Planet Plastik

Selasa, 27-10-2015

Pemandangan pagi hari di pasar-pasar kota Indonesia setengah abad yang lalu adalah : ibu-ibu berbelanja membawa keranjang rotan; penjual ikan dan daging membungkus barang dagangannya dengan daun jati atau daun pisang dan mengikatnya dengan tali pelepah pisang ataupun tali goni. Kita membeli ikan asin, beras dan gula dalam kantongan segitiga atau segi empat yang terbuat dari kertas koran, majalah, bekas kantong semen dan sebagainya. Di sore hari, terdengar tukang sorder atau tukang patri menawarkan jasa menambal panci, rantang dan ember yang bocor.

Kemudian orang mulai mengenal kantong plastik. Saya masih ingat perasaan takjub saat itu, karena kantong tersebut sangat alot. Setelah itu muncul yang namanya ‘plastik asoy' yang lebih alot lagi. Saya suka sekali menjepitnya dengan jempol dan telunjuk kemudian menariknya membentuk motif jempol tangan. Begitulah era organik mulai memudar digantikan era plastik.

Plastik

Jika kita bertanya, jarang ada yang sanggup memberikan defenisi plastik. Plastik sudah begitu akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari kita di zaman ini, ia telah menjadi suatu karakter tersendiri, baik fisik yang artinya barang-barang yang benar terbuat dari plastik; maupun sebagai lambang ketidak-alamian. Ibu saya sering memakai ungkapan “Oh, itukan plastik punya.” untuk mengatakan satu benda yang dia duga palsu.


Diterangkan secara ilmiah, plastik adalah materi dari organik sintetis atau semi sintetis yang dapat dibentuk atau dicetak menjadi barang yang kita inginkan. Bahan plastik umumnya sintetik, biasanya terbuat dari petrokimia, tetapi ada juga yang mengandung bahan alami. Disebut ‘plastik’ karena sifat ‘plasticity’nya. Plasticity artinya, sifat bisa dibentuk dalam keadaan padat tanpa merusak / memutuskan bahan tersebut dan mampu mempertahankan bentuk tersebut saat tekanan dari luar dihentikan. Disebut 'operasi plastik' karena perubahan bentuk yang terjadi setelah operasi dan bukan karena bahan yang dipergunakan.

Walau perkembangan plastik sebenarnya telah dimulai dari masa jauh sebelum Masehi, di mana pembuatannya masih menggunakan material alami seperti karet, yang kemudian berubah menggunakan material alami yang dimodifikasi secara kimia hingga yang sepenuhnya menggunakan molekul sintetis; tetapi penggunaannya secara luas baru dimulai sejak abad 20, terutama setelah Perang Dunia I. Pada waktu itu, perkembangan teknologi kimia yang pesat menghasilkan bentuk-bentuk baru plastik dan produksi besar-besaran, di antaranya adalah polystyrene (PS) dan polyvinyl chloride (PVC). Polyethylene terephthalate (PET) yang ditemukan pada tahun 1941 dianggap mampu menggantikan gelas untuk botol.

Penggunaan plastik yang pada tahun 1930-an hanya beberapa ratus ton, pada tahun 1990-an menanjak drastis menjadi 150 juta ton/tahun dan pada tahun 2005 mencapai 220 juta ton/tahun. Saat ini diperkirakan penggunaan materi plastik di negara-negara Eropa Barat adalah 60 kg/orang/tahun, di Amerika mencapai 80 kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2 kg/orang/tahun.

Bagaimana dengan kita di Indonesia ? Pasti tak kalah banyaknya, mengingat di Indonesia penggunaan plastik sangat berlebihan.  Kantong plastik yang diberikan setiap kali kita belanja, kemasan minuman ringan, air mineral, perabot dan alat-alat rumah tangga, mainan anak-anak, alat tulis; dari yang murah hingga yang mahal, dari yang waterproof (sudah pasti) hingga heatproof, hampir semua dari plastik.
Setelah habis masa pemakaiannya,  semuanya masuk satu kategori : 'Polusi Plastik'. Krisis Plastik,  problem yang dihadapi oleh dunia tanpa solusi.

Mengapa Plastik Menyebabkan Krisis?


Ikatan atom yang tumpang tindih dan kuat menjadikan plastik salah satu material sampah yang paling susah diurai oleh alam. Berbeda dengan sampah organik, plastik yang dibuang tidak akan larut dan menyatu dengan tanah. Mereka hanya bisa hancur dan terurai menjadi partikel kecil setelah waktu yang panjang. Selama itu, mereka akan melepaskan zat kimia yang terkandung di dalamnya dan mencemari tanah hingga ribuan tahun mendatang. Plastik adalah produk yang tidak pernah akan ramah dengan lingkungan.

Sungai Citarum telah dinobatkan sebagai salah satu sungai yang paling kotor dan tercemar di dunia. Bersama dengan zat kimia beracun hasil limbah industri, segala jenis sampah, termasuk sampah plastik menutupi permukaan sungai ini. Sungai yang pada zaman dahulu adalah tempat tamasya dan sumber air untuk pertanian bahkan menjadi pembangkit tenaga listrik, kini menjadi tempat pemulung mengumpulkan sampah plastik untuk daur ulang.

Di laut, plastik tidak lebih ramah. Manusia yang membuang sampah sembarangan, termasuk ke laut dengan dalih hemat dan praktis, mencemari dasar laut dengan sampah yang tenggelam, sedang yang ringan seperti plastik terapung dan berlayar sejauh ombak membawanya. Seluruh pantai di dunia akan penuh sampah yang terdampar bila tidak ada petugas yang membersihkannya.

Gyre adalah pusaran arus lautan atau samudera yang terjadi akibat tiupan angin besar yang berkolaborasi dengan rotasi bumi, searah jarum jam di hemisfer utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Pusaran arus ini mengelilingi satu area perairan luas yang tenang. Sampah, plankton, rumput laut dan lain-lain terbawa arus sampai ke perairan tenang ini dan akan semakin menumpuk seiring waktu. Daerah ini disebut garbage patches (noktah sampah)

Ada banyak garbage patches, tapi yang paling sering diperbincangkan adalah Eastern Pacific garbage patch atau lebih dikenal dengan Great Pacific Garbage Patch yang disebut-sebut ukurannya dua kali luas negara bagian Texas, walau ukuran sebenarnya tidak dapat dipastikan karena garbage patch bukan seperti pulau sampah sebagaimana kita melihat sampah di sungai Citarum, tetapi hanya berupa sampah-sampah plastik kecil yang terapung atau jala ikan yang sudah rusak. Sampah-sampah ini tersebar tidak merata tetapi dalam konsentrasi yang lebih tinggi dari area lainnya. Terlepas dari berapa luas area garbage patch, atau berapa banyak sampah yang ada di dalamnya, yang jelas, sampah-sampah ini membawa pengaruh negatif kepada kehidupan laut.

Burung-burung laut semakin banyak yang mati seiring kenaikan produksi plastik. Sampah plastik yang tidak dapat dicerna dapat kita lihat pada mayat-mayat burung laut yang dibelah.

Apa yang dapat kita lakukan? Hanya satu jawabannya : Reduce, Reuse, Recycle.

Reduce Reuse Recycle

 

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.