Air Susu Ibu - Apa dan Bagaimana

Sabtu, 10-12-2016

Seorang ibu muda biasanya khawatir tidak menghasilkan air susu yang cukup untuk bayinya. Banyak juga ibu muda tidak punya pengetahuan lengkap tentang air susu ibu (ASI). Bahkan ada seorang ibu yang kaget ketika tahu bahwa kolostrum  (ASI yang pertama diproduksi) penting sekali bagi bayi. Mitos yang dia tahu sejak muda adalah ASI yang pertama keluar harus dibuang karena “basi”.

Februari lalu seorang ibu --Mallory Smothers-- memasang foto dua kantong ASI yang dia pompa pada waktu yang berbeda.  Isi kantong sebelah kiri (lihat gambar) yang berwarna lebih putih, dipompa hari Kamis malam sebelum tidur. Setiap dua jam, sepanjang malam, dia menyusui bayinya. Jumat dini hari, sekitar pukul 03:00, dia perhatikan hidung bayinya seperti mampet, merengek terus, dan bersin-bersin. Jumat pagi, setelah bangun, dia pompa lagi ASI-nya seperti biasa. Hasilnya, warna ASI sangat mirip dengan kolostrum (lihat gambar, kantong sebelah kanan). Mengapa demikian?

ASI
Source: Mallory Smothers Facebook Account

Pembentukan ASI dan Kegunaannya

Setelah melahirkan, hormon prolaktin dan oksitosin membuat kelenjar susu ibu yang telah dipersiapkan selama masa kehamilan mulai menghasilkan ASI, sumber utama nutrisi bagi bayi baru lahir hingga berusia enam bulan. 

Kolostrum adalah ASI yang pertama dihasilkan ibu, kaya protein, vitamin A, growth factors untuk tumbuh kembang usus, dan antibodi, terutama immunoglobulin A (IgA). IgA akan melapisi dinding saluran pencernaan bayi yang masih belum sempurna untuk melindunginya. Kolostrum juga membuat mekonium --tinja bayi baru lahir yang kental dan hitam-- lebih mudah dikeluarkan. 

World Health Organization (WHO) menganjurkan pemberian ASI eksklusif (hanya ASI tanpa makanan tambahan lain) hingga bayi berusia enam bulan. ASI sebagai suplemen (tambahan terhadap makanan padat) diberikan sebaiknya hingga usia dua tahun. Boleh diteruskan selama ibu dan anak suka.

Bayi yang diberi ASI eksklusif tumbuh menjadi anak yang lebih cerdas, lebih jarang menderita infeksi telinga, flu, leukemia, diabetes, asma, eksim, masalah gigi, kelebihan berat badan setelah dewasa, dan kelainan kejiwaan. 

Ibu yang menyusui lebih jarang mengalami perdarahan setelah melahirkan, rahim lebih cepat kembali ke ukuran normal, dan berat badan lebih cepat turun. Menyusui juga menurunkan risiko kanker payudara dan diabetes di kemudian hari.

ASI sering dipakai untuk mengobati konjungtivitis (peradangan selaput mata), gigitan serangga, dermatitis kontak, luka, luka bakar, dan lecet.

Kuantitas dan Kandungan ASI

Kuantitas ASI yang dihasilkan tergantung pada kebutuhan bayi. Makin sering bayi menyusu, makin banyak ASI dihasilkan. Beberapa hari setelah melahirkan, produksi ASI mungkin melimpah hingga dada terasa terlalu penuh dan ASI “tumpah” sendiri. Ini terjadi karena tubuh belum mengerti berapa jumlah ASI yang diperlukan. 

Setelah beberapa minggu, tubuh mulai menyesuaikan diri dan hanya menghasilkan ASI sebanyak yang diperlukan. Ini salah satu penyebab mengapa banyak ibu yang mengira produksi ASInya berkurang atau tidak cukup setelah masa penyesuaian ini. Menurut penelitian, ASI lebih banyak diproduksi bila menyusui dalam suasana nyaman dan tenang (misalnya sambil mendengarkan musik yang menenangkan) dan bila melakukan pemijatan payudara sesaat sebelum menyusui.

ASI mengandung 0,8% protein, 4,5% lemak, 7,1% karbohidrat, dan 0,2% mineral. Alpha-lactalbumin --salah satu protein utama dalam ASI-- dalam lambung akan bergabung dengan asam oleat menjadi HAMLET yang membunuh sel tumor.

ASI juga mengandung zat yang diduga mampu mengatur selera makan bayi agar bayi tidak minum terlalu banyak. Mungkin ini penyebab bayi yang minum ASI asupan kalorinya tidak setinggi bayi yang minum susu formula.

Human milk oligosaccharides (HMOs) adalah jenis gula yang hanya terdapat dalam ASI. Ada lebih dari seratus jenis HMO yang telah ditemukan. Jumlah dan jenis HMO berbeda pada setiap ibu. HMO ini tidak dicerna tapi berguna untuk keseimbangan bakteri dalam usus. HMO menghambat patogen penyebab penyakit menular.

ASI TIDAK steril. ASI mengandung banyak jenis bakteri (mencapai 600 jenis), terutama bakteri “baik”.

Kandungan ASI tergantung pada cara dan saat ASI dihasilkan. 

* Kandungan lemak lebih tinggi pada ASI yang dikeluarkan setelah pemijatan dada dan juga bila menyusui/memompa sambil mendengar alunan lembut musik. 

* ASI yang dikeluarkan awal menyusui juga memiliki kandungan yang berbeda dengan setelah menyusui beberapa menit. Awal menyusui, ASI lebih encer untuk menghilangkan dahaga bayi. Bila bayi menyusu terus, ASI menjadi makin kaya akan lemak untuk mengenyangkan. 

* Kandungan ASI juga berbeda seiring pertumbuhan bayi. Kolostrum berangsur-angsur berubah menjadi ASI. Pada 3-4 hari pertama, ASI encer dan lebih manis. Selanjutnya ASI menjadi lebih kental dan berlemak. 

* Kandungan ASI berbeda bila ibu atau bayi sedang sakit. Sesaat setelah bayi mengisap ASI, tercipta ruang hampa udara dalam saluran air susu. Saat ini air ludah bayi masuk melalui puting payudara ibu. Bila kelenjar susu ibu yang kontak dengan air ludah ini mendeteksi adanya virus atau patogen lain dalam air ludah bayi, maka ASI akan diproduksi kaya dengan antibodi sesuai jenis patogen. Inilah penyebab perbedaan warna ASI yang dipompa oleh Mallory Smothers sesaat setelah bayinya sakit.

Menyusui

Jika Tak Dapat Memberikan ASI 

Bayi mungkin tidak beruntung mendapat ASI bila ibu menderita penyakit tertentu dan harus makan obat yang dapat masuk ke dalam ASI. 

Dapatkah ASI diganti dengan susu sapi? Susu sapi tidak cocok untuk bayi karena mengandung terlalu sedikit zat besi, retinol, vitamin E, C, D, lemak tak jenuh, dan asam lemak esensial. Susu sapi juga mengandung terlalu banyak protein, natrium, kalium, fosfor, dan klorida, yang menjadi beban berat bagi ginjal bayi yang belum berkembang sempurna. Protein, lemak, dan kalsium dalam susu sapi ini juga lebih sulit dicerna dibandingkan dengan ASI.

Ketidakmampuan tubuh seorang ibu menghasilkan cukup ASI jarang sekali ditemukan. Dari hasil penelitian, bahkan ibu dari keluarga tak mampu dengan asupan nutrisi yang lebih buruk, dapat memproduksi ASI dengan kualitas yang sama dengan ibu dari keluarga mampu dengan asupan gizi yang lebih baik. 

Saya hanya pernah menemukan dua kasus ibu yang benar-benar tidak menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya. Berkurangnya produksi ASI biasanya terjadi karena bayi minum kurang banyak. Cara menyusui yang tidak tepat membuat bayi tidak bisa menyusui dengan baik, sehingga bayi minum kurang banyak. Berkurangnya produksi ASI juga bisa terjadi apabila si ibu mendapat pengobatan dengan obat yang mengandung estrogen, ibu sakit, dehidrasi. Penyebab lain --yang sangat jarang-- adalah sindrom Sheehan (hipopituitari postpartum) yang mengakibatkan kurangnya produksi hormon prolaktin.

Penanggulangan Masalah 

1. Produksi ASI yang kurang - Perhatikan apakah bayi telah menyusui dengan benar, apakah puting dan areola (daerah berwarna gelap sekitar puting) benar-benar masuk ke dalam mulut bayi. Kedengarannya sederhana, tapi hal ini paling sering terjadi pada ibu baru yang belum mengerti menyusui dengan benar. Perhatikan pula apakah ibu mengalami dehidrasi (kurang asupan cairan), stres, kurang tidur, atau mengkonsumsi obat tertentu. Bila tidak ada semua masalah tersebut, berkonsultasilah dengan dokter. Mungkin ibu perlu mendapat terapi hormon. Terapi hormon juga bisa membantu ibu yang adopsi anak dan ingin menyusui anak angkatnya. Cara lain adalah memakai jasa ibu menyusui yang lain untuk menyusui anak atau membeli ASI. Bila membeli ASI, harus sangat hati-hati dengan higiene ASI yang dibeli. 

2. Puting yang “datar” atau “terbenam” - Tidak perlu melakukan tindakan seperti menarik keluar puting selama kehamilan. Rangsangan pada puting bisa menyebabkan pelepasan hormon oksitosin yang bisa menyebabkan kontraksi rahim. Lakukan penarikan puting pada waktu hendak menyusui, bisa juga dengan menggunakan pompa ASI. Puting datar/terbenam bukan berarti tidak bisa menyusui, hanya lebih sulit bagi bayi. Pastikan dagu bayi menempel pada payudara, mulut bayi terbuka lebar, sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi dan perhatikan bibir atas dan bawah harus mengarah ke luar. 

3. Ibu bekerja di luar rumah - ASI bisa dipompa dan disimpan dalam kulkas.

Bila semua usaha itu telah dicoba tetapi ibu tetap tidak dapat memberi ASI, tak ada jalan lain, berikan susu formula kepada bayi.

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.