menara yang menjulang hingga ke langit. Tuhan menggagalkan rencana itu dengan mengacaukan bahasa. Manusia menjadi tidak mudah untuk saling mengerti. 

Kini ada hampir 7.000 bahasa di dunia, tetapi sekitar 90 persen dipakai oleh kurang dari 100 ribu orang. Para ahli bahasa memperkirakan paling sedikit 3.000 bahasa akan lenyap satu abad dari sekarang. Bahasa yang paling banyak dipakai di antaranya Perancis, Melayu-Indonesia, Portugis, Bengali, Arab, Rusia, Spanyol, Hindustan, Inggris, dan Mandarin.

Bahasa adalah alat manusia untuk berkomunikasi. Orang belajar bahasa asing dengan berbagai alasan atau keperluan: studi, travel, pekerjaan, pergaulan, emigrasi, agar lebih mengerti kebudayaan bangsa asing, maupun sebab-sebab lain.

Kemampuan seseorang mempelajari bahasa asing berbeda-beda. Bahasa dapat mempermudah komunikasi, dan juga kerap menjadi kendala dalam berkomunikasi. Science fiction seperti Star Trek sering memperlihatkan alat yang digunakan untuk menerjemahkan banyak bahasa, untuk mengatasi kendala komunikasi itu. Kini di dunia nyata ada perangkat lunak Tywi (Translate Your Word) yang bisa menerjemahkan langsung ucapan anda ke dalam 25 bahasa dunia (lisan) dengan cepat. Tywi juga mampu menerjemahkan apa yang anda katakan ke dalam 75 bahasa tulis. Dengan software ini anda bisa berkomunikasi secara tertulis maupun lisan dengan orang  di belahan bumi mana pun yang berbicara dengan bahasa yang berbeda. Apa yang dikatakan lawan bicara bisa anda dengar langsung dalam bahasa anda, termasuk membacanya dalam bahasa tulisan.

Tywi dapat dipakai di situs WebEx, Zoom, Adobe Connect, Google Hangout atau jejaring sosial lain seperti Skype. Asalkan ada koneksi internet Tywi bisa bekerja. Ia adalah hasil kerjasama berbagai perusahaan IT besar seperti: Microsoft, Google, Apple, Nuance, Android, Baidu dan teknologi lainnya. Biaya pemakaian jasa Tywi memang tidak murah, mulai dari US$49 hingga US$99 per bulan sesuai dengan kategori jasa yang dipakai. Bagi orang awam yang kebanyakan gaptek, pemakaian Tywi ini agak rumit.

Belakangan ini Waverly Labs di Amerika Serikat juga mencoba memproduksi alat canggih untuk membuka sekat penghalang komunikasi antarmanusia. Alat itu diberi nama “Pilot”, dapat menerjemahkan langsung pembicaraan kita. Ia hadir dalam bentuk earpiece yang dipakai di telinga seperti memakai earphone untuk mendengar musik. Satu set Pilot terdiri dari: dua earpiece - satu untuk kita pakai, satu lagi untuk lawan bicara, satu charger, tiga eartips dengan ukuran berbeda, dan satu aplikasi untuk smartphone. Aplikasi ini harus diunduh ke earpiece dan smartphone. 

Masalah dengan Pilot adalah masih sangat “mentah”nya rancangan alat itu. Mungkin jalannya menuju produk yang sempurna masih panjang dan itu membutuhkan dana besar. Untuk itu Waverly Labs meminta sumbangan dana dari pecinta gadget dan teknologi. Banyak yang skeptis dan menuduh pendiri Waverly Labs hanya ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi. Apakah mereka memang hanya penipu kelas tinggi atau benar-benar inventor yang butuh kesempatan dan modal? Kita tunggu saja lanjutan beritanya.

Bagaimanapun, kini perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat dari kemampuan rata-rata manusia untuk mengikutinya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi membuat laju globalisasi berlangsung makin cepat. Selama ini kita mengenal apa yang namanya “melting pot”, tempat berbagai manusia dari segala latarbelakang --suku, bangsa, ras, adat istiadat, maupun kepercayaan-- tinggal bersama, berbaur, dan menimbulkan akulturasi. Perkembangan teknologi, kata orang, akan melahirkan Global Melting Pot. Keanekaragaman manusia di muka bumi akan melebur jadi satu. Kapan? Melihat pesatnya perkembangan teknologi , jangan-jangan tidak perlu menunggu satu abad lagi untuk Global Melting Pot menjadi kenyataan.

Melting Pot

 

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.