Vaksinasi - Tanggung Jawab Sosial

Minggu, 20-8-2017

Orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Kita mau memberi mereka pendidikan yang terbaik yang kita mampu berikan. Juga yang terbaik lainnya buat membuat anak bahagia. Tapi ada satu hal yang tidak kalah pentingnya - kesehatan. Kita dapat menjaga kesehatan anak kita dengan upaya pencegahan penyakit. Vaksinasi adalah salah satu cara mencegah penyakit menular dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh. Vaksin adalah zat antigen, bisa bibit penyakit yang telah dilemahkan, atau bagian dari bibit penyakit yang paling sering menyebabkan penyakit, ataupun racun yang telah diubah sedemikian rupa sehingga tidak toksik lagi tetapi tetap mampu menimbulkan reaksi perlawanan dari tubuh.

Vaksinasi 2
Vaksinasi Measles (Campak) dan Rubella. 
Foto oleh Dr. Devi Wallad

Tubuh yang mendapat vaksin akan bereaksi dengan membentuk antibodi sehingga bila kelak tubuh terpapar oleh penyebab penyakit sebenarnya, tubuh sudah siap untuk melawan. Reaksi tubuh setelah vaksinasi ini disebut imunisasi (proses menjadi imun/kebal). Efek berlebihan seperti alergi, sangat jarang ditemukan. 

Karena kemajuan ilmu kedokteran, kini makin banyak penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Bahkan ada penyakit yang telah punah karena vaksinasi, misalnya cacar (variola/smallpox). Cacar telah ada sejak tiga ribu tahun yang lalu dan merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti, sebab angka kematian akibat cacar mencapai 30 persen dari semua kasus. Berkat keseriusan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) yang menyelenggarakan vaksinasi cacar global, kini anak-anak kita tidak akan pernah menderita penyakit cacar lagi. Kasus cacar terakhir ditemukan di Somalia pada tahun 1977. 

Kematian terakhir akibat cacar adalah pada tahun 1978 akibat kecelakaan di laboratorium di Inggris. Kejadian ini mendapatkan perhatian internasional karena sangat mengenaskan dan seharusnya tidak terjadi. Janet Parker— fotografer kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Birmingham, sering bekerja di kamar gelap (ruang cuci film dan cetak foto) di atas laboratorium, tempat para ilmuwan sedang melakukan penelitian virus cacar whitepox. Janet jatuh sakit dan akhirnya didiagnosa menderita Variola major, tipe cacar paling ganas. Dia dirawat di rumah sakit. Orangtua dan semua yang dekat dengannya dikarantina. Janet kemudian meninggal dan harus dikremasi untuk mencegah virus dalam tubuhnya hidup terus dalam tanah di mana dia dikubur jika tidak dikremasi. Hari itu semua penguburan di daerah itu dibatalkan. Krematorium, mobil pembawa jenazah dan lain-lain yang ada kontak dengan tubuh Janet dibersihkan dengan sangat teliti. Karena kasus ini, 260 orang dikarantina di beberapa rumah sakit, 500 orang dikarantina dalam rumah selama 2 minggu; petugas kesehatan kemudian melakukan fumigasi (pengasapan) atas rumah tempat Janet tinggal. Dari semua yang dikarantina, hanya ibu Janet yang sakit juga tetapi dia akhirnya sembuh. Petugas laboratorium dikarantina selama 2 bulan. 

Setahun kemudian, kampus Fakultas Kedokteran bagian Timur (tempat laboratorium itu berada) difumigasi lagi. Bagian rumah sakit di mana Janet meninggal ditutup selama lima tahun setelah kematiannya, semua perabotan di dalamnya dibiarkan tidak tersentuh. Kira-kira setelah seminggu dalam karantina di rumahnya, Profesor Henry Bedson— Kepala Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Birmingham— menyayat tenggorokannya sendiri dan meninggal beberapa hari kemudian. Dalam catatan bunuh diri dia menulis: Maafkan saya karena telah mengecewakan teman-teman dan kolega yang telah mempercayakan kepada saya pekerjaan ini.”
Cacar diumumkan resmi punah pada tahun 1979.

Polio pernah “punah” dari bumi Indonesia selama sepuluh tahun yakni sejak tahun 1995. Pada bulan Maret 2005, kasus polio muncul kembali ketika seorang anak berusia 18 bulan- yang tidak pernah mendapatkan imunisasi polio sebelumnya - terserang virus polio yang tentu saja kemudian menular ke anak-anak lain yang tidak pernah diimunisasi. 

Sejak pertama kali vaksin polio diperkenalkan pada tahun 1955, kasus polio makin berkurang. Pada tahun 1988, diperkirakan ada sekitar 350.000 kasus polio di seluruh dunia, tetapi pada tahun 2016 hanya ditemukan 37 kasus.

Di sini kita bisa melihat pentingnya imunisasi dilaksanakan. Vaksinasi melindungi anak kita dari penyakit yang berbahaya yang bisa menyebabkan komplikasi seperti amputasi, lumpuh, kehilangan pendengaran, kerusakan otak, dan bahkan kematian. Tujuan vaksinasi bukan hanya untuk melindungi keluarga kita sendiri tetapi juga semua manusia di muka bumi ini. Penularan dari seorang penderita adalah masalah kemasyaratan, problem sosial. Kesehatan masyarakat adalah tanggungjawab pemerintah, karena itu pemerintah menyediakan banyak program kesehatan termasuk vaksinasi.

Vaksinasi Dengue
Dr. Devi Wallad saat uji klinik vaksin demam berdarah (dengue)

Vaksinasi yang disediakan di puskesmas adalah BCG (untuk penyakit tuberculosis), DPT (untuk penyakit diphteri, pertusis, dan tetanus), Polio, Hepatitis B, dan campak. Jadwal imunisasi ada di buku tumbuh kembang anak yang biasanya didapat dari dokter sewaktu ibu melahirkan di rumah sakit. Bayi yang lahir dari ibu yang darahnya mengandung virus hepatitis B, harus divaksinasi dalam 12 jam setelah lahir. Virus Hepatitis B dapat menyebabkan infeksi seumur hidup, kerusakan hati, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Kesulitan yang dihadapi dalam melakukan vaksinasi:

1. Kesalahan konsepsi bahwa vaksin polio mengandung zat yang haram untuk umat Islam.
2. Kesulitan menjangkau anak-anak yang tinggal di daerah sangat terpencil.
3. Kesalahan informasi bahwa vaksinasi bisa menimbulkan efek samping yang parah.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 4 Tahun 2016 menyatakan bahwa imunisasi adalah mubah sebagai bentuk ikhtiar dalam mewujudkan kekebalan tubuh.

Vaksinasi

Begitulah seriusnya yang berwenang menangani penyakit menular, masihkah kita yang tinggal menikmati hasil kerja mereka menyia-nyiakan jerih payah mereka yang bertarung dengan nyawa melakukan penelitian untuk menghasilkan kesehatan bagi seluruh umat manusia? Mudah-mudahan tidak ada lagi yang menganggap vaksinasi tidak perlu dilakukan.

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.