Frame of Mind

Kamis, 4-1-2018

“Look out a window. You see an entire scene. It has meaning for you. The meaning will depend upon your understanding and on the knowledge you have from what you have observed.”

“Pandang keluar jendela. Anda akan melihat satu pemandangan yang menyeluruh. Pemandangan itu memiliki arti tertentu bagi anda. Makna pemandangan itu tergantung pada pengertian dan pengetahuan anda yang anda dapat dari segala hal yang anda amati.”

Begitu satu paragraf singkat yang saya baca dari sebuah buku lama. Saya meneruskan membaca beberapa paragraf lagi tetapi kemudian saya kembali ke paragraf ini. Menarik karena akhir-akhir ini sering saya baca kata “frame” dipakai di internet. Frame berarti bingkai, seperti pada bingkai jendela, bingkai lukisan di dinding, bingkai kacamata, bingkai foto….

Malam ini saya ingin membahas tentang “frame of mind” (kita sebut saja 
FOM) atau “mindset”, BUKAN tentang “framework of thinking”. Menurut Longman Dictionary of Contemporary English, frame of mind adalah “the way someone is thinking and feeling at a particular time” - cara berpikir seseorang pada waktu tertentu. Sedang menurut Collins English Dictionary, FOM adalah “the mood that you are in, which causes you to have a particular attitude to something” - suasana hati anda, yang mendasari perilaku/sikap anda terhadap satu hal.

FOM seseorang adalah perilaku mental atau pendapat-pendapat orang tersebut mengenai sesuatu yang terbentuk dari pengalaman, pendidikan, tumbuh kembang, dan/atau budaya. FOM kita mempengaruhi perilaku kita, pandangan kita terhadap dunia sekitar dan diri kita sendiri. FOM menentukan sikap dan mempengaruhi dalam membuat keputusan. Bisakah FOM kita berubah? Bisa! Saya dulu tidak suka makan daun kemangi. Pertama kali saya makan daun kemangi di Surabaya, dihidangkan mentah. Kemudian saya makan daun kemangi di Taiwan, didadar dengan telur, ditumis dengan kerang, dimasak dengan terong, dan mie kuah Vietnam Pho tanpa daun kemangi bagaikan malam gelap tanpa bintang. Pengalaman makan daun kemangi yang dihidangkan dengan berbagai variasi adalah informasi baru bagi otak saya. Informasi baru ini mengubah attitude saya terhadap daun kemangi.

Seorang yang sudah berumur lebih sulit untuk mengubah kebiasaannya. Pernah dengar istilah “comfort zone (zona nyaman)”? Begitulah FOM seseorang, walau bisa berubah, tetapi sulit terutama jika menyangkut sesuatu yang sudah lama menjadi kepercayaan atau kebiasaannya. Akibatnya, bila ada yang mencoba memberikan informasi baru yang dicurigai bisa mengubah kepercayaan yang sudah mendarah-daging ini, orang yang tidak cukup "stabil" dan "percaya diri" akan merasa zona nyamannya terancam. Dia akan segera membentengi dirinya dengan segala cara demi menjaga "keamanan"nya.

Setiap saat pikiran kita mencerna informasi (yang didapat dari pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan). Informasi ini mempengaruhi FOM kita. Dengan FOM ini kita berpikir. Pikiran kita menentukan kepercayaan dan sikap (attitude) kita. Dengan pikiran, kepercayaan, dan perilaku ini kita bertindak . Tindakan menimbulkan pengalaman baru. Pengalaman baru menghasilkan informasi baru. Informasi mempengaruhi FOM. Dengan FOM kita menilai kejadian, orang lain dan diri kita sendiri. FOM juga bisa membuat kita berprasangka. 

Orang yang keras kepala tidak bersedia merubah FOM walaupun FOM itu bisa berubah. Orang “besar” berpikiran terbuka dan selalu suka belajar. FOM mereka berkembang sesuai dengan nilai-nilai baru yang dia pelajari.

Frame of Mind

Catatan: Tulisan ini pertama muncul sebagai note di akun Facebook penulis.

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.