Cara Mengatasi Anak yang Sulit Fokus

Akhir minggu lalu orang tua diundang ke sekolah untuk bertemu guru kelas dan menerima laporan hasil belajar bulanan anak. Tiap anak mendapat jadwal tersendiri, jadi hanya ada tiga orang yang bertemu: guru kelas, orang tua dan anak. Ini disebut three-way conference. Pada kesempatan ini guru akan melaporkan apa dan bagaimana sikap anak dalam kelas  ketika guru menerangkan, ketika diminta tampil di depan kelas, menjawab pertanyaan atau ketika bermain. Satu hal yang paling ‘menonjol’  dari putera saya, saat ini duduk di kelas 3 SD, tidak bisa diam. Tangannya terus memainkan penggaris atau pensil ketika guru menerangkan, terkadang tangannya sibuk melipat kertas (origami), atau sambil menggambar Minion, Ultraman, Power Rangers di kertas coretan. Atau juga mengobrol. Kesimpulannya: tidak bisa fokus pada apa yang sedang diajarkan guru di depan kelas. Jadi bisa ditebak, ketika dipanggil atau ditanya guru, ia tidak bisa menjawab. Langganan dihukum di kelas, tapi herannya, tidak jera juga. Duh. Ini salah satu tantangan guru di kelas, bagaimana menghadapi anak-anak yang sulit fokus agar tidak mengganggu ketenangan di kelas.

Fokus

Masalah anak yang sulit fokus menjadi salah satu topik yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua  dan guru karena akan menganggu prestasi anak. Pemicu kecil saja bisa membuat perhatian anak teralih dan anak akan bergerak meninggalkan tempat duduknya. Apa yang sedang dipelajari seketika menjadi buyar.  Sulit fokus bukan hanya karena anak terus bergerak, tapi juga melamun, bosan, mengantuk, atau badan yang kurang fit.

Perhatian (attention) timbul dari ketertarikan akan sesuatu dan adanya stimulasi. Anak-anak banyak yang tertarik dengan games dan bisa fokus bermain selama beberapa jam. Bagaimana games membius anak-anak sampai betah bermain berjam-jam? Menurut para ahli, games memberikan stimulasi yang terus menerus, menyuplai dopamin, kimiawi otak yang berfungsi mengatur fokus. Games menyodorkan gerakan yang cepat, pertukaran berbagai scene (pemandangan), warna yang menarik dan isi permainan yang memicu adrenalin, sehingga dapat menimbulkan kecanduan.

Berhubung permainan elektronik sangat menstimulasi anak untuk fokus, saat ini banyak materi pelajaran yang dikemas dalam bentuk video games. Efek negatif dari permainan elektronik menjadikan kegiatan yang non-screen tidak menarik lagi, seperti membaca buku, menyusun lego atau puzzle, origami, dan lainnya. Ini seperti pisau bermata dua bagi orang tua dan guru karena anak-anak akan kehilangan minat pada kegiatan non-screen. Permainan non-screen dirasa membosankan, terlebih bagi anak-anak yang mengalami masalah sulit fokus.

Gejala Anak Sulit Fokus

Simptom/gejala anak-anak yang punya masalah konsentrasi dapat dilihat dari beberapa kejadian kecil dalam keseharian seperti:
– Tidak menaruh perhatian pada hal yang detil
– Ceroboh
– Perhatian cepat teralih begitu ada stimulus lain
– Terlihat tidak mendengarkan ketika kita berbicara padanya
– Kesulitan mengingat sesuatu
– Tidak mau ikut instruksi
– Mudah bosan
– Bisa mendadak meninggalkan kegiatan yang sedang dikerjakan
– Sering kehilangan alat tulis, kotak makanan, buku, mainan dan sebagainya.

Faktor Pemicu dan Solusi

Ada 5 hal utama yang biasanya menjadi pemicu anak menjadi mudah beralih perhatian:

1. Benda yang ada di dekatnya: Anak yang sulit fokus biasanya tangan kakinya tidak bisa diam. Ada saja yang dipegang, diambil atau digoyang-goyangkannya. Apakah itu pensil yang diputar-putar di tangan, duduk sambil kursi digoyang atau diputar, kaki menendang-nendang kaki kursi depan, mengetuk-ngetukkan pulpen di meja.

Solusi: Berikan suatu benda dalam kantong baju/celananya. Anak diminta duduk dengan tangan dalam kantong dan memegang benda dalam kantong itu. Mengunyah permen karet juga dapat membantu anak lebih tenang dan fokus.

2. Suara dering telepon: Sulit untuk membedakan suara mana yang lebih penting untuk didengarkan, suara guru atau suara dering telpon.

Solusi: Jauhkan pesawat telepon dari ruang belajar anak agar tidak mengganggu konsentrasi atau atur volume dering menjadi mute ketika anak sedang mengerjakan satu kegiatan yang membutuhkan konsentrasi atau sedang belajar.

3. Pakaian yang menimbulkan rasa gatal di kulit atau label pakaian yang sering mengganggu kenyamanan di bagian tengkuk atau sisi tubuh (care label). Anak yang sensitif dengan indera peraba, akan cepat bereaksi jika ada yang dirasakan tidak nyaman pada kulit tubuhnya. Badan akan terasa gatal, digaruk-garuk atau menggeliat terus.

Solusi: Berikan anak pakaian yang halus dan nyaman dipakai. Guntinglah semua label pakaian agar tidak mengganggu.

4. Orang yang lalu lalang di dekat pintu atau jendela. Anak yang sulit fokus sangat sensitif dengan bayangan gerakan yang melintas, bahkan hanya dari sudut matanya.

Solusi: Jauhkan posisi duduk anak yang sedang fokus mengerjakan sesuatu dari jendela atau pintu, terlebih di tempat yang banyak orang lalu lalang.

5. Pikirannya sendiri: Anak yang sulit fokus bukan hanya terganggu oleh faktor eksternal, namun juga dari dirinya sendiri. Ia bisa tiba-tiba terpikir suatu hal lain ketika asik mengerjakan sesuatu dan langsung bergerak atau beralih perhatian. Terlalu banyak ‘rencana’ yang melintas dalam pikirannya.

Solusi: Pilah tugas menjadi beberapa bagian agar anak tidak terlalu lama berkutat karena concentration span (rentang konsentrasi) yang terlalu besar membuat anak cenderung cepat capek. Beri jeda waktu setelah melakukan satu bagian tugas. Musik yang lembut dan penggunaan timer juga dapat membantu anak untuk diam lebih lama, hingga timer berbunyi.

Diharapkan dengan mengontrol kondisi-kondisi di atas, anak bisa memperpanjang rentang konsentrasi dan lebih fokus pada apa yang sedang dikerjakan .

Anda dapat mencoba cara lain untuk mmbuat anak lebih konsentrasi dan fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Menyusun lego, puzzle atau menggambar atau bahkan bermain games juga dapat dijadikan latihan karena membutuhkan konsentrasi.  Seorang teman  pernah menerapi anaknya yang sulit fokus dengan beberapa games di laptop dan Ipad. Games yang dipilih semuanya membutuhkan konsentrasi untuk koordinasi kecepatan tangan dan mata dan bukan jenis games yang memacu adrenalin seperti tembak-tembakan atau perkelahian (fighting). Games yang dipilih jenis penyusunan blok, kecepatan penyajian makanan di restoran, penataan rambut atau busana, mencari barang yang hilang. Hasilnya, anak bisa duduk diam untuk beberapa saat dan konsentrasi pada permainan. Setelah beberapa waktu, rentang konsentrasi anak bertambah sedikit demi sedikit dengan pelatihan melalui games ini.

Komentar

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Di Taiwan sayur paku sarang burung adalah kegemaran orang lokal. Biasanya mereka tumis dengan...

Rose Chen

Mungkin banyak yang belum pernah makan umbi bunga lily (bunga bakung). Umbi bunga lily bisa...

Rose Chen

Biasanya saya masak daun labu siam dengan kuah santan. Ribet karena harus menggiling bumbu halus...

Rose Chen

Kami tidak biasa makan nasi waktu sarapan. Biasanya jenis roti atau pancake. Di sini saya...

Rose Chen

Mimisan adalah keluarnya...

Rose Chen

Salah satu fungsi...

Rose Chen

Ini bukan tentang "new normal" jaga jarak, pakai masker, cuci tangan atau yang lainnya dalam...

Rose Chen

Semua virus termasuk virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2 berkembang biak dalam sel hidup dengan...

Rose Chen

Beberapa hari yang lalu seorang sahabat bertanya, apakah Ivermectin bisa dipakai untuk terapi...

Rose Chen

Catatan: Tulisan ini sebenarnya adalah jawaban saya kepada teman yang bertanya melalui...

Rose Chen