Jadi Turis di Kamboja: Angkor Thom dan Phnom Bakheng

Rabu, 1-2-2017

Setelah melihat matahari terbit di Angkor Wat di pagi pertama kami di Siem Reap, Kamboja, kami mengunjungi Ta Prohm. Dari Ta Prohm kami langsung menuju ke Bayon, Angkor Thom.

Angkor Thom

Angkor Thom adalah ibukota terakhir dari pemerintahan Khmer di Kamboja. 
Di dalam kota seluas 9 kilometer persegi yang dibangun pada akhir abad XII ini terdapat istana dan tempat tinggal raja dan keluarganya, serta petinggi kerajaan. Di situ ada banyak kuil besar dan kecil. Rakyat tinggal di luar tembok Angkor Thom. Karena pertimbangan waktu, kami hanya mengunjungi kuil utama yaitu Bayon. Sebelum mencapai Bayon, kami singgah sebentar di Terrace of the Elephants dan Prasat Suor Prat. Kami tidak masuk ke dalam Phimeanakas (kuil utama pada masa pemerintahan raja Suryavarman I) maupun Baphuon — tujuh menit jalan kaki di sebelah Barat Prasat Suor Prat.

Terrace of the Elephant

Bermobil tujuh menit dari Ta Keo ke arah Barat, kami sampai di kuil Phimeanakas, Angkor Thom. Kuil Hindu berbentuk piramid tiga tingkat ini dibangun akhir abad X pada masa kekuasaan raja Rajendravarman (941-968) dan kemudian diselesaikan oleh raja Suryavarman I.

Terrace of the Elephants adalah teras sepanjang 350 meter bagian dari Phimeanakas yang digunakan Raja Jayavarman VII sebagai tempat menyaksikan perayaan atau melihat tentaranya yang pulang setelah menang perang. Dinamakan demikian karena ukiran gajah di dindingnya.

Terrace of Elephants
Terrace of the Elephants

Terrace of the Leper King dibangun bersama dengan Terrace of the Elephants. Orang Kamboja menyebutnya Dharmaraja. Disebut Terrace of the Leper King karena pada abad XV di sana ditemukan patung dewa kematian Hindu- Yama, dalam keadaan kotor penuh lumut dan warnanya sudah berubah mirip orang berpenyakit lepra (kusta). Bangunannya berbentuk huruf U dan diduga adalah tempat kremasi anggota keluarga kerajaan.

Prasat Suor Prat 

Di seberang jalan dari Terrace of the Elephants ada Prasat Suor Prat. Prasat berarti menara (tower). Kuil yang didirikan pada masa kekuasaan Indravarman II ini terdiri dari 12 menara yang tersebar dari utara ke selatan di bagian timur Angkor Thom.

Prasat Suor Prat 
Prasat Suor Prat di seberang Terrace of the Elephants.

Nama menara ini berarti “menara penari di atas tali”. Penduduk lokal percaya menara-menara ini dipakai untuk pertunjukan akrobat bila ada perayaan kerajaan. Ada yang mengatakan untuk menyelesaikan perselisihan antarpenduduk Angkor (“The Customs of Cambodia” oleh Zhou Daguan).

Prasat Suor Prat 1
Prasat Suor Prat

Beberapa menara diperbaiki oleh Japanese Government Team for the Safeguarding of Angkor (JSA) dan Authority for the Protection of the Site and Management of the Region of Angkor (APSARA).

Bayon Temple

Sebenarnya dari Terrace of the Elephants jalan kaki hanya sekitar 10 menit sudah sampai Bayon. Tapi karena kami membawa orangtua dan anak-anak, kami menyewa mobil untuk tiga hari perjalanan. 

Bayon
Kuil Bayon
Bayon 1
Enclosure luar kuil Bayon.

Angkor Thom dianggap sebagai miniatur dari jagad raya dan Bayon adalah penghubung surga dan bumi. Kuil Bayon dibangun pada akhir abad XII sebagai kuil kenegaraan oleh Raja Jayavarman VII. Kuil ini berdiri di tengah-tengah ibukota Jayavarman, Angkor Thom. Setelah Raja Jayavarman wafat, kuil ini berkali-kali diubah oleh raja Hindu dan Buddha Theravada sesuai dengan keperluan kepercayaan mereka. Yang paling menarik dari Kuil Bayon adalah 216 ukiran wajah tersenyum yang terpahat pada 54 menara di bagian puncak kuil. Angkor Wat bergaya klasik, Bayon bergaya baroque dan merupakan kuil terakhir yang dibangun di Angkor. Angkor Wat kelihatan megah dengan ruang terbuka yang luas sedang Bayon terlihat seperti bangunan-bangunan yang dipadatkan.

The Smiling Lokeshvara
Patung Lokeshvara yang sedang tersenyum di kuil Bayon.

Ada banyak ukiran peristiwa bersejarah di dinding luar galeri, sayangnya tidak ada tulisan yang menerangkan tiap ukiran itu. Selain ukiran momen sejarah, juga ada ukiran yang menggambarkan suasana sehari-hari pada masa itu.

Ukiran

Dinding dalam galeri dibangun lebih tinggi dengan ukiran yang ditambahkan pada masa Jayavarman VIII. Ukirannya berbeda dengan ukiran peperangan di dinding luar. Ukiran di sini menggambarkan mitologi Hindu dengan dewa-dewanya. Ada satu seri ukiran raja bertarung dengan ular raksasa, ukiran berikutnya seorang wanita memeriksa tangan raja itu, dan ukiran terakhir, sang raja berbaring sakit. Ukiran-ukiran ini dihubungkan dengan legenda Raja Leper yang menderita lepra karena terkena racun saat pertarungan dengan seekor ular.

Di tengah galeri bagian dalam ada teras yang dibangun lebih tinggi lagi. Di sini ada beberapa menara wajah (Dulu ada 49 menara, sekarang hanya tinggal 37). Pada tiap menara terdapat ukiran dua hingga empat wajah senyum Lokesvara (Buddha). Ke mana saja kita berjalan, serasa diikuti wajah-wajah senyum ini. Seperti orang yang percaya bahwa Tuhan itu omnipresent, Buddha bagi pengikutnya juga ada di mana-mana pada waktu yang sama.

Smiling Lokeshvara

Awal didirikan, ada patung Buddha sedang duduk meditasi setinggi 3,6 meter di tengah-tengah menara pusat setinggi 43 meter. Patung ini pernah dihancurkan pada masa kekuasaan Raja Jayavarman VIII. Ia ditemukan di dasar sumur pada tahun 1933, diangkat dan disatukan kembali. Sekarang bisa dilihat di paviliun kecil di Angkor.

South Gate Angkor Thom
Gerbang Selatan Angkor Thom dengan 48 patung dewa di satu sisi jembatan dan 48 patung setan di sisi lain.

Phnom Bakheng

Dari Kuil Bayon kami menuju ke Phnom Bakheng (phnom artinya gunung) di selatan — enam menit (2,5 kilometer) perjalanan dengan mobil. Bila datang dengan mobil, sebaiknya tiba di tempat parkir sebelum pukul 15.30. Lewat waktu itu, akan sulit mencari tempat parkir. Selain itu kita bisa lebih cepat tiba di gerbang kuil untuk antre. Pengunjung ke atas kuil dibatasi maksimum 300 orang. Sebelum naik kita dikalungi tanda masuk.

Salah satu dari tiga kuil yang dibangun di atas bukit untuk dewa Shiva pada masa kekuasaan Raja Yasovarman (889-910) ini menjadi tempat menikmati matahari terbenam yang populer bagi turis. Phnom Bakheng kemudian diubah menjadi kuil Buddha. 

Sejak tahun 2004 perbaikannya didanai oleh World Monuments Fund bekerjasama dengan APSARA.

Kita harus berjalan menaiki gunung untuk mencapai kuil. Pakailah pakaian dan sepatu yang cocok untuk berjalan jauh.

Phnom Bakheng Trail
Untuk mencapai Kuil Phnom Bakheng harus memanjat gunung Bakheng. 
Phnom Bakheng
Phnom Bakheng
Tangga Phnom Bakheng
Naik tangga yang cukup tinggi ke puncak kuil.
Antri Tangga Phnom Bakheng
Antre naik ke puncak.

Kuil berdiri di fondasi persegi dan menjulang lima tingkat. Pada lapisan teratas ada lima menara pada posisi quincunx dan 104 menara kecil tersebar simetris di keempat tingkatan di bawahnya. Bila dihitung dari tengah setiap sisi, akan terlihat 33 menara. Dalam kepercayaan Hindu, 33 adalah jumlah dewa yang tinggal di Gunung Meru. Menara di tengah kuil melambangkan pusat dunia, 108 menara kecil melambangkan empat fase lunar, masing-masing 27 hari. Tujuh tingkat monumen melambangkan tujuh surga. Tiap teras ada 12 menara melambangkan siklus 12 tahun Jupiter. Menurut sarjana University of Chicago, Paul Wheatley, Phnom Bakheng adalah kalender astronomi pada batu.

Phnom Bakheng 1
Central Tower
Menara Pusat 
Angkor Wat
Pemandangan Angkor Wat dari puncak Phnom Bakheng ada dalam film Tomb Raider.
Sunset Phnom Bakheng
Matahari tenggelam di Phnom Bakheng
Elephants
Bisa juga naik gajah ke atas untuk melihat matahari tenggelam.

Catatan: Nama pemilik mobil yang kami sewa yang juga menjadi supir kami adalah Chhoeun Chantha. Alamat emailnya: chhoeunchantal2@gmail.com. Jika diperlukan, saya bisa memberikan kontak Facebooknya. 

Hari berikut di Kamboja : Preah Vihear dan Koh Ker.    

SaveSave

Tambah komentar baru

Teks polos

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.