Sejauh Mana Kecemasan itu Wajar?

Selasa, 21-11-2017

Ibu terlihat gelisah, tiap sebentar melihat jam di dinding dan tidak konsentrasi pada acara tv yang sedang ditontonnya, padahal itu acara favorit yang selalu dinanti tiap malam. Saya tahu, beliau sedang menanti kabar dari kakak saya yang belum juga tiba di rumah dan telepon selulernya tidak bisa dihubungi sejak tadi sore. Malam sudah larut dan hujan deras disertai angin kencang. Wajar jika beliau merasa cemas karena biasanya perjalanan dari luar kota itu hanya memakan waktu paling lama 5 jam, itupun jika jalanan ramai atau pas hari pekan di daerah. Tetapi, begitu telepon berdering, dari kakak, mengabarkan sudah di batas kota, jadi sekitar setengah jam lagi akan tiba di rumah, barulah beliau kelihatan lega dan bisa konsentrasi menonton acara tv.
Cuplikan kejadian di atas termasuk hal yang normal dan sering kita alami setiap kali ada kejadian yang di luar kebiasaan. Kecemasan (anxiety) adalah reaksi normal manusia yang melibatkan pikiran dan tubuh. Menjadi dasar mekanisme pertahanan diri ketika dihadapkan pada kondisi genting atau bahaya, seolah-olah menjadi sistem alarm tubuh.  Lonjakan adrenalin yang muncul akan memicu respons untuk melawan atau menghindar (fight or flight).
Kecemasan dianggap tidak normal jika terus menerus merasa khawatir dan gugup, tidak bisa tidur, sering mimpi buruk, tidak bisa konsentrasi, dan beberapa gejala lain yang tampak dalam bentuk perilaku maupun gangguan fisik (berkeringat, tangan dan kaki gemetar, wajah tegang, jantung berdebar kencang, nafas sesak).  Kecemasan yang tidak  normal seperti ini tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Mekanisme Terjadinya Kecemasan
Kecemasan disebabkan oleh terganggunya fungsi sirkuit dalam otak.  Aliran informasi yang memicu kecemasan, masuk melalui panca indera dan menyebabkan sel-sel otak tidak dapat menyalurkan informasi itu dari satu bagian otak ke bagian lainnya untuk diproses lebih lanjut.
Informasi sensoris dan stimulus itu masuk ke dalam bagian otak yang disebut amygdala. Manusia memiliki dua amygdala yang terletak dekat hippocampus, bagian depan otak. Amygdala adalah bagian dari otak yang merupakan pusat tempat kita memproses segala bentuk emosi yang dirasakan, termasuk kecemasan. Jika suatu malam anda berjalan sendirian di jalanan sepi dan ada seseorang mencurigakan yang mengikuti anda, jantung akan berdebar kencang karena timbul rasa cemas, itu artinya amygdala sedang aktif berperan.
Amygdala berperan penting dalam semua reaksi yang berhubungan dengan pertahanan diri (survival).

Tanda-Tanda Kecemasan
Seseorang disebut mengalami kecemasan, jika terlihat tanda-tanda umum sebagai berikut:
- Gelisah
- Mudah lelah
- Sulit konsentrasi
- Pikiran terasa kosong
- Otot tegang
- Sulit tidur

Kecemasan yang dianggap tidak normal, disebut dengan gangguan kecemasan (anxiety disorder), akan menimbulkan gejala – gejala selain tanda-tanda umum di atas.
- Cenderung menghindari tempat, orang atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan peristiwa traumatik yang pernah dialami.
- Sulit percaya pada orang lain.
- Gamang dan takut akan masa yang akan datang.
- Sakit pada dada, seperti sedang mendapatkan serangan jantung.
- Telapak tangan berkeringat.
- Badan gemetar.
- Muntah dan perut mulas.
- Nafas sesak.
- Berdebar-debar.
- Seolah-olah mau pingsan.
- Mati rasa.
- Semburan panas (hot flashes)
- Kerongkongan serasa tercekat.
- Kepala pusing

Jenis-jenis Gangguan Kecemasan
• Phobia
Ini merupakan jenis gangguan kecemasan yang paling sering ditemui dalam masyarakat, dipicu oleh stimulus tertentu yang sifatnya spesifik. Individu tahu dan sadar bahwa kecemasannya tidak rasional dan tidak sebanding dengan bahaya yang ditimbulkan, namun sungguh menghantui dirinya. Ada banyak jenis phobia, seperti takut berada pada ketinggian, takut berada pada ruangan yang sempit, takut ular, takut naik pesawat terbang, takut berada di tempat publik dan lain sebagainya.

 Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)
Orang dengan OCD terganggu oleh pikiran yang terus menerus  untuk melakukan ritual atau rutinitas tertentu. Pikiran yang terus menerus mengganggu itu disebut obsesi. Keinginan / dorongan kuat untuk melakukan ritual atau rutinitas itu disebut kompulsi. Misalnya seseorang yang sangat resik, takut kuman, merasa seolah-olah segala sesuatunya kotor. Dia akan terus menerus cuci tangan. Atau orang yang takut pencuri masuk ke rumahnya, ia akan bolak-balik mengecek pintu apakah sudah terkunci atau belum.

• Panic Disorder
Orang dengan kondisi ini merasakan ancaman yang muncul tiba-tiba dan berulang-ulang..Merasa seperti diteror terus.

• Post-traumatic Stress Disorder (PTSD)
Kondisi ini muncul setelah ada peristiwa traumatis seperti kekerasan fisik dalam rumah tangga, kekerasan seksual, kematian tiba-tiba dari orang yang dicintai atau bencana alam.

• Generalized Anxiety Disorder (GAD)
Kekhawatiran dan ketegangan berlebihan dan tidak realistis, walaupun tidak ada atau hanya sedikit yang memprovokasi kecemasan.

Bagaimana Penanganan Gangguan Kecemasan?
Ketika muncul gejala kecemasan dan terasa mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya  anda menemui dokter untuk menggali lebih lanjut apa yang menjadi akar kecemasan tersebut. Jika dokter umum tidak menemukan masalah fisik yang spesifik dari gejala yang ada, anda akan dirujuk ke psikolog atau psikiater. Tidak ada resep cespleng dan instan dalam penanganan gangguan kecemasan. Terapis akan membantu anda mengungkap sumber kecemasan dan mengindentifikasi jenis gangguan yang anda alami .
1. Cognitive-behavioral therapy (CBT)
Klien diajak berpartisipasi dalam terapi dengan belajar mengenali dan mengubah pola pikir dan perilakunya. Terapis membantu klien dengan menunjukkan bahwa cara berpikirnya tidak realistis, kemudian melakukan beberapa teknik terapi perilaku misalnya menghadapkan klien secara bertahap pada hal yang ditakutkan atau sumber kecemasan.

 2. Hypnosis
Dalam beberapa kasus, terapis akan mengkombinasikan teknik CBT dengan hipnosis. Ketika anda berada dalam kondisi rileks yang dalam (deep relaxation), terapis akan memberikan sugesti dan menuntun anda menghadapi kecemasan itu.

3. Relaksasi
Terapis akan membantu anda dengan beberapa teknik relaksasi seperti menarik nafas panjang dan merilekskan otot-otot. Anda dapat mempraktekkannya di rumah untuk mengurangi gejala fisik seperti jantung berdebar, tangan gemetar, dan sesak nafas.

4. Berolahraga
Olah raga adalah cara alami melawan stres dan rasa cemas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa olah raga  sedikitnya @ 30 menit, 3-5 kali per minggu, secara signifikan menurunkan tingkat stres dan kecemasan. 

5. Bergaul
Rasa kesepian dan terisolasi cenderung membuat orang lebih gampang merasa cemas. Pergilah ke luar rumah, hang out dengan teman-teman, bergabung dalam komunitas tertentu, jalin persahabatan sehingga anda memiliki teman untuk berbagi (curhat).

6. Memulai gaya hidup sehat
Perbaiki gaya hidup anda, makan makanan bergizi, hindari alkohol,  obat-obatan, dan hindari stimulan seperti kafein dan nikotin.

Cemas


 

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.