Terbaliknya Suatu Pengertian

Minggu, 25-12-2016

Dalam jurnalisme ada perbedaan pendapat tentang cara penulisan kutipan, terutama kutipan dari pernyataan lisan narasumber. Membuat kutipan pernyataan lisan sering jadi masalah karena kalimat yang diucapkan narasumber mungkin saja keliru secara gramatika, bisa jadi tidak tepat dalam pilihan diksi, atau perpaduan serta kontinuitas kata-kata tidak beres, dan bahkan dapat saja ada kerusakan pada nalar kalimat.

Pendapat pertama mengatakan bahwa kutipan --dari pernyataan lisan maupun tulisan-- harus dibuat sama persis dengan aslinya. Demi akurasi, tidak boleh ada intervensi penulis laporan terhadap kalimat tersebut. Sayangnya, cara pengutipan seperti ini memungkinkan munculnya berbagai kalimat kutipan yang sulit dimengerti atau bahkan dipahami tidak sesuai dengan maksud narasumber. Oleh karena itu, banyak yang berkeberatan menerimanya.

Pendapat kedua sama ekstremnya dengan pendapat pertama, hanya saja menginginkan yang sebaliknya. Menurut pendapat kedua ini, wartawan boleh mengubah kalimat sumber/narasumber menjadi kalimat yang baik selama dia yakin akan maksud yang diinginkan pembuat pernyataan. Pendapat kedua ini membuka peluang lebih besar untuk rusaknya akurasi. Juga banyak yang berkeberatan menerimanya.

Pendapat ketiga lebih berhati-hati dan disertai dengan pertimbangan. Menurut pendapat ketiga, pernyataan sumber/narasumber dapat diubah (terutama tata bahasanya) selama wartawan yakin tentang maksud pernyataan tersebut. Pendapat ketiga ini juga mengingatkan, kalimat yang mendapat perubahan itu lebih baik dibuat dalam bentuk kutipan tidak langsung, dan wartawan tidak boleh mengubah kata sifat maupun kata keterangan yang dipakai pembuat pernyataan.

Bagaimana caranya untuk yakin akan maksud pernyataan sumber/narasumber? Menurut pendapat ketiga ini, maksud itu dapat diketahui dengan memahami alur gagasan yang diutarakan, baik dari jawaban untuk suatu pertanyaan, respons terhadap suatu pernyataan dalam percakapan, maupun dalam paparan seperti pidato serta ceramah.

*

Pantang Menyerah

Penulisan berita berjudul “Tetty Liz: ‘Single Mom’ Jangan Pantang Menyerah” rupanya tidak mempergunakan cara pengutipan seperti yang disarankan pendapat ketiga itu.

Uraian Tetty Liz (narasumber) tentang mengurus anak-anak seorang diri, memutuskan untuk cuti dari dunia sinetron, setelah anak-anaknya meraih gelar sarjana dia kembali aktif di dunia peran, single parent yang cenderung dicap negatif, bukanlah keadaan yang ringan dan nyaman. Dia tak ambil pusing akan masalah itu. Malah dia sebut, itu dia jadikan penyemangat.

Hanya saja pada uraian berikutnya Tetty Liz --mungkin-- keliru berkata-kata, dan yang terjadi adalah terbaliknya pengertian. Seperti tertulis dalam berita itu, dia berkata “jangan pantang menyerah.” 

Pantang menyerah adalah ungkapan yang dipakai untuk menyatakan semangat yang tak mudah patah menghadapi kesulitan atau menghadapi kegagalan. Jadi, sebetulnya dia hendak mengatakan, dalam menghadapi aneka persoalan sebagai single parent, dia pantang menyerah. 

Jika memang Tetty Liz yang keliru (memadukan kata “jangan” dengan “pantang menyerah”), sebaiknya wartawanlah yang mengubah kalimatnya, sehingga audience mengetahui makna yang dia inginkan -- pantang menyerah, tidak mudah patah semangat.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook Penulis pada tanggal 24 Desember 2016.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.