Teliti Memahami Fakta, dan Cermat Memakai Bahasa

Selasa, 27-12-2016

Wartawan harus teliti memahami fakta dan memakai bahasa, karena dia bekerja mentransformasikan fakta menjadi teks. Teks hasil transformasi fakta itu harus dapat mengantar audience memahami fakta tersebut sesuai dengan fakta itu sendiri. Tergelincir sedikit, dapat membuat audience “tersesat” memahami fakta yang diungkapkan.

*

Tersiarlah berita tentang akan dilakukannya perombakan organisasi Pemprov DKI Jakarta, yang antara lain bertujuan mengefisienkan organisasi. Kelak, sesudah dilakukan perombakan, 53 satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ada sekarang akan menjadi 42 SKPD. Dari 5.998 jabatan yang ada saat ini, nanti akan tinggal hanya 4.938 jabatan dari eselon IV B hingga I B.

Tentang jumlah jabatan yang dikurangi itu, sebuah berita melaporkan dengan uraian sebagai berikut.

“Dari 53 satuan kerja perangkat daerah (SKPD) DKI Jakarta saat ini akan menjadi hanya 42 SKPD. Kemudian dari 5.998 jabatan akan tinggal menjadi 4.938 jabatan dari eselon IV B hingga I B. Aturan itu juga akan menghapus sebanyak 1.060 jabatan struktural.”

Teliti

*

Buntut uraian itu dapat menyesatkan audience

Sudah dikatakan bahwa dari 5.998 jabatan akan tinggal 4.938 jabatan. Artinya, ada 1.060 jabatan yang akan lenyap/dihapus. Tetapi akibat dipakainya kata “juga” pada kalimat penutup timbul pengertian bahwa berkurang jumlah jabatan dari 5.998 menjadi 4.938, adalah hal (fakta) yang berbeda dengan hapusnya 1.060 jabatan struktural.

Agar audience tidak salah paham, cukup dibuang kata “juga”, sehingga uraian itu bersifat menegaskan; 

“... dari 5.998 jabatan akan tinggal 4.938 jabatan dari eselon IV B hingga I B. Aturan itu akan menghapus 1.060 jabatan struktural.”

Kenapa sampai muncul uraian yang dapat membuat audience salah paham itu? Ada dua kemungkinan yang jadi penyebab.

1. Penulis laporan gegabah memakai kata “juga” pada kalimat terakhir.

2. Penulis laporan tidak paham betul tentang fakta yang dia tulis. Boleh jadi berkurangnya 5.990 jabatan menjadi 4.938 tidak dia sadari sebagai hapusnya 1.060 jabatan.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook Penulis pada tanggal 27 Desember 2016.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.