Memupuk Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan memperoleh ide baru yang ketika direalisasikan akan memiliki nilai. Hanya bila yang dihasilkan bernilai baru bisa dikatakan kreativitas.

Kreativitas dihasilkan oleh cara berpikir yang fleksibel, mampu memperluas ide yang telah ada dengan lancar dan harus tetap orisinal.

Peneliti menemukan, bahwa orang dewasa yang diminta berpura-pura menjadi anak kecil, akan lebih kreatif. Mengapa anak kecil lebih kreatif? Apa yang terjadi saat anak kecil itu tumbuh dewasa yang membunuh kreativitas mereka?

Saya sering kagum melihat anak yang kreatif. Sayangnya di sekolah, kreativitas umumnya tidak dihargai. Anak-anak diminta mengikuti pola dan aturan yang telah ditentukan. Mereka dijejali informasi dan pengetahuan, diminta untuk menghafal dan mengikuti sistem serta peraturan tanpa berpikir. Ini mengakibatkan semakin hari, kreativitas anak-anak juga semakin menurun. Bahkan sekarang, keadaan semakin memburuk, terbukti dari tes kreativitas yang diberikan kepada anak-anak. Di Amerika, nilainya semakin turun dari tahun ke tahun. (Hasil riset dari Kyung Hee Kim yang dipublikasikan dalam Creativity Research Journal tahun 2011. Diberitakan, hal yang sama juga menimpa Cina dan India. Walau saya tak tahu keadaan di Indonesia dan negara lainnya.

Pembunuhan kreativitas tidak hanya terjadi di sekolah. Setelah anak keluar dari sekolah, terjun ke masyarakat, hal yang sama juga terjadi. Di rumah, orangtua menginginkan anak mereka untuk patuh. Di tempat kerja, atasan menuntut pegawai mengerjakan semua yang diperintahkan sesuai dengan cara yang ditentukan. Ide baru sering tidak direalisasikan karena berbagai kendala termasuk kekhawatiran akan ketidakpastian. Ini terbukti dari hasil penelitian tahun 2010 yang dipublikasikan di Psychological Science. Profesor Jennifer Mueller dari University of San Diego mengatakan bahwa orang yang kreatif cenderung dianggap susah diatur. Ini terutama berlaku di ruang kelas. Guru merasa anak yang kreatif susah diatur karena mereka suka menemukan cara ataupun jawaban lain dari yang diinginkan guru.

Clever Mind

Mengapa kreativitas tak boleh dibunuh?

Menurut hasil survei global pada tahun 2010 oleh IBM’s Institute for Business Value, kreativitas adalah hal terpenting untuk mencapai sukses dalam memimpin perusahaan raksasa di masa akan datang. Orang yang kreatif adalah pemimpin yang berhasil. Mereka tahu bagaimana mengenal dan terbuka pada ide baru yang baik dan menggunakan ide itu untuk kemajuan perusahaan. Meskipun pada beberapa penelitian sebelumnya, Mueller menemukan, orang sering merasa tidak nyaman dengan kreativitas. Pemimpin dituntut untuk mencetuskan tujuan bersama sehingga perusahaan memperoleh hasil maksimal. Tujuan ini harus jelas. Orang yang kreatifitasnya tidak disertai solusi yang berguna, tidak diinginkan untuk menjadi pemimpin.

Jadi, apakah pemimpin yang baik tidak perlu kreatif? Perlu! Dari hasil penelitian Mueller yang terakhir, dia menyimpulkan bahwa kreativitas sering distereotype menjadi orang yang “sulit diatur”, “nyentrik”, padahal bukan begitu. Walau memang anak yang kreatif dimulai dari anak yang imajinatif. Saya mengatakan kepada putri saya bahwa otaknya yang sibuk dan penuh dengan ide, harus bisa dikontrol. Pemikiran yang berkeliaran ke mana-mana perlu dikotak-kotakkan dan disusun. Disimpan dan ditutup, lalu buka satu persatu untuk ditelusuri. Tentu saja tidak semua orang yang kreatif bisa jadi pemimpin, karena untuk menjadi pemimpin yang baik, perlu banyak nilai plus, kreatif hanya salah satunya.

Clever Mind

Apa yang diperlukan agar kreativitas tidak mati?

1. Kondisi
Profesor Mueller mengatakan, “Dalam konteks tertentu, kreativitas dapat di “shut off” dan di “turn on” bila lingkungan mendukung.

John Maeda, penasehat situs terkenal eBay, mengatakan, kreativitas bukan diajarkan seperti sekolah mengajarkan pengetahuan baru tetapi lebih seperti “mengobarkan” kembali api kreativitas yang redup atau padam.

2. Latihan
Ada banyak cara untuk melatih kreativitas.

3. Realisasi
Inspirasi saja tidaklah cukup. Ide yang muncul harus dianalisis dan kemudian direalisasikan.
Jacob Goldenberg, profesor di Arison School of Business mengatakan kreativitas adalah hal yang paling sulit didefinisikan karena eksis pada hampir segala bidang tetapi sangat mudah dikenali. Ide-ide yang paling kreatif memiliki kesamaan yaitu orisinil dan sangat berguna.
Menurut Profesor Jerry Wind, dalam segala bidang, kreativitas bisa diartikan “kemampuan menantang status quo dan memunculkan solusi baru yang lebih baik.

Melatih kreativitas

Benar bahwa kreativitas tiap orang berbeda. Ada yang super kreatif seperti Einstein atau Picasso, orang-orang jenius yang tidak perlu belajar untuk menjadi kreatif. Mungkin mereka berhasil mempertahankan kreativitas bawaan lahir mereka dan mengembangkannya. Jika bisa dikembangkan, pasti yang ‘mati’ juga bisa dihidupkan kembali, artinya : dapat dilatih dan dikobarkan.

Gerard Puccio dari Buffalo State College di New York adalah pemimpin International Center for Studies in Creativity. Menurut beliau, ada empat tahap untuk melatih / memancing timbulnya kreativitas:

  1. Menyodorkan contoh masalah yang jelas dan tepat.
  2. Membahas sebanyak mungkin solusi.
  3. Mengembangkan ide solusi.
  4. Menerapkan ide solusi dengan memastikan bahwa ide tersebut adalah praktis dan meyakinkan orang banyak.

Tahap kedua adalah di mana pemikiran inovatif paling dibutuhkan. Di sini digunakan tehnik brainstorming (curah gagas). Otak kita biasanya berada dalam status analisis, di mana kita fokus pada satu solusi dan mengabaikan pilihan lain. Untuk curah gagas, kita perlu keluar dari fokus, dan mencari solusi baru.

Joydeep Bhattacharya dari Goldsmiths University di London mengatakan orang lebih kreatif memecahkan satu problem pada waktu relaks. Charlan Nemeth, psikolog dari University of California menyatakan bahwa debat dan kritik sewaktu curah gagas penting untuk memunculkan ide-ide lain yang lebih berguna. Tentu saja bukan asal kritik, tetapi diskusi untuk penyelesaian masalah.

Mengajarkan kreativitas kepada anak-anak tidak akan membuatnya menjadi jenius seperti Einstein tapi memelihara agar kreativitas yang dibutuhkan untuk menjadi lebih produktif sebagai orang dewasa kelak, tidak mati.

Semua manusia lahir dengan imajinasi dan kreativitas. Bayi yang baru lahir menemukan cara untuk memberitahu kebutuhannya. Seiring pertumbuhannya, anak-anak menemukan banyak hal baru dan selalu mencoba memikirkan cara untuk memuaskan kebutuhan fisik dan psikisnya. Bagaimana cara agar kenyang, agar diperhatikan ibunya, tidak kepanasan, agar lebih gembira bermain. Mereka merasa gembira melompati meja kursi, menggulingkan buah semangka. Tetapi bila orang tua memberi banyak batasan, kreativitas mereka jadi tertekan. Anak yang dipaksa patuh atau yang memang patuh, menjadi putus asa dan berhenti menjadi kreatif karena memilih untuk tidak dimarahi dan hidup lebih tenang. Mereka tidak memikirkan cara lain untuk menemukan jawaban soal matematika, karena guru menginginkan mereka menjawab dengan cara tertentu.

Kreativitas mencakup segala bidang, karena itu pelatihannya juga. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melatih kreativitas anak:

  1. Melatih kreativitas memerlukan tehnik yang kreatif, artinya guru perlu berpikir kreatif untuk mengembangkan kreativitas anak. Guru yang baik adalah yang menguasai bidangnya dan kreatif.
  2. Kebebasan tidak selalu baik - Kita cenderung mencontoh / mengulang apa yang kita pikir baik. Jangan meminta anak melakukan sesuatu sesuka hatinya, berikan masalah yang jelas. Misal : Pada pelajaran mengarang, jangan minta mereka menulis tentang apa saja yang mereka inginkan, tetapi beri satu topik yang berbeda setiap kali. Pada waktu melukis, bisa minta mereka menggunakan gaya lain untuk melukis objek yang sama. Apakah untuk mendapatkan gaya yang berbeda, mereka akan menggunakan gaya melukis yang berbeda atau bahan pewarna yang lain, itu terserah kepada kreativitas mereka.
  3. Meniru penting untuk melatih satu keahlian tetapi tidak mengasah kreativitas. Tetapi meniru cara yang dilakukan untuk mengembangkan kreativitas penting. Contoh kasus : Sekembali dari perjalanan ke kebun binatang, guru meminta murid melukis hewan yang paling disukai di kebun binatang tersebut. Guru kemudian berjalan berkeliling melihat lukisan anak-anak. A melukis monyet tetapi tidak ada pohon. Guru bisa bertanya, monyetnya bermain di mana? Bukan meminta anak melukis pohon. Ketika guru melihat B melukis zebra tanpa kuping, guru bertanya, “Bagaimana zebra ini mengetahui ibunya memanggilnya?”. Bila anak sudah selesai melukis dan masih ada yang kurang, guru hanya bertanya, "Okay, masih ada yang kamu lupakan?” tanpa memberitahu. Yang penting, beri waktu yang cukup untuk anak-anak berpikir dengan tenang, jangan diburu-buru. Kelak mereka akan belajar untuk berpikir sendiri, “Apa lagi yang saya lupakan?”
  4. Tidak mencela karya anak sehingga membunuh keinginan mereka untuk berkarya lagi.
  5. Kreativitas dikembangkan bersamaan dengan pengetahuan dan keahlian.

Anak saya suka sekali menggambar. Menurutnya, dia sangat ahli dan semua lukisannya adalah bagus. Waktu dia kelas satu SD, di sekolah, guru meminta mereka mewarnai gambar kodok. Karena dia begitu cepat selesai mewarnai, guru menyuruhnya menambah gambar lain di atas kertas itu. Anak saya melukis lingkaran dan memberi warna gelap. Gurunya kemudian berkata, "Mengapa semakin dilukis, semakin jelek?” Anak saya sangat sedih dan karena kejadian sejenis sering terulang, dia tidak mau melukis lagi. Dia jadi kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak ada gunanya memikirkan ide untuk menambah sesuatu gambar lain, melainkan selalu bertanya, apalagi yang sebaiknya dia tambahkan?

Itu untuk melukis. Hal yang mirip terjadi pada pelajaran matematika dan bahasa. Anak saya dikatakan lamban dan saya selalu mendapat laporan bahwa dia tidak menyelesaikan soal ulangan. Anehnya, ketika saya tanyakan di rumah, dia bisa menjawab semua pertanyaan soal ulangan itu. Masalahnya, dia tidak langsung menulis jawaban di kertas ulangan, tetapi memikirkan cara-cara lain untuk menjawab soal tersebut. Baginya, mencari berbagi cara untuk menyelesaikan soal itu, sangat menarik.

Tentu bagi sebagian orang, ini tidak benar. Dia harus menjawab agar bisa lulus. Kalau saya memaksakan dia untuk menulis jawaban dan tidak boleh memikirkan hal lain, lama kelamaan dia terbiasa untuk hanya memikirkan jawaban dengan cara yang diinginkan gurunya, kreativitasnya akan mati. Karena itu, saya memutuskan untuk mencari sekolah lain bagi anak saya.

Saya tidak mengatakan, semua anak harus pindah sekolah. Sekolah adalah tempat orang dewasa mengajarkan pengetahuan kepada anak-anak dengan cara yang mereka tentukan. Tidak semua anak bisa menerima cara tersebut. Seperti kata Ignacio Estrada, “If a child can’t learn the way we teach, maybe we should teach the way they learn.”

Clever Mind

 

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Di Taiwan sayur paku sarang burung adalah kegemaran orang lokal. Biasanya mereka tumis dengan...

Rose Chen

Mungkin banyak yang belum pernah makan umbi bunga lily (bunga bakung). Umbi bunga lily bisa...

Rose Chen

Biasanya saya masak daun labu siam dengan kuah santan. Ribet karena harus menggiling bumbu halus...

Rose Chen

Kami tidak biasa makan nasi waktu sarapan. Biasanya jenis roti atau pancake. Di sini saya...

Rose Chen

Mimisan adalah keluarnya...

Rose Chen

Salah satu fungsi...

Rose Chen

Ini bukan tentang "new normal" jaga jarak, pakai masker, cuci tangan atau yang lainnya dalam...

Rose Chen

Semua virus termasuk virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2 berkembang biak dalam sel hidup dengan...

Rose Chen

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat bertanya, apakah Ivermectin bisa dipakai untuk terapi...

Rose Chen

Catatan: Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban saya kepada teman yang bertanya melalui...

Rose Chen