TKI (Yang Katanya Pahlawan)

Rabu, 13-4-2016

Pemerintah selalu mendengung-dengungkan TKI sebagai Pahlawan Devisa. Sayangnya, citra "pahlawan" ini masih kurang diakui. Hal ini bisa terbaca dari stereotip yang beredar yang bertolak belakang dengan label yang disematkan itu. 

Tidak jarang saya mendengar ujaran seperti:  “Di sini aja (di kampung halaman) mereka gaya kayak bos, di sana cuma pembantu aja kok…”  Ada juga yang berkata begini:  “Ah ogah warnain rambut begitu, norak kayak TKI aja.” Celotehan tersebut sedikit banyak mewakili gambaran dalam benak masyarakat umum tentang mereka, yang kata pemerintah, "pahlawan" itu.

Citra buruk semakin buram ketika banyak kasus TKI yang dibeberkan media massa didominasi oleh kisah tragis nan pilu. Berita tentang TKI yang diperkosa, disiksa majikan, bahkan ada yang membunuh atau dibunuh sepertinya sudah biasa kita dengar. Kisah TKW yang menghadapi hukuman mati di Timur Tengah dan Malaysia, yang ditelantarkan oleh majikannya di bandar udara Hong Kong setelah disiksa, dan deretan kasus lain yang seolah tidak habis-habisnya. Tak ayal hal tersebut mengaminkan pandangan banyak orang bahwa TKI hanyalah pekerja kasar, kurang berpendidikan, kurang santun, dan secara sosial merupakan kalangan bawah. Faktanya, sebagian TKI memang begitu, tapi tidak semua. Sayangnya sebagian lain yang lebih menegaskan sisi "pahlawan" TKI, meski pernah, namun sangat jarang diulas. Alhasil pandangan tentang TKI yang beredar menjadi timpang dan cenderung menyepelekan sosok mereka. 

Definisi 'pahlawan' dalam KBBI versi daring: seseorang yang menunjukkan sifat berani. Dari pengamatan saya selama kurang lebih delapan tahun ini, semakin dekat saya mengenal mereka, semakin jelas terlihat sisi kepahlawanan mereka. TKI di Taiwan dan beberapa kasus TKI di Hong Kong menjadi fokus dalam tulisan ini. 

1. Berani Mati: Berita meninggalnya TKI sering muncul di news feed Facebook saya, ditambah lagi dengan berita-berita di media massa. Mereka berangkat ke negeri asing yang jauh, siap menghadapi segala tantangan di negara tujuan, demi masa depan. Ancaman terhadap jiwanya mungkin berkaitan dengan kekejaman majikan, kecelakaan kerja, bencana alam, konflik pribadi maupun antar golongan. Berbeda dengan  tantangan sama yang juga pasti ada di negara sendiri, tantangan di luar negari jauh lebih kompleks. TKI biasanya punya mental yang lebih kuat, nyali yang lebih besar karena pengalaman hidup mereka. 

2. Berani Mendobrak:  Stigma (penilaian buruk) terhadap TKI merupakan tantangan mental bagi putra-putri bangsa untuk bekerja di luar negeri. Bayangkan ketika keluarga, suami atau istri menentang keras karena khawatir akan anggapan tetangga bila ada anggota keluarga mereka yang menjadi TKI. Kekangan sosial semacam ini nyata adanya dan harus mereka hadapi sendiri bila ingin merdeka secara ekonomi. Pilihan mereka mungkin hanyalah: 'egp' atau 'tetap numpang makan di rumah mertua'.

3. Berani Sekolah:  Poin ini mematahkan label TKI sebagai tenaga kerja tanpa pendidikan. Banyak TKI yang sembari bekerja juga melanjutkan sekolah mereka. Pilihan mereka mulai dari Paket C hingga universitas, melalui program Universitas Terbuka  maupun kuliah di universitas lokal. Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita TKI yang berhasil mengumpulkan modal dan meraih cita-citanya mendapatkan gelar Doktor.

4. Berani Berorganisasi Banyak organisasi didirikan TKI di negera tempat mereka bekerja. Mulai dari organisasi agama, kesenian, maupun perserikatan berdasarkan asal daerah. Salah satu organisasi yang bernafaskan perjuangan TKI di Taiwan adalah Ikatan Pekerja Indonesia Taiwan (IPIT).

5. Berani Mandiri : Mereka yang nekad mempertaruhkan nyawa bekerja di negeri orang, tanpa bekal wawasan yang cukup, tanpa kenalan apalagi saudara, adalah manusia-manusia yang mandiri. Mereka mampu menghidupi (setidaknya) diri mereka sendiri sehingga tidak menjadi beban ekonomi bagi keluarga mereka. 

6. Berani Berkarya dan Berprestasi:
Banyak TKI pencinta seni yang rajin mempromosikan budaya daerah, seperti tari tradisional Indonesia, kepada masyarakat lokal di negara penempatan masing-masing. Saya tahu satu kelompok yang sampai diundang oleh pemerintah Taiwan untuk tampil dalam acara resmi. Contoh lain, Reog Ponorogo yang ditampilkan oleh TKI yang tergabung dalam Paguyuban Seni Reog Singo Barong Taiwan memenangkan piala Pemerintah Taiwan 2015  yang lalu.
+ Dalam bidang seni musik dan seni suara, entah didorong oleh rasa rindu pada kekasih di tanah air, atau memang bermaksud mengembangkan bakat, banyak TKI  yang berani tampil di komunitasnya . Kualitas musik mereka tak kalah dengan para musisi dan penyanyi di tanah air. Aliran musik mereka pun beragam, mulai dari metal cadas, dangdut, pop, hingga qhosidah. Salah satu grup band TKI yang sudah merilis album di Taiwan adalah Pandawa Band, dengan album perdananya “Mengejar Sejumlah Bintang”. 
+ TKI yang berbakat dalam bidang  sastra memiliki blog pribadi serta aktif menulis dalam akun media sosialnya juga tidak sedikit. Bahkan ada yang sudah menerbitkan buku dan menyalurkan keuntungan dari penjualan bukunya untuk membuka perpustakaan di kampung halamannya. Di antara mereka ada juga yang pernah memenangkan kejuaraan menulis yang diselenggarakan oleh Pemerintah Taiwan. Pekerja di tanah air yang mencibir TKI, belum tentu bisa menghasilkan karya  seperti itu.  

TKI Sastra
Justo Lasso, seorang TKI yang aktif sebagai penulis, berbicara dalam sebuah pelatihan penulisan.
Foto oleh Empat Arah

+ Seorang TKW di Taiwan adalah atlet Taichi dan memenangkan beberapa kejuaraan di sana.

TKI Taichi
The Fourth World Cup Tai Chi Chuan Championship 2012, Indonesia, diwakili oleh Eulis Komariah, TKW di Taiwan menduduki peringkat kedua.
Foto Dokumen Pribadi
TKI Taichi 5
The Fifth World Cup Tai Chi Chuan Championship 2014. Indonesia, diwakili Eulis Komariah, TKW Taiwan menduduki peringkat pertama.
Foto Dokumen Pribadi

Selain 'keberanian', TKI juga memiliki ketrampilan seperti: kemampuan berbahasa asing, pengetahuan tentang budaya setempat, pengetahuan medis bagi yang merawat lansia, orang cacat, atau orang sakit, dan pengetahuan pengoperasian alat berat bagi mereka yang bekerja di pabrik. 

Menurut sosiolog Perancis, Pierre Bordieu, pengetahuan dan ketrampilan seperti itu merupakan modal budaya yang berharga dan memiliki nilai ekonomis. Keadaan ini mestinya membuat status sosial mereka naik ke kelas yang lebih tinggi. Mereka punya modal khusus yang diperoleh dari pengalaman bekerja di luar negeri yang belum tentu dimiliki oleh mereka yang katanya berpendidikan, berselera tinggi, lebih santun, dan berkelas sosial menengah atas yang wawasannya seputar dinding tembok rumah sendiri saja. 

Mereka mampu menyentuh bagian yang paling dalam dari masyarakat setempat, yang bisa jadi, kurang terjangkau oleh para Duta Besar dan Kepala Kantor Dagang. Kemampuan “merayu” negara lain melalui tindakan moral para TKI kepada majikan dan keluarganya melalui pemenuhan tugas dengan hasil mengesankan. Ini merupakan salah satu bentuk soft power (kemampuan mempengaruhi pendapat orang lain tanpa kekerasan, suatu konsep yang dicetuskan oleh Joseph Nye dari Universitas Harvard) yang patut dipandang sebagai kekuatan Indonesia. 

Bila  mereka ditanya, sebagai pahlawan dengan sejumlah atribut keberanian itu, siapa yang akan mereka bela? Mereka akan menjawab:  diri mereka sendiri, kemudian orang yang mereka sayangi, seperti suami/istri, anak, dan orang tua. Secara tidak langsung, mereka sebenarnya membela negara Indonesia. Kok bisa? Ya, karena pada saat mereka bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat di negara lain, seperti mengasuh lansia, merawat balita, dan bekerja di pabrik, mereka mewakili negara kita. Orang-orang asing tersebut melihat Indonesia dari kinerja dan perilaku mereka. Hal ini menunjukkan bahwa TKI merupakan ujung tombak dari kebijakan diplomatik Indonesia yang selayaknya tidak hanya dianugerahi gelar Pahlawan Devisa, yang mengkotakkan peran mereka hanya dalam segi ekonomi; tetapi juga sebagai Pahlawan Diplomatik, karena mereka mewakili kehadiran Indonesia di tengah-tengah masyarakat di negara tempat mereka berada. 

Seperti pahlawan yang pulang dari peperangan membawa kemenangan, demikian pula hendaknya TKI disambut di tanah air. Kehadirannya dirayakan, kisahnya dielukan, dan perannya diartikulasikan. Mereka adalah pahlawan dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya katanya. TKI yang pulang tentu layak berbangga tanpa harus menjadi tinggi hati.

Masih berpikiran buruk tentang TKI? Mungkin anda kurang piknik.

 

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.