Tidak Seindah Perkiraan (Bagian 2)

Sebelumnya: Tidak Seindah Perkiraan (Bagian 1)

Saya menikah setelah bekerja enam bulan di desa S. Suatu sore beberapa hari setelah saya kembali dari cuti, saya memeriksa buku catatan pasien yang berkunjung ke rumah. Saya mencatat nama pasien, desa asal mereka, diagnosa, terapi yang saya berikan, dan … utang mereka. 

Kepada Pak Guru saya pernah bertanya, bagaimana warga desa menerima surat yang ditujukan kepada mereka. Tidak ada nama jalan apalagi nomor rumah penduduk. Kata Pak Guru, kiriman diantarkan dengan mobil atau ojek sampai ke desa yang dituju. Akan ada saja orang yang membawa pengantar surat ke si penerima. Mereka kenal nama sesama warga. Jarak pun tak ada ukuran pasti. Kalau saya bertanya jarak antara desa A dengan desa B, jawabannya bukan sekian kilometer, tapi “enam jam perempuan” atau “empat jam laki-laki”… dengan ukuran kecepatan berjalan kaki tentu saja. 

Ada orang yang mengetuk pintu. Dari jendela saya bisa melihat Bu Fatiya (bukan nama sebenarnya) dan putranya yang sudah remaja. Saya membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk. Saya kurang kenal Bu Fatiya dan tidak ingat anaknya ada berapa. Saya kenal putranya ini karena pernah dibawa berobat ke puskesmas. 
Saya: Siapa yang sakit, Bu? 
Bu F: Anak saya, Bu Dokter, si Nifa. (Nifa pun bukan nama sebenarnya)
Saya: Mana dia? 
Bu F: Di rumah, Bu Dokter. Ibu ikut ke rumah sebentar ya, Bu. 
Saya: Bagaimana keadaan Nifa? 
Bu F: Muntah-muntah terus, Bu. 
Saya: Sudah berapa lama? Kenapa gak dibawa ke sini? 
Bu F: Dia … aaa … eee… ada kurang-kurangnya, Bu. 
Saya: Oh oke… Tunggu sebentar.

Saya ambil tas alat untuk memeriksa pasien dan obat-obatan. Saya masukkan senter ke dalam tas. Hari masih terang, tapi mungkin saat saya pulang sudah gelap. Saya sudah mengunci pintu rumah ketika ingat harus mematikan api kompor, karena saya sedang memasak nasi. Saya harus sambung menanak nasi yang belum matang itu nanti sekembali dari rumah Bu Fatiya. 

Dapur
Dapur 1 X 1 meter
​​​​​​

Tadi pagi hujan dan tanah becek. Jadi saya pakai sandal jepit. Anak Bu Fatiya berjalan di depan dan kami berjalan beberapa langkah di belakangnya. Bu Fatiya berkata dengan suara seperti orang berbisik: Saya pikir Nifa hamil, Bu. 
Saya: Nifa yang bilang? Kapan haid terakhirnya? 
Bu F: Tidak. Saya tadi bilang sama Bu Dokter dia ada kurang-kurangnya. Nanti Ibu lihat sendiri. Dia belum menikah, Bu. 
Saya: Wah. Kalau dia belum menikah mengapa Ibu pikir dia hamil? 
Bu F: Karena dia muntah-muntah itu seperti muntahnya orang hamil. Saya lihat badannya juga makin gemuk. Saya jadi curiga. Tapi dia tidak mengaku. 

Sungguh saya tidak tahu mau bilang apa. Akhirnya kami berjalan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Rumah Bu Fatiya agak jauh dari “pusat” desa, tapi tidak jauh sekali. Halamannya besar, rapi, dan penuh bunga. Di desa S, tidak banyak rumah yang ada tanaman di halamannya, apalagi bunga. Sebagian sawah penduduk dekat dari rumah mereka, tapi banyak juga yang harus berjalan hingga berjam-jam untuk sampai di sawahnya. Mereka berangkat ke sawah pagi-pagi dan kembali ke rumah setelah matahari hampir terbenam. Tidak ada waktu untuk menanam bunga. 

Saya dibawa ke kamar Nifa. Gadis itu sedang berbaring di atas tikar di bawah jendela ketika kami masuk. Rumah Bu Fatiya termasuk “bagus” dibandingkan dengan rumah penduduk lain yang pernah saya masuki. Cahaya matahari sore masuk dari jendela dan menerangi separuh wajahnya. Saya langsung bisa melihat bahwa Nifa adalah seorang gadis dengan keterbelakangan mental. Saya menyapanya dengan lembut dan mengatakan padanya bahwa saya akan memeriksa dia. Dia tidak menjawab. Matanya melihat ke arah lain. Setelah menanyakan gejala-gejala lain dan melakukan pemeriksaan fisik, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan tes kehamilan. Dalam tas dokter saya selalu ada HCG test strip (tes kehamilan). Hasil tes positif sesuai dengan perkiraan Bu Fatiya. 
Saya: Nifa memang hamil, Bu Fatiya. 
Bu F: Saya sudah tahu, Bu. Hanya ingin memastikan saja. Tadinya saya berharap saya salah. Berkali-kali saya tanya dia siapa yang lakukan, dia tidak menjawab. 

Malam itu keyakinan saya bahwa orang desa itu semua baik dan alim terguncang hebat. Mungkin anda juga akan berpikir sama jika anda melihat sendiri kondisi fisik dan mental Nifa.

Baca lanjutannya: Tidak Seindah Perkiraan (Bagian 3)

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Baca juga tulisan sebelumnya:...

Rose Chen

Hari pertama di Chiang Mai dimulai dengan shopping di Maya Lifestyle Shopping Center...

Rose Chen

Pulau Keelung (Keelung Islet) adalah pulau kecil yang terletak lima kilometer dari...

Rose Chen

Di Taiwan sayur paku sarang burung adalah kegemaran orang lokal. Biasanya mereka tumis dengan...

Rose Chen

Mungkin banyak yang belum pernah makan umbi bunga lily (bunga bakung). Umbi bunga lily bisa...

Rose Chen