Puisi dari Emosi

Senin, 1-5-2017

Apa yang mendorong penyair menulis puisi baik penyair yang puisi-puisinya telah pernah diterbitkan maupun penyair yang hanya menulis puisi untuk diri sendiri, untuk pasangan, maupun untuk dipasang di akun Facebook? Jawaban yang kita dapat tentu beragam.

Saya melihat puisi sebagai ekspresi dari emosi, imajinasi, dan kreativitas si penyair. Umumnya prosa dinikmati sebagai satu cerita, berisikan opini dari penulis dan memancing si pembaca untuk berpikir, sedangkan puisi memancing emosi pembacanya untuk menginterpretasikan arti puisi itu sesuai dengan perasaan maupun pengalaman pribadinya. Tentu tidak semua prosa dan puisi sifatnya seperti itu.

Saya sendiri hanya bisa menulis puisi saat saya ingin mengekspresikan sesuatu yang bergejolak dalam pikiran, tetapi merasa tidak mampu melukiskannya secara akurat dan logis. Puisi Because lahir lewat proses sepeti itu. Bila isi pikiran saya waktu menulis puisi ini dituliskan mungkin ia akan menjadi satu buku setebal kitab suci.

Slipping

Because

Because you asked,
my heart is limitless, that is why.

Leaking roof, urine seeps into dirt floor,
number eleven under children's noses.

Where? At the back yard.
Be careful when you squat down,
Don't be alert, nobody watches.

Dirty walls, no paint needed
single furniture, if you are lucky
I am not generous enough

Why? You asked.
Because my heart is borderless.

Saw you slipped through my fingers
like white sand on the beach
songs faded, yet they came back

Different songs still songs.
I watched you through the slits on the wall.
It was a good movie,
without beginning and ending, reality.

You asked why,
aren't our hearts unfathomable?

RC, 30 April 2014

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.