Penguatan TKI, Kaburan dan Masalahnya

Minggu, 26-4-2015

Tulisan ini merupakan gambaran mengenai situasi TKI di Taiwan, khususnya mereka yang lari dari majikan resmi. Beberapa bulan terakhir, saya menggunakan banyak waktu untuk berinteraksi dengan saudara-saudara setanah air yang bekerja di Taiwan, ya, mereka yang biasa kita sapa mbak atau mas TKI. Sebagian besar waktu ini saya fokuskan untuk sekelompok kecil yang kabur dari majikan di sebuah pusat perlindungan, sementara mereka menunggu dipulangkan. Karena fokus tersebut, tulisan ini tidak akan mengupas mengenai peran pemerintah, LSM, dan serikat buruh di dalamnya. Informasi ini saya himpun dari berbagai sumber selama tiga bulan terakhir. Sehingga, meskipun tidak mencantumkan referensi, data-data di dalamnya mengandung berbagai acuan. Tujuan utama tulisan ini adalah untuk menggayung kepedulian khalayak yang lebih luas bagi penguatan saudara-saudara kita ini.

TKI di Taiwan

Mungkin sedikit di antara kita yang tahu bahwa jumlah TKI di Taiwan, dibanding TKA (Tenaga Kerja Asing) dari negara lain, paling tinggi. Jumlahnya hingga bulan Juli mencapai 200.000an TKI di berbagai sektor. Antara lain manufaktur, konstruksi dan pelayanan sosial, seperti merawat orang sakit dan para lansia. Karena dari segi jumlah paling besar, maka masalah yang ditimbulkannyapun secara kuantitas juga paling banyak dibanding yang lain. Sebut saja, TKI yang karena berbagai sebab, di antaranya pelecehan seksual, eksploitasi waktu kerja, dan gaji tak layak akibat berbagai potongan, lari dari majikan resmi mereka. Jumlahnya mencapai 16.000an kaburan .Mereka yang bekerja secara ilegal karena lari dari majikan resmi ini, biasanya disebut kaburan di antara komunitas TKI di Taiwan.

Majikan dan Agen Ilegal serta Perdagangan Manusia

Mereka yang lari dari majikan resmi, ujungnya akan jatuh ke tangan agen ilegal. Agen ilegal ini bisa agen resmi maupun perorangan yang menjadi makelar kerja bagi kaburan. Mereka kemudian harus membayar sejumlah uang muka sebelum mereka mulai bekerja sebagai komisi pekerjaan yang diperoleh dari agen ilegal ini. Biasanya berkisar NT$ 3000-6000an. Sistem lainnya, gaji beberapa bulan pertama mereka, bahkan selama mereka bekerja, akan dipotong oleh agen ilegal. Jumlahnya sewenang si agen. Hal ini sangat mungkin, karena pada kebanyakan kasus, gaji diserahkan oleh majikan ilegal kepada agen ilegal baru kemudian diserahkan kepada kaburan. Apa guna pemotongan inipun kurang jelas bagi kaburan. Mereka yang kabur, bila kemudian mendapat majikan yang lebih baik dari majikan resmi adalah kelompok yang sangat beruntung. Kelompok kedua adalah mereka yang kurang beruntung karena memperoleh majikan yang lebih kasar dan memperlakukan mereka kurang  manusiawi dengan pekerjaan yang lebih berat. Tak jarang mereka disiksa secara fisik, ditendang, dipukul, disekap bahkan tidak diberi makan. Bila ada kesempatan, mereka akan kabur dan kabur lagi. Begitu seterusnya, hingga mendapat majikan yang punya belas kasihan dan pekerjaan yang baik. Kemudian kelompok yang terakhir, ini yang paling naas bagi para TKI perempuan. Mereka yang tertangkap germo untuk dijadikan pelacur. Mereka disekap di dalam rumah biasa atau berbagai tempat terselubung kemudian diperjualbelikan dengan para hidung belang.

Persaingan dan Masalah Kesehatan

Mengerikan memang, tapi itu kenyataan, seperti film Victoria Park tentang TKI di Hong Kong besutan Lola Amaria. Rekan-rekan TKI di Taiwan yang kabur benar-benar menghadapi berbagai masalah itu. Selain masalah dengan majikan dan agen ilegal yang sudah saya uraikan di atas, mereka juga menghadapi kerasnya hidup dengan sesama TKA dari berbagai negara lain. Di antaranya seperti dari Vietnam, Thailand, Cina dan Filipina. Tak jarang yang saling bersahabat dan menjadi rekan kerja yang baik. Tapi tak sedikit juga yang akhirnya menjadi musuh. Alasannya mulai dari hal-hal sepele seperti persaingan prestasi kerja di hadapan majikan hingga masalah pribadi lainnya. Kadang-kadang konflik bisa berlanjut dengan adu fisik. Selain itu, kaburan kebanyakan tidak memegang NHI (kartu asuransi kesehatan nasional Taiwan), sehingga bila mereka sakit saat bekerja pada majikan ilegal, mereka akan kesulitan berobat ke rumah sakit resmi. NHI sangat menolong TKI, karena bila periksa dan berobat, biaya yang harus dibayar jadi sangat murah. Bila tidak punya NHI, semuanya harus ditanggung oleh kaburan sendiri. Itupun kalau mereka beruntung dan berani berobat ke rumah sakit. Bila mereka takut ketahuan bekerja ilegal oleh polisi yang sekarang ini mulai gencar berpatroli di rumah sakit-rumah sakit, mereka akan urung dan terpaksa merawat sendiri sakit mereka di rumah majikan. Pernah terjadi, seorang kaburan digigit anjing majikannya hingga merobek kulitnya terpaksa dirawat di rumah saja. Tentu saja merawat sendiri proses kesembuhannya beda dengan perawatan professional. Peluang lain yang bisa ditempuh kaburan dengan dibantu majikan adalah menggunakan NHI milik orang lain alias pinjam untuk berobat di rumah sakit. Salah satu kasus yang pernah terjadi saat seorang kaburan terkena batu ginjal parah. Mau tak mau harus ditangani dokter karena sudah membahayakan nyawanya. Majikan membantu dengan meyakinkan pihak rumah sakit menggunakan NHI pinjaman. Untunglah akhirnya tertolong juga.

Kaburan Menyerahkan Diri

Mereka yang kabur ini, bila tidak tertangkap polisi, bisa bertahan mulai empat bulan hingga bertahun-tahun bekerja ilegal di Taiwan. Biasanya mereka akan menyerahkan diri ke kantor imigrasi Taiwan bila ingin pulang ke tanah air. Motivasi umumnya lelah dan ingin bertemu dengan keluarga. Setelah melapor, mereka akan ditampung di rumah-rumah perlindungan selama proses pembuatan Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP) untuk kembali ke kampung halaman. Prosesnya memakan waktu berkisar satu minggu hingga empat puluh hari. Mereka juga harus membayar denda kepada pemerintah Taiwan sebesar NT$ 10.000 serta membayar tiket pulang mereka sendiri. Saat tinggal di rumah perlindungan, mereka harus membiayai kebutuhan hidup mereka sendiri juga, seperti makan dan kebutuhan sehari-hari. Setelah SPLP jadi, mereka akan dibantu memesan tiket dan diantar ke bandara untuk pulang. Di dalam rumah-rumah perlindungan ini, mereka diperlakukan secara baik oleh para petugas dari pemerintah Taiwan maupun pemerintah Indonesia. Tidak ada perlakuan kasar, tidak ada bentakan atau pelecehan. Sehari-hari mereka bebas bercengkrama dan melakukan berbagai kegiatan bermanfaat bagi mereka. Seluruh kaburan yang menunggu untuk pulang boleh merasa terlindungi di sana. Kadangkala, mereka justru mendapat kebebasan untuk keluar (belanja dan bertemu teman, bukan untuk bekerja) selama masa tigapuluh hari penantian. Tapi, lebih dari itu, mereka harus tinggal dan tidak boleh keluar hingga memperoleh SPLP. Bila SPLP sudah diperoleh, paspor lama mereka yang semula ditahan oleh majikan atau agen akan dikembalikan untuk melamar paspor di Indonesia. Itu bila mereka masih ingin bekerja lagi di luar negeri.

Kaburan Tertangkap

Hal yang terjadi bila polisi menangkap kaburan adalah membawanya ke pusat penahanan imigran gelap. Meski kurang tepat, namun tempat ini sering disebut sebagai ‘penjara’ di dalam komunitas TKI. Mereka akan diperlakukan seperti penjahat, tangan mereka diborgol dan kebebasannya terbatas. Meski diperlakukan sama baik seperti mereka yang menyerahkan diri, kaburan yang tertangkap ini tidak diperbolehkan keluar dan dikenai denda yang jauh lebih besar. Kemudian proses yang harus ditempuh pun sama dengan yang menyerahkan diri. Bedanya, mereka akan menunggu proses deportasi. Bagi mereka yang memiliki rekam jejak kabur demikian dapat kembali masuk dan bekerja ke Taiwan setelah 3-4 tahun sejak mereka pulang ke Indonesia. Biasanya mereka akan memantapkan hati untuk pulang, membangun keluarga dan usaha dengan modal yang berhasil terkumpul atau mengalihkan harapan mereka untuk bekerja di negara-negara lain yang membuka peluang bagi buruh migran Indonesia.

TKI

Update

Karena banyaknya pertanyaan yang tidak dapat kami jawab satu persatu, kami harap pembaca langsung ke situs KDEI untuk mencari jawabannya. Bisa langsung email mereka atau telepon. Kontak KDEI silahkan klik di sini.

Bagi yang ingin bekerja kembali pada majikan yang sama, boleh coba baca ReEntry Hiring (suatu mekanisme Perpanjangan Kontrak Kerja antara TKI dengan majikan yang sama tanpa melalui Agency Taiwan maupun jasa PPTKIS di Indonesia). Silahkan klik di sini.

SaveSave

Komentar

Kalo udah kabur dah terlanjur mba, otomatis segala hak kita sebagai tenaga kerja akan hilang dan berstatus imigran gelap, imigrasi pasti akan membantu untuk mengurus dokumen pemulangan kita ke Indonesia saja.

Tergantung berapa lama km gelap di taiwannya, semangkin lama km gelap di taiwan maka semangkin lama juga km di blacklist, byk org bilg Setelah melewati 5 tahun maka Kita dpt kembali lg ke taiwan, pengalaman pribadi saya sendiri pernah gelap 8 tahun lebih di taiwan dan di blacklist 6 tahun tidak dpt masuk ke taiwan lagi. Kita ga tau pasti berapa lama kita di blacklist imigrasi taiwan selama kita tidak melakukan pemutihan, sekalipun masa hukuman kita telah habis akan sangat sulit sekali untuk kembali karna akan menjadi pertimbangan teto kalau kita kemiliki rekam jejak yg buruk.

mf sblmny saya mo tny kdi saya sdh kboran 4 bln yq lalu trus saya sdh nyerahin diri lalu say a blm balik lq k imiqrasi jdi saya kabor lq tuk bkrj sdh 2 bln yq saya tnyakan apakah prmslahan ini akan d prsulit apa qa ?? krn sdh nyerahin diri trus kabor lq / pikiran binqunq ?? mohon pnjelasan kdi tri mksh

Pengen kembali ke Taiwan, sudah ada majikan, sedangkan dulu saya kabur selama 16 bulan, gimana caranya agar bisa masuk ke Taiwan lagi, biar di tetoan bisa lolos, makasih

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.