Saat yang Tak Tepat untuk Terkejut

Rabu, 21-12-2016

Salah satu hal yang tak pernah masuk dalam rencana --karena tak mungkin-- adalah terperanjat alias kaget.

Kaget selalu terjadi tiba-tiba, misalnya jika ada petir menyambar, adanya ledakan bom, bunyi lain yang tiba-tiba mencetuskan rasa takut, dikejuti orang lain, atau setidak-tidaknya menemukan/mendengar/melihat sesuatu yang tidak disangka-sangka. Berbedanya dugaan dengan kenyataan yang ditemukan pun dapat membuat orang terkejut atau setidak-tidaknya tercengang. Pada saat seperti itu, kata-kata “ternyata bla bla bla ...” biasanya terucap atau terlintas dalam pikiran. 

Di media massa saya cukup sering menemukan kata “ternyata” yang dipakai wartawan. Tampaknya itu sudah menjadi gaya bercerita pada masa sekarang, dan karena terlalu sering dipakai ia menjadi klise. Tetapi bukan soal klise itu yang menjadi masalah, melainkan pemakaian kata “ternyata” untuk hal yang sebetulnya tak patut mengherankan atau mengagetkan.
Itu pula yang terjadi ketika saya membaca tulisan tentang Ir. Djuanda Kartawidjaja, pahlawan nasional yang gambarnya tampil pada uang kertas baru terbitan Bank Indonesia, pecahan Rp 50.000. Dalam profil Djuanda itu ada kalimat “Namun ternyata, daerah Tasikmalaya tidak hanya melahirkan orang sehebat Susi ...” (Susi yang dimaksud adalah Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan yang lahir di Pangandaran, pesisir selatan Jawa Barat. Tasikmalaya daerah bagian selatan Jawa Barat tempat lahir Raden Djuanda Kartawidjaja).
Kaget? 
Surprise?
Kenapa harus terkejut?

Djuanda

Ir. Djuanda bukan orang kemarin sore, dan bukan seseorang yang baru saja “ditemukan”. Sudah terekam dalam catatan sejarah bahwa perdana menteri terakhir kabinet parlementer itu adalah kelahiran Tasikmalaya.
Apabila si penulis laporan baru tahu bahwa Djuanda lahir di Tasikmalaya, dan terkejut, dia tentu ketinggalan dalam hal pengetahuan umum. Jika si penulis laporan itu terkejut setelah tahu bahwa Ir. Djuanda kelahiran Tasikmalaya, dia tidak perlu mengajak audience ikut terperanjat lewat kata “ternyata”, karena segala sesuatu yang sudah jadi rekaman sejarah, tidak pada tempatnya “diternyata-ternyatakan” saat diceritakan kembali.

Gaya penulisan yang menggunakan kata “ternyata” untuk hal yang tak seharusnya mengejutkan ini, terasa seperti gejala matinya rasa bahasa wartawan. Pilihan diksi dilakukan tanpa pertimbangan rasa bahasa. Jika itu menjadi kebiasaan, lama kelamaan publik pun akan dihinggapi bahaya matinya rasa bahasa itu.

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai status di akun Facebook Penulis pada tanggal 21 Desember 2016.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.