Depresi: Apa dan Bagaimana

Sabtu, 5-11-2016

Depresi bagi sebagian besar masyarakat kita terasa bermakna negatif. Di lain pihak, yang mengalami depresi sering mengabaikan tanda-tanda yang muncul dan cenderung menyangkal. 

Sebagian ibu yang baru melahirkan bisa merasa tertekan bila situasi dalam keluarga tidak mendukung. Keadaan ini bisa muncul sehari setelah melahirkan atau bahkan dua tahun kemudian. Sang ibu akan menjaga jarak dan membenci bayinya karena merasa kelahiran bayi ini membuatnya terkungkung, merasa sangat tidak nyaman dengan diri sendiri atau mengganggu kegiatan normalnya. Kondisi seperti ini termasuk dalam kategori depresi (postnatal depression).

Depresi merupakan gangguan mental yang mempengaruhi fisik, mood dan pikiran. Bukan sekedar perasaan sedih biasa yang kita rasakan jika ada kejadian yang mengecewakan atau perubahan mood saja. Perasaan sedih pada orang depresi akan lebih dalam hingga mengganggu kegiatan hariannya. Ada yang merasa seolah-olah semua orang memusuhinya, merasa tidak berguna lagi, hidup terasa kosong, kehilangan semangat, dan akhirnya berkurung di kamar saja. Tidak percaya diri bertemu dengan orang lain, apalagi menyapa atau berbicara. Menjadi apatis.

Penyebab Depresi

Penyebab depresi pada tiap orang bisa bervariasi, dipicu oleh beberapa sebab dan merupakan kombinasi dari faktor fisik, psikis, serta emosional. Di antaranya adalah:

- Kejadian besar yang mengguncang seperti kematian orang dekat, perceraian, diputuskan pacar, pindah rumah, kehilangan pekerjaan, dirampok.
- Perubahan fase kehidupan seperti memasuki masa pensiun atau anak-anak beranjak dewasa dan meninggalkan rumah.
- Peristiwa traumatik seperti pernah dilecehkan, termasuk pelecehan seksual, sering menerima perlakuan kasar baik secara verbal maupun fisik di masa lalu.
- Beberapa kondisi fisik juga dapat memicu timbulnya depresi seperti perubahan hormon pada masa remaja atau menopause, gangguan tidur, menderita sakit yang serius dan perlu pengobatan jangka panjang dan mahal, alkoholisme, ketergantungan obat-obatan dan sebagainya.

Gejala Umum Depresi

Untuk mendeteksi apakah kondisi yang dialami sudah termasuk dalam kategori depresi atau tidak, ada beberapa gejala umum yang muncul :

1. Pengaruh pada perasaan dan pikiran
- Tidak memiliki semangat hidup yang berlarut-larut
- Emosional, mudah menangis, marah, atau mengamuk
- Merasa tidak berguna, perasaan kosong, tidak punya harapan
- Selalu berpikiran negatif, cenderung tidak realistis
- Sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan
- Sulit mengingat sesuatu, menjadi pelupa.
- Hilang hasrat untuk berhubungan seks
- Terus dikejar rasa bersalah yang berkepanjangan
- Tidak percaya diri
- Ada keinginan untuk bunuh diri.
- Tugas yang biasanya ringan dan sederhana, sekarang terasa sulit dan membingungkan.
- Malu bertemu orang lain dan menarik diri dari lingkungan sosial.
- Sulit memulai pembicaraan atau sekedar basa basi.

2. Pengaruh pada fisik

- Tidak dapat tidur atau terlalu banyak tidur
- Kehilangan nafsu makan atau malah menjadi rakus
- Mulai mengkonsumsi lebih banyak alkohol/rokok dari biasanya
- Semakin sering timbul keluhan fisik seperti pegal-pegal, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut.
- Gerakan menjadi lebih lambat
- Mudah lelah

Depresi adalah faktor penyebab utama orang ingin bunuh diri. Kekecewaan yang mendalam dan perasaan tidak berharga membuat bunuh diri seolah-olah menjadi satu-satunya jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Ini dampak yang paling parah dari kondisi depresi. Karena itu, jangan anggap sepele setiap kali keluar ucapan ingin bunuh diri, sering menulis status yang bertendensi pada kematian atau tanda-tanda mencurigakan lain yang mengarah pada keinginan bunuh diri. Semua itu adalah indikasi yang sangat serius dan menjadi gong utama yang harus menyadarkan kita bahwa orang ini butuh bantuan segera.

Depresi

Apa yang harus dilakukan?

- Perhatikan tanda-tanda yang muncul pada orang tersebut. Pelajari juga apakah depresi itu dipicu oleh faktor fisik atau psikis.
- Hubungi dan kunjungi psikolog atau psikiater untuk mengetahui sejauh mana tingkat depresinya.
- Terapi tergantung pada seberapa berat kondisi depresi yang dialami. Terapis akan menentukan apakah perlu diberikan obat-obatan antidepresan atau tidak.
- Olah raga, merubah gaya hidup, makanan yang bergizi, juga dapat membantu meringankan kondisi depresi.
- Butuh dukungan sosial untuk penyembuhan. Bergabung dengan komunitas, menambah teman baru, curhat pada teman.
- Tidur yang cukup. Jika waktu tidur tidak cukup, depresi akan semakin memburuk karena kurang tidur membuat mood gonjang-ganjing dan letih yang berkepanjangan.

Penanganan depresi butuh waktu dan kesabaran untuk mengembalikan rasa percaya diri dan semangat hidup si korban depresi. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat sangat diperlukan.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul di blog lama Patahtumbuh tanggal 18 Juni 2014.

SaveSave

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.