Menyiasati Stres (II)

Minggu, 13-11-2016

Sebelumnya: Stres: Penyebab dan Gejala (I)

Membereskan gudang di rumah, merapikan kamar yang berantakan, meja kerja yang penuh dengan tumpukan kertas, atau lemari  di dapur, adalah hal yang sering kita lakukan. Tapi pernahkah terpikir untuk membereskan dan merapikan isi pikiran dan perasaan kita? Ketika emosi mulai sulit dikendalikan, meledak-ledak, pikiran terasa terkuras dan badan mudah lelah, inilah saatnya untuk tune up dan menyortir hal-hal yang menyesakkan dada dan memenuhi pikiran. Saat untuk membenahi isi hati dan pikiran, saat untuk memilah mana yang akan diprioritaskan.

MENYIASATI STRES

Beberapa tips untuk membantu menenangkan pikiran:

–   Relaksasi instan: Letakkan siku di atas meja dan tutuplah mata dengan kedua tangan. Kosongkan pikiran sejenak dan fokus hanya pada tarikan nafas.
–   Latihan pernafasan:  Tarik nafas dalam-dalam, rasakan udara mengalir dalam tubuh dan hembuskan perlahan. Lakukan beberapa kali.
–   Menyentuh bagian tubuh sendiri: Sentuhan pada bagian tubuh tertentu dapat menjadi suatu ‘ritual’ yang merilekskan seperti menggosok telapak tangan, meraba daun telinga atau memilin-milin rambut sendiri. Jadi setiap kali terasa kurang nyaman, lakukanlah gerakan ritual ini (disebut conditioning touch).
–  Seduh teh panas dan hirup aromanya sebelum diminum. Minumlah perlahan-lahan.
–  Pergilah ke spa dan nikmati pijatan di seluruh tubuh.
–  Bergabung dengan kelompok menari karena gerakan menari melenturkan tubuh dan merilekskan.
–  Bernyanyi
–  Membersihkan rumah
–  Mendengarkan musik
–  Olah raga
–  Menulis
–  Bermain dengan hewan peliharaan: Membawa anjing berjalan-jalan, memberi makan ikan, membersihkan kandang, merupakan kegiatan yang membantu kita mengalihkan stres.
–  Berdoa
–  Meditasi

Tips yang disebutkan di atas membantu menenangkan hati dan pikiran untuk sementara waktu tapi jika inti permasalahan tidak ditangani dengan tuntas dan kita tidak merubah sikap (attitude) dalam menghadapi  kondisi tersebut, stres akan kembali menghantui. Cobalah  melakukan beberapa langkah di bawah ini agar stres lebih terkontrol dan perasaan menjadi lebih ringan:

1. Tuliskan di kertas atau ketik di komputer apa saja yang melintas dalam pikiran. Bandingkan segi positif dan negatifnya dan anda akan dapat melihat dengan jelas bahwa kondisi tidak sejelek yang dipikirkan. Jika semua hal hanya tersimpan di dalam kepala, seperti harddisk komputer, suatu saat akan melebihi kapasitas dan prosesor menjadi lemot dan emosi akan ikut kacau karena pikiran terhubung dengan emosi. Jika pikiran negatif, emosi akan ikut negatif. Menumpahkan isi pikiran dalam bentuk tulisan, akan mempermudah anda memilah mana yang menjadi prioritas dan mana yang spam.

2. Belajar untuk lebih asertif (tegas): Katakan tidak kalau memang anda tidak bisa membantu teman, tak perlu sungkan dan terpaksa mengerjakan dengan berat hati, akhirnya menambah beban diri sendiri.

3. Buat daftar prioritas (to-do list) dan periksa mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, mana yang bisa diundur. Jika suatu masalah masih belum mendapatkan jalan keluar, tinggalkan untuk sementara waktu dan beralih ke hal lain. Kadang-kadang penundaan justru memberikan suatu alternatif solusi.

4. Let go – melepaskan pikiran-pikiran yang mengganggu seperti pertengkaran dengan pasangan beberapa waktu yang lalu dan masih terus terekam dalam pikiran sehingga mengganggu aktivitas lain. Atau kecemasan akan sesuatu yang belum tentu terjadi.

5. Latih diri untuk mengambil keputusan dengan lebih cepat. Jangan biasakan menggantung setiap permasalahan, tanpa ada kepastian apakah mau jalan terus atau mundur. Buat deadline untuk pengambilan keputusan.

6. Komitmen: Perlu suatu komitmen atas apa yang sudah diputuskan dan jangan menoleh ke belakang lagi dengan segala penyesalan. Konsentrasi dan fokus pada komitmen.

7. Sharing beban mental (curhat) dengan orang yang dapat dipercaya akan sangat membantu, meskipun mungkin tidak ada masukan atau usulan solusi dari orang tersebut tapi setidaknya mengeluarkan uneg-uneg sudah merupakan suatu terapi. Berbicara dengan orang lain akan terasa melegakan karena emosi jadi terurai dan anda akan mendapatkan perspektif baru dari hasil tukar pikiran dengan orang lain.

8. Sediakan waktu untuk diri sendiri (me time):  Membaca, menonton, mendengarkan musik, memasak, melukis, dipijat, atau kegiatan lainnya yang tidak diganggu oleh orang lain.

9. Disiplin dalam memanfaatkan waktu. Jangan membuang waktu dengan mengerjakan hal-hal yang tidak penting dan mengganggu. Fokus pada tujuan dan maksud yang hendak dicapai dan jangan mudah teralihkan.

10. Tinjau kembali potensi diri, peluang yang ada, waktu yang tersedia dan ambisi pribadi. Apakah ambisi melebihi potensi diri? Kalau ambisi berimbang dengan potensi diri, tingkatkan daya juang dan semangat untuk pencapaian tujuan dan sesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Bahagia ada dalam diri sendiri karena kitalah yang mengontrol pikiran dan perasaan itu. Kalimat ini sering kita jumpai dalam bacaan atau ceramah. Dan memang demikian adanya. Aspek rasio dan emosi harus terintegrasi dengan baik dan optimal. Setiap individu harus mengenali ambang stres dirinya dan sejauh mana kemampuannya untuk berdamai dengan stres. Berhentilah sejenak, sisihkan sedikit waktu untuk rehat dari rutinitas. Dapatkan kembali semangat baru, berdiri tegak dan tersenyum lagi.

Stres

Catatan: Tulisan ini pertama muncul di blog lama Patahtumbuh pada tanggal 10 Juli 2013.

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.