Saya, 1962 - Sekelumit Kenangan

Jumat, 15-1-2016

Ada telefon masuk di handphone saya, di suatu hari pada tahun 2007 yang silam, dan saya terima. Di seberang sana terdengar suara, “Ho ho hooooo … Oom gua patriot sejatiiiii …” Berikutnya yang terdengar adalah suara yang berisik, beberapa orang tertawa terpingkal-pingkal.

Penelefon itu adalah keponakan saya, Poppy (kini almarhumah, wafat pada 18 Agustus 2013, karena kanker). Dia tengah pulang ka kampuang, sedang berada di rumah kami, di Payakumbuh, Sumatera Barat, bersama ibunya, anaknya, dan adiknya. Ketika membongkar-bongkar barang peninggalan masa lalu, Poppy menemukan buku gambar saya. Pada dua halaman di dalam buku itu dia lihat gambar, coretan saya dulu (anak-anak berusia 12 tahun lebih) dengan cat air. Gambar pertama tentang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang saya buat agak karikatural. Gambar kedua, saya bayangkan sebagai poster yang akan ditempelkan di dinding, tentang pembebasan Irian Barat.

Saya hanya tertawa ketika ditertawakan sebagai patriot sejati, dan meminta Poppy membawa buku gambar itu ke Jakarta. Geli saya ketika menyadari alam pikiran saya sekian puluh tahun yang lalu lewat dua gambar yang saya buat pada 16 Februari 1962 itu — alam pikiran yang terbentuk lewat pelajaran di sekolah (Belanda yang hendak kembali ke Indonesia sesudah Perang Dunia II), dan tarik-ulur masalah Irian Barat serta Trikora.

Saya 1Saya2

Poppy juga menemukan biola buatan saya, dan dia bawa pula ke Jakarta. Tetapi biola itu sudah seperti bangkai. Peg untuk dawai A sudah tidak ada. Bridge (biasanya disebut “kuda-kuda”) sudah lenyap. Tailpiece hilang entah ke mana. Dawai tak selembar pun yang tersisa. Bow (penggesek) juga raib. Agaknya, orang yang menunggu rumah kami beberapa tahun yang lalu yang membuat biola itu “terurai” …Semasa menjadi murid SMP, saya ingin sekali belajar main biola.

Pada masa itu (1962), tidak berapa lama setelah suasana perang (pergolakan daerah, Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) berlalu, kehidupan keluarga kami cukup sulit. Perang saudara itu membuat saya kehilangan ayah. Keinginan punya biola saya pendam, karena saya tahu bahwa ibu saya tak akan sanggup menyediakan uang buat membeli alat musik itu. Daripada mendengar jawaban “kita tak punya uang buat membeli biola”, lebih baik saya tidak meminta. Tetapi keinginan belajar dan punya biola tidak dapat saya lupakan. Itulah yang membuat saya memutuskan untuk membuatnya sendiri.

Jalan yang saya tempuh tidak mudah. Saya tidak punya peralatan tukang kayu sama sekali, selain sebilah pisau. Biola yang dapat dipinjam untuk dijadikan contoh pun tidak ada.

Diam-diam, pada hari krida (setiap Sabtu) di sekolah, saya ukur biola milik guru seni suara kami –Pak Jusbar– berikut semua bagian pada alat musik itu, dan mengintip rongga kotak suara lewat “lubang f”, sampai saya tahu seperti apa sebetulnya konstruksi alat musik itu, termasuk pemasangan corner block dan sound post. Apa yang pertama kali saya buat? Neck dan scroll, bagian yang menurut saya sangat artistik. Kini saya tidak dapat menjelaskan, bagaimana semua itu saya kerjakan semata-mata dengan meraut dan meraut. Hanya beberapa kali dibantu dengan gergaji, yang saya pinjam di pembuat/toko meubel di dekat rumah saya. Juga dengan meraut, belly (papan tubuh bagian atas) dan back (papan tubuh bagian bawah), saya buat menjadi cembung. Pak Rauf, pembuat meubel itu sering tersenyum-senyum menyaksikan saya bekerja manakala bertandang ke tempat dia untuk meminjam alat. Dia baik hati, meminjamkan peralatan apa saja yang saya perlukan.

Masa “bertukang” membuat biola itu berlangsung berbulan-bulan, memanfaatkan hari libur, dan waktu senggang yang tak harus diisi dengan mengerjakan PR. Beberapa kali saya terluka … Pak Rauf juga memberi saya lem kayu serta politur. Biola selesai. Untuk penggesek saya pakai senar nilon halus (kenur, kata anak Jakarta) buat tali pancing. Abang saya membelikan dawai biola (G, D, A, E). Alat musik itu akhirnya berbunyi, walau bunyi sekadar untuk menunjukkan nada … dan saya merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia saat itu. Hanya saja, pada masa selanjutnya, nilai saya pada saat ujian akhir SMP agak merosot. Ibu saya, berkata, “Itu akibat main biola hingga tengah malam …” Saya kemudian menjalani “hukuman”, terkena larangan bermain biola ketika saya masuk SMA. Sekarang saya hanya bisa membunyikannya, tidak menjadi pemain biola …Ketika biola itu sampai di Jakarta pada 2007 yang lalu, saya seperti kembali ke masa 45 tahun sebelumnya, dan biola yang saya lihat itu sudah bulukan … lusuh … seperti saya saat ini … He he …

Saya3saya4

Penulisan note tercetus begitu saja ketika saya menemukan foto-foto yang ditampilkan dalam note ini pada saat memeriksa hard disk. Tidak ada niat yang pasti ketika keinginan menulis itu tercetus, selain dari berbagi pengalaman … pengalaman yang sama sekali tidak menyenangkan, dan tentu saja tidak dapat –serta tidak untuk– dibanggakan. Ada masa keterbatasan, atau bahkan ketiadaan, yang saya coba atasi dengan cara saya sendiri. Ia sama sekali bukan hal yang luar biasa, tetapi mengantar saya menemukan kesenangan sebagai kanak-kanak.

Catatan Admin :

Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun facebook penulis pada tanggal 22 Desember 2014.

Beberapa komentar untuk tulisan ini, disalin-lekat persis seperti aslinya.

Neny Liong : Banyak orang yang masa kecilnya tidak berhubungan dengan cita2 dan pekerjaan di masa depannya tapi dengan membaca note ini saya senang Abang mempunyai banyak pengalaman hidup yang bisa dibagikan kepada teman, murid dan masyarakat sebagai contoh yang baik. Terima kasih banyak bang sudah mau berbagi.

Mas Ayu Jatim : Bang MM merautnya dengan pisau “pena” merek Okapi bukan.

Masmimar Mangiang : Pisau saya pisau tak bermerek, Uda Mas Ayu Jatim … Malah untuk membuat cekungan, papan saya kikis dengan pecahan kaca … 

Masmimar Mangiang : Terimakasih kembali, dokter Neny Liong …  Cita-cita terkuat dalam diri saya dulu, menjadi dokter. Tapi nasib malang, tidak memungkinkan saya mendapat bangku kuliah di FKUI …  Karena waktu itu ada kerjasama FKUI dan FK Trisaksi dalam seleksi masuk, saya dipanggil oleh FK Trisakti. Kakak saya bilang, “Ambil itu.” Kata saya, “Tidak!” Uang kuliahnya menurut saya tak akan terjangkau …

Valentina Rose Chen : Saya pikir note ini sangat berkesan, menyentuh perasaan dan memberi inspirasi…Saya setuju harus jadi bagian dari otobiografi yg saya yakin di dalamnya banyak cerita cerita menarik lain dari seorang yg multi talented…Thanks for sharing Bang Mimar.

Kang Tendy : Pak Bos.. dengan segala kerendahan hati, saya angkat topi untuk Pak Bos. Saya coba menarik pelajaran dari catatan Pak Bos.. kemauan+keterbatasan= kreativitas. lalu, saya membandingkannya dengan kondisi saat ini; kemauan+keleluasaan=kreativitas tak terbatas. That is Pak Bos! Lalu, saya menggunakan lensa “wide angle” untuk melihat profil masyarakat kita. Sedikit yang seperti Pak Bos. Mengapa? Hanya sedikit dari masyarakat yang memiliki “kemauan”. “Keterbatasan” menjadi penjara buat mereka dan keleluasaan membuat mereka merasa nyaman dan terlena. Ah, jangan-jangan saya termasuk ke dalam golongan “yang banyak” itu! Hahaha… Salut Pak Bos!

Masmimar Mangiang : Terimakasih … nuhun, Akang Kang Tendy … Ketika kita tidak punya apa-apa, kemauan adalah satu-satunya yang jadi penyelamat … 

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.