Jadi Turis di Kamboja: Beng Mealea dan Kampong Phluk

Jumat, 10-3-2017

Setelah makan siang yang sangat enak dengan harga terjangkau (US$50 untuk enam orang) di dekat Kbal Spean, kami melanjutkan perjalanan selama satu jam menempuh jarak sekitar 50 km ke arah tenggara, menuju Kuil Beng Mealea.

Beng Mealea

Denah

Tiket: US$ 5 per orang, tidak termasuk dalam Angkor Pass.
Beng Mealea berarti “kolam teratai”. Saya belum sempat membaca banyak mengenai Beng Mealea sewaktu mengunjunginya karena ia dimasukkan ke dalam jadwal perjalanan kami pada hari terakhir sebelum berangkat. Tetapi saya tidak menyesal karena begitu tiba saya berpikir, “Wow! Ini jauh lebih ‘grand’ dari Ta Prohm.” Pepohonannya lebih kecil dari pepohonan di Ta Prohm, tetapi lebih banyak. Perasaan saya begitu melihatnya mungkin seperti perasaan penyelam yang menemukan kapal yang karam ratusan tahun lalu dan di dalamnya penuh harta karun. Tidak ada “harta karun" di reruntuhan kuil Beng Mealea, tetapi nilai pahatan-pahatannya mungkin tidak kalah dengan peti harta karun perompak laut.
Tumpukan reruntuhan berpadu dengan bagian bangunan kuil yang masih berdiri dan alam yang seperti mencoba mengambil alih kekuasaannya dari manusia dengan akar dan dahan yang menyelinap di setiap celah yang ditemukan, lumut yang mengerak di bebatuan …

Beng Mealea
Reruntuhan yang "rapi".

Berabad-abad terlantar dan juga karena sulit dijangkau, Beng Mealea tidak terawat. Walau sekarang jalan sudah dibangun dan turis mulai berdatangan, restorasi masih jauh dari selesai. Begitupun, reruntuhan Beng Mealea masih sanggup memberi gambaran akan kemegahannya di zaman dulu.

Jalan Masuk
Jalan masuk dari selatan.

Moat (parit besar) yang mengelilinginya berukuran 1,025 m X 875 m. Lebar parit: 45 m.

Moat
Jalan masuk “dikawal” oleh Naga (Bahasa Sansekerta- naga artinya kobra). Menurut kepercayaan rakyat India, naga melindungi sumur dan sungai, membawa berkah hujan dan kesuburan.

Tidak ada kepastian kapan Beng Mealea ini dibangun. Melihat gaya arsitekturnya, diperkirakan pada masa pemerintahan raja Suryavarman II di awal abad XII. Beng Mealea dimasukkan dalam Daftar Sementara UNESCO World Heritage pada tanggal 1 September 1992.

South Gopura
Gopura Selatan dari Enclosure ketiga.

Masuk dari gerbang selatan, kita melewati paviliun timur. Pedimen di atas pintu utara dari paviliun timur menggambarkan kisah Rama dan Sita. Di tengah adalah Dewi Sita ketika akan dibakar untuk membuktikan kesuciannya kepada Rama setelah bebas dari cengkeraman Rawana. Di atasnya ada Rama diapit oleh Lakshmana dan Hanuman. Di atas Rama adalah Dewa Api Agni Pariksha yang menolong Sita.

Rama & Sita
Kisah Sita membuktikan kesuciannya terukir di pedimen pintu paviliun timur.

Setelah melalui paviliun timur, kita akan melihat bangunan perpustakaan.

Southeast Library
Perpustakaan tenggara di Enclosure ketiga.
Galeri
Galeri Enclosure ketiga.

Ada banyak tangga dan “jembatan” kayu (awalnya dibangun untuk pembuatan film “Two Brothers” pada tahun 2004) yang mempermudah kita menjelajahi kuil. Mungkin bagi penjelajah jembatan kayu ini terasa agak “menodai keindahan” tetapi ia perlu untuk keamanan.

Jembatan
Menyusuri Enclosure ketiga.

Pahatan “Churning of the Sea of Milk” (Mengaduk Samudra Susu) ada di hampir semua kuil Angkor. Dalam bahasa Sansekerta namanya adalah Samudra manthan atau Sagara manthan. Churning of the Sea of Milk mengisahkan bagaimana Dewa Wisnu mencoba mendamaikan pertarungan antara Dewa (si Baik) dan Asura (si Jahat) yang telah berlangsung ribuan tahun. Mereka bekerjasama mengaduk samudra susu untuk menghasilkan Amrita (cairan pemberi hidup kekal) dengan menggunakan ular berkepala lima- Vashuki sebagai tali yang diikatkan ke Gunung Mandara. Gunung Mandara mulai tenggelam. Dewa Wisnu segera berubah menjadi penyu Kurma dan menyanggah Gunung Mandara dengan punggungnya.

Churning
Pahatan "Churning of the Sea of Milk" di lantai jembatan di enclosure pertama yang berasal dari perpustakaan timur laut.

 

Tangga
Memandang Enclosure kedua dari atas menara.

Tips 
1. Sebaiknya datang pagi-pagi agar tidak berada di sana bersama begitu banyak turis Cina yang datang dengan bus dan kebanyakan sangat berisik. Kami salah menyusun jadwal, datang di siang menjelang sore hari.

Chinese Tourist
Selain berbicara dengan suara keras, turis-turis ini "menguasai" photo spot tidak memberikan kepada orang lain kesempatan untuk berfoto.

2. Berhati-hati jalan karena banyak reruntuhan.

Hati-hati

3. Bawa senter atau gunakan telepon genggam anda untuk menerangi terowongan yang gelap.

Gelap

4. Bila anda tinggal di kota Siem Reap (sekitar 65 km dari Beng Mealea), sebaiknya anda naik mobil. Tuktuk bisa tetapi lambat.
5. Bila waktu anda terbatas, pilihlah tujuan perjalanan dengan baik. Saya menyukai Beng Mealea, belum tentu anda menyukainya juga.

Kampong Phluk

Kampong Phluk
Kampong Phluk

Dari Beng Mealea kami bermobil menuju Kampong Phluk, 60 km ke arah barat daya. Setelah melewati loket tiket, kami melalui jalan tanah yang katanya baru digunakan lima bulan terakhir (kami berada di sana pada akhir Januari 2017) sebelum mencapai tempat perahu menunggu. Jalan ini akan tertutup banjir di musim hujan dan transport air dimulai sejak di loket tiket.

Jalan Baru
Jalan baru khusus untuk musim kemarau.
Pelabuhan
Di musim kemarau, perahu menunggu turis di sini.

Kampong Phluk adalah sebutan untuk gabungan dari tiga desa (floating villages) dengan rumah-rumah panggung yang berdesakan di pinggir Tonle Sap (Danau Besar) yang dilanda banjir setiap musim hujan. Mungkin karena tiang-tiang tinggi (ada yang mencapai 10 m) yang menyangga rumah panggung itu maka desa itu disebut Kampong Phluk yang artinya “pelabuhan taring” - mungkin.

Phluk
Kampong Phluk - Desa Terapung (Floating Village).

Berbeda dengan kuil Beng Mealea yang mendapat lima bintang dan menduduki ranking 10/184 --hal yang harus dilakukan di Provinsi Siem Reap, dari situs tripadvisor-- Kampong Phluk hanya mendapat empat bintang dan ranking 55/179. Saya merasa ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Naik kapal motor mengelilingi desa, melihat rumah penduduk, kehidupan penduduk, dan terakhir ... matahari terbenam yang sangat indah. Ombak semakin tinggi seiring matahari tenggelam dan lenyap ditelan kebesaran Tonle Sap.

Sunset

Kami tidak perlu membayar biaya tambahan untuk kapal motor yang membawa kami melihat desa dan matahari terbenam karena sudah tercakup dalam perjanjian sewa mobil. Jika anda harus membayar sendiri, hati-hati ketika tawar menawar. Sebaiknya jangan langsung menyetujui harga pertama, karena mereka cenderung meminta ongkos yang sangat mahal. Biasanya turis dibawa hingga ke satu tempat di mana banyak restoran terapung. Mereka sering pura-pura tidak bisa berbahasa Inggris dan dengan bahasa tubuh meminta kita turun untuk makan sambil melihat matahari tenggelam. Pegawai restoran akan menyarankan kita ganti kapal yang lebih besar untuk melihat hutan bakau terapung atau peternakan buaya. Kami menolak semua karena merasa makan di sana pasti mahal sekali. Hari sudah mulai gelap karena kami terlambat tiba walau sempat juga melihat matahari tenggelam. Hutan bakau bisa terlihat sekeliling desa waktu berkapal. Traveler yang kurang berpengalaman mungkin akan masuk restoran karena berpikir itu adalah bagian dari perjalanan.

Bakau
Hutan Bakau

Tiket resmi hanya US$ 1 untuk turis lokal, dan berbeda-beda untuk turis asing. Jika tidak suka tawar menawar, sebaiknya ikut tour.

Tips
Bila menemukan supir tuktuk yang baik, pakailah dia sepanjang anda berada di Siem Reap. Banyak supir tuktuk yang baik, tetapi banyak juga yang membawa kita ke restoran atau tempat di mana dia mendapat komisi padahal makanannya tidak enak. Supir mobil kami orangnya jujur dan baik. Saya bisa memberi nomor kontak bila anda memerlukannya.

SaveSave

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.