Runtuhnya Sebuah Negara -- Indonesia Mungkinkah?

Sabtu, 19-11-2016

Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Australia, mengatakan kemenangan Donald Trump terutama adalah karena menggunakan janji akan pertumbuhan ekonomi sebagai “senjata” kampanye utama. Terlepas dari isu diskriminasi, Trump menang karena pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi masyarakat luas yang butuh eksistensi. Tanpa pekerjaan, manusia tidak memiliki penghasilan. Kemenangan Trump menimbulkan protes dari pendukung lawan politiknya, sebagian mengkhawatirkan sesuatu yang dianggap musykil oleh pendukung Trump - awal keruntuhan Amerika. Apakah semudah itu sebuah negara runtuh? 

Lima Poin Penting dan Kasus yang Pernah Ada

Ada lima poin penting yang menjadi penyebab runtuhnya sebuah negara, seperti dirumuskan Jared Diamond, Profesor Geografi dari Universitas California, Amerika Serikat. Jared Diamond adalah pemenang berbagai penghargaan, Pulitzer Prize, Tyler Prize, dan Lewis Thomas Prize.

1. Rusaknya lingkungan oleh manusia - terutama bila merusak sumber daya yang merupakan sumber pendapatan utama. 
2. Perubahan iklim.
3. Tiadanya/runtuhnya negara tetangga yang biasanya membantu kelangsungan hidup negara itu.
4. Hubungan dengan negara yang tidak baik.
5. Faktor politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Pulau Easter

Contoh paling sederhana adalah Pulau Easter, pulau yang sangat terpencil 3.200 km di sebelah barat Chili, Amerika Selatan. Sekitar tahun 800, orang Polinesia pertama masuk dan tinggal di pulau Easter. Setelah itu tidak ada lagi orang lain yang datang. Penduduk Easter tumbuh dan punah tanpa pengaruh dari luar. Pulau Easter terkenal karena patung batu raksasa yang dipahat di gunung dan diseret turun hanya dengan tenaga manusia lebih dari 20 kilometer untuk ditegakkan di pantai.

Ketika orang Eropa tiba di sana pada tahun 1722, masyarakat di pulau ini sedang menuju kepunahan. Penyebabnya baru diketahui lewat penelitian arkeologi 15 tahun terakhir ini. Arkeolog melakukan penelitian terhadap paleo botanik dan identifikasi tulang hewan. Pulau Easter sekarang adalah pulau tandus tanpa tumbuhan asli. Tidak kelihatan tanda-tanda bahwa di sana pernah ada peradaban yang hebat, tapi dari penelitian arkeologi, ternyata dulunya pulau itu ditutupi hutan tropis dengan pohon besar dan paling sedikit enam jenis burung darat dan 37 jenis burung laut. Orang Polinesia datang dan tinggal di pulau itu, membabat hutan untuk dijadikan kebun, menebang pohon untuk jadi kayu api, membuat sampan, menangkap lumba-lumba dan tuna. Mereka makan burung, buah-buahan dari pohon palem. Diperkirakan populasi tumbuh menjadi sekitar 10 ribu orang. Hingga tahun 1600an, semua pohon dan burung kecuali satu jenis burung laut di pulau Easter punah. Mereka kemudian menjadi kanibal. Dari 10 ribu, jumlah penduduknya turun menjadi 2.000. 

Anasazi

Contoh lain adalah runtuhnya Anasazi, penduduk asli Amerika yang mulai berkembang sekitar tahun 600. Pada masa jayanya, mereka mendirikan bangunan setinggi enam lantai dengan hampir 600 kamar. Masyarakat Pulau Easter punah hanya karena masalah lingkungan, tetapi Anasazi runtuh karena pengaruh lingkungan dan perubahan iklim.  

Norse Greenland

Penyebab runtuhnya Norse Greenland adalah kelima poin yang disebut Profesor Jared Diamond.
Viking (perompak laut dari Skandinavia) menempati Greenland sejak tahun 984. Pertama mereka melakukan pembabatan hutan, kemudian terjadi perubahan iklim pada akhir tahun 1300an. Tahun 1379 mereka diserang oleh orang Inuit. Karena perubahan iklim yang menyebabkan laut beku, perdagangan dengan Eropa terputus. Penyebab keruntuhan mereka yang terakhir adalah faktor budaya. 

Di Greenland, sapi lebih dihargai, padahal lebih mudah memelihara domba dan kambing. Orang Norse di Greenland tidak mau belajar dari bangsa Inuit. Mereka tidak mau meniru cara orang Inuit menangkap ikan, membuat kereta anjing, dan teknik mempertahankan hidup yang lain. Mereka bukannya memikirkan bagaimana membuat alat dari besi untuk menangkap ikan, malah sibuk membangun gereja yang megah. Tahun 1440, tidak ada lagi sisa orang Norse. Tapi orang Inuit bertahan hidup. 

Nauru

Negara pulau terkecil di dunia ini terletak di timur laut Australia, 42 km di selatan khatulistiwa. Luas negara ini hanya 21 kilometer persegi. Nauru telah dihuni sejak tiga ribu tahun yang lalu. Awalnya dihuni oleh 12 suku Polynesia dan Mikronesia, kini penduduknya sekitar 10 ribu orang. Ketika orang Eropa pertama kali mendarat di pulau Nauru pada tahun 1798, mereka menamakannya “the pleasant island” karena keindahan alamnya. Kotoran burung laut menjadikan tanah Nauru kaya akan fosfat yang berfungsi sebagai pupuk yang sangat baik. Kotoran yang mengendap ribuan tahun menjadi fosil ini ditemukan pada tahun 1900 di Nauru oleh pemburu mineral dan dimulailah penambangan fosfat. 

Nauru merdeka tahun 1968 setelah sebelumnya pernah berada di bawah kekuasaan Inggris, Australia, dan Jepang (1942-1945). Bulan Juni 1970, Nauru resmi menguasai tambang fosfat mereka. Devisa dari tambang ini sempat menjadikan Nauru sebagai negara dengan pendapatan perkapita kedua terbesar di dunia setelah Saudi Arabia. Kekayaan yang membuai berakhir buruk. Penduduk memilih kebiasaan hidup tidak sehat, alkohol dan merokok. Uang yang diperoleh dengan mudah, dihamburkan dengan mudah pula. Pemerintahan yang korup dan penggunaan keuangan negara yang tidak dikelola dengan baik membuat Nauru bangkrut. Tanah Nauru kehabisan fosfat pada awal 1980an. Penambangan tanpa perencanaan yang baik membuat rusak tanah Nauru sehingga 75 persen tidak bisa dipakai untuk pertanian, industri, maupun daerah wisata. Burung asli banyak yang punah karena habitat mereka dirusak. Sekitar 90 persen penduduk kehilangan pekerjaan dan sistem pendidikan hancur. Penduduknya termasuk penduduk paling tidak sehat dengan angka penderita diabetes dan obesitas tertinggi di dunia.

Hutang negara membengkak dan untuk mendapatkan uang mereka mengizinkan pemutihan uang oleh para mafia kelas dunia di bank mereka, bahkan menggunakan keanggotaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mereka untuk mendapatkan uang dengan mengakui negara-negara tertentu seperti Republik Abkhazia yang melepaskan diri dari Rusia. 

Kini Nauru, tidak sampai setengah abad sejak menjadi negara dengan pendapatan per kapita kedua terbesar, berubah menjadi negara miskin. Mereka bergantung sepenuhnya pada bantuan luar negeri, terutama Australia, yang sekarang menjadikannya sebagai tempat “pembuangan” sementara untuk pengungsi yang berusaha masuk Australia melalui laut. Keadaan lokasi pengungsian saat ini adalah sangat buruk dan banyak mendapat perhatian berbagai badan hak azasi internasional.

Sedemikian buruknya keadaan di Nauru, visa untuk jurnalis masuk ke negara ini sangatlah sulit diperoleh.

Indonesia?

Dalam salah satu ceramahnya, Jared Diamond memberi contoh masyarakat yang telah runtuh seperti Somalia, Rwanda, dan Yugoslavia. Dia meramalkan Nepal, Indonesia, Columbia, dan beberapa negara lain juga sedang menuju kehancuran. Menurut Jared Diamond ada dua hal utama yang menyebabkan satu kelompok masyarakat gagal bertahan.

1. Pertentangan kepentingan antara kaum elit pembuat keputusan dengan kepentingan masyarakat banyak. Di mana saja, kaum elit yang tamak akan membuat keputusan yang menguntungkan diri mereka untuk jangka pendek walau bisa merugikan masyarakat umum termasuk anak cucu mereka untuk jangka panjang, bila mereka mampu melindungi diri sendiri dari dampak keputusan buruk yang mereka ambil itu.

Dalam masyarakat Norse Greenland, para kepala suku dan pemuka agama sebagai kaum elite memilih makan sapi dan rusa padahal sulit didapat, sedang masyarakat bawah hanya makan anjing laut. Bandingkan dengan Belanda, negara yang penduduknya paling memperhatikan kelestarian lingkungan dan sadar politik. Keputusan diambil bersama. Tidak ada pembagian pemukiman orang kaya dan miskin. Semua orang tinggal di dataran yang sama dan kalau banjir semua orang kena banjir. Kita lihat di Indonesia, biasanya orang kaya tinggal di daerah yang tinggi dan orang miskin di daerah rendah yang sering kebanjiran. Kaum elite tidak merasa perlu membenahi karena dalam jangka pendek, mereka aman-aman saja dari banjir. Begitu juga masalah sampah, sungai yang kotor dan penyediaan air bersih. Kaum elite mampu membeli air mineral botolan sehingga tidak merasa perlu memikirkan bagaimana menyediakan air bersih bagi masyarakat luas. Sedangkan banjir dan masalah air bersih sangat erat hubungannya dengan kesehatan. 

2. Sulit membuat keputusan bila ada konflik antara nilai-nilai yang dipegang erat yang memang baik dalam situasi dan kondisi tertentu tapi mungkin tidak dalam situasi berbeda. 

Saya teringat pada perjalanan saya ke Toraja. Masyarakat Toraja sangat menghargai leluhurnya. Menurut mereka, sebagai tanda penghormatan, mereka harus memotong banyak kerbau sebagai persembahan bagi leluhur yang telah meninggal. Kebiasaan memotong dan makan banyak daging kerbau dan babi membawa dampak buruk bagi perekonomian dan kesehatan. Menghargai leluhur adalah hal yang baik tetapi masyarakat Toraja akan hancur jika kebiasaan ini tetap dipertahankan.

Lilin

Saya pikir Jared Diamond meramalkan Indonesia menuju kehancuran karena kita menghadapi masalah yang disebutkan dalam kelima poin penyebab keruntuhan satu negara. Kita merusak lingkungan dengan melakukan penebangan hutan yang tidak terkontrol dan kurangnya reboisasi (penanaman kembali hutan), satwa yang dilindungi diburu untuk kepentingan pribadi, tetapi yang paling mengerikan adalah perpecahan dalam masyarakat sendiri yang dapat menimbulkan “perang” saudara. 

Kepulauan Solomon yang pernah dikuasai oleh Inggris dan Jerman memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1978. Sejak tahun 1998, terjadi perang saudara yang berlangsung berlarut-larut mengacaukan sistem pemerintahan, keamanan dan ekonomi. Keadaan yang sangat kacau ini membuat pemerintah Kepulauan Solomon meminta bantuan dari luar. Pada bulan Juli 2003 kontingen keamanan internasional mengirimkan 2.200 polisi dan tentara di bawah pimpinan Australia dan New Zealand. Banyak yang menganggap Kepulauan Solomon adalah negara yang gagal. Tahun 2007, gempa besar diikuti tsunami menghancurkan lebih dari 900 rumah. Kejadian sama terjadi lagi pada tanggal 6 Februari 2013 yang memakan banyak korban. Perang saudara, bencana alam, pengrusakan hutan (deforestasi selama 15 tahun terakhir), membawa Kepulauan Solomon menuju keruntuhan.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil? Kita, bangsa Indonesia diramalkan menuju keruntuhan. Apakah kita tidak bisa mengelak? Apakah kita akan terima nasib tanpa berusaha bertahan? Tanpa berusaha memperbaiki diri?

Kita memiliki satu poin, negara-negara lain membutuhkan Indonesia. Mereka membutuhkan kerja sama ekonomi. Mereka memiliki kepentingan dengan Indonesia. Negara kita kaya sumber daya alam. Negara besar seperti Amerika memperhatikan kita dengan ketat. Saya percaya, jika kita mau berusaha keras, kita bisa membuktikan bahwa ramalan Jared Diamond keliru. Mungkin jika Presiden terpilih Donald Trump tidak didampingi penasehat yang bijaksana, justru Amerikalah yang akan menuju keruntuhan. Presiden Trump sendiri tidak peduli dengan kelestarian lingkungan. Dia tidak percaya pada global warming dan telah mengatakan akan menarik Amerika dari Perjanjian Paris— hasil konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa— persetujuan lebih dari 190 negara untuk mengurangi emisi karbon dioksida, penyebab utama pemanasan global. Kalau ini terjadi, planet bumi akan menghadapi bahaya besar di masa depan. Masyarakat Amerika sendiri terpisah pasca pemilihan presiden, jika mereka tidak waspada, perang sipil mungkin bisa terjadi. 

Teknologi informasi memberi kita keuntungan. Kita bisa mendapat banyak informasi, belajar dari sejarah, belajar dari pengalaman negara lain. Dengan pengetahuan ini, kita seharusnya mengetahui apa yang harus dilakukan. Kita sendiri yang menentukan apakah kita mau bersatu mempertahankan Indonesia atau membiarkannya menuju negara gagal seperti Kepulauan Solomon.

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.